Kamis, 25 Desember 2008
MEMULAI PERADABAN DENGAN KONTRA BUDAYA POSITIF
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Perjalanan sejarah manusia tak akan lepas dari peradaban yang senantiasa bergulir dinamis, sains dan teknologi nyaris terus bergerak maju tanpa mengenal batas – batas teritorial dan bahkan ideialisme sampai kepenjuru belahan dunia. Teknologi informasi menjadi titik tolak progresifitas perubahan peradaban yang kian dinamis dan signifikan terutama tiga bidang yang paling dominan yakni mikrocip, komputer dan satelit. Lantas siapakah yang menguasai teknologi saat ini ? menurut UNESCO (dalam Science, Technology and Developing Countries) bahwa Amerika Serikat menumbuhkan dan hampir menggenggam hampir sepertiga dari seluruh riset dan pengembangannya, sepertiga lagi dikembangkan oleh Eropa barat dan Jepang dan hampir sepertiga lagi oleh Rusia. Bagaimana dengan negara muslim? Belum ada satu negara muslim pun yang dijadikan kiblat bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen dari seluruh riset yang dikembangkan didunia ini. Mungkin baru Iran dan Pakistan yang telah memulai mendalami bidang iptek tingkat tinggi yakni teknologi nuklir namun menemukan jalan yang terjal dengan segala kontraversinya.
Zaman seaakan memberi isyarat kepada kita untuk bersiap dan bersikap sedia mengahadapi seleksi global, siapa yang akan berjaya dengan berbagai kemajuan peradaban dan siapa yang akan menjadi penonton atau bahkan menjadi pecundang karena batasan – batasan kepahaman yang seakan menjadi dinding tebal untuk menguasai bidang teknologi informasi. Ajaran Islam yang begitu komprehensif dan fleksible sangatlah mendorong perihal teknologi Informasi namun tinggal bagaimana pelaku yakni umat islam sendiri, jangan sampai hanya bisa membangga – banggakan sesuatu prestasi peradaban yang pernah diraih pada masa keemasan khilafah dinasti Abasiyah namun mesti memulai bergerak membangun peradaban maju dan menatap terbuka terhadap berbagai peningkatan science dan teknologi sehiinga muncul kontra budaya positif walaupun dengan berbagai kontraproduktif. Karena jika tidak demikian umat islam akan sulit bergaul dan menempatkan Din (agama) dan dirinya dalam tataran internasional. Kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia adalah merupakan anugerah yang sangat berharga karena, masa lalu adalah hikmah yang harus diefaluasi untuk perbaikan dan perubahan yang lebih baik, masa kini adalah relitas fakta yang senantiasa menguji kita untuk menjawab secara bijak persoalan – persoalan yang berdatangan, masa depan merupakan mimpi yang harus diraih dengan etape – etape logis dan tawakal serta kesabaran yang tinggi. Dalam surat Al Ashr : 1-3 Allah bersumpah dengan masa/ waktu yang menjadi instrument pokok pencapaian amaliah dan sebuah peradaban, jika manusia mengerti masa peradaban yang sedang dialami maka ia tidak akan merugi, karena ia telah memiliki pertama, kekuatan iman/ optimis terhadap masa yang akan dihadapi, kedua memanfaatkan masa/ waktu dengan amalan produktif, kerja keras, ketiga selalu berusaha lurus terhadap kebenaran dan keempat memiliki kesabaran tinggi yakni gigih, ulet dan pantang menyerah.
Akomoditif Islam Terhadap Peradaban dan Budaya
Ajaran Islam yang universal, komprehensif dan fleksible menjadi motiv (alasan) utama membengun dan mengembangkan budaya, namun sifat akomoditif islam tidak begitu saja menerima sebuah kebudayaan, mengingat setiap agama memiliki zona teologis (aqidah) yang tidak bisa dipaksakan secara doktrinal. Dalam ajaran islam “kalimat syahadat” menjadi poros semangat untuk beribadah, area ini tidak bisa di rubah bahkan digeser sedikitpun, begitupun dengan agama/ keyakinan lain tidak ada yang berkenen dengan pemaksaan pemahaman. Pluralisme menjadi relitas taqdir dari Tuhan untuk diharapkan mengambil hikmah dan mencari jawaban atas segala keberagaman. Ajaran toleransi merupakan suatu jembatan indah dari dua atau bahkan lebih dari beragam pemahaman, keyakinan, perbedaan pendapat atau idealisme yang dapat berfungsi secara mutual simbiosis (saling bermanfaat) bagi kedua belah pihak. Perbedaan tak semestinya disikapi dengan kekerasan atau kekakuan pemahaman serta doktirn taklid terhadap suatu hal yang dapat memetikan kreatifitas dan potensi umat islam sehingga terpasung dan terkungkung dalam penjara mental pemahaman yang setengah – setengah. Membuka pandangan baru secara wahyuniah yang kemudian dilanjutkan dengan implementasi budaya positif akan terasa kontradiktif dengan lingkungan, namun itu adalah awal baik yang seharusnya dimulai untuk membangun peradaban maju. Karena Allah sangat menganjuran kepada manusia untuk melakukan penguasaan ilmu sebagai kunci kesuksesan menjadi kholifah fil Ardh sebagaimana dalam firmannya surat Al Baqoroh : 31-33 sebagai berikut :
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Pesan Ilahi tersebut di atas memberikan pengajaran kepada kita bahwa kita mestilah mengusai apapun yang diajarkan kepada kita, sekali lagi penguasaan ilmu pengetahuan adalah merupakan kuci jawaban sebagai kholifah filardh. Sehingga dapat meyakinkan kepada siapa saja bahwa umat islam memiliki kepampuan dan potensi untuk turut serta membangun dan mengelola bumi ini. Kemudian terlihat pula dari ayat pertama yang turun kepada Rosulullah SAW yakni surat Al Alaq 1-5, ayat tersebut menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan bathin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya yakni iqra’ (baca, riset, teliti), allama (mengajarkan/tranfer ilmu) dan qalam (alat tulis/ alat penyimpan data/ memori).
Sikap Umat Islam Terhadap Kemaujan Peradaban
Umat islam yang benar – benar mengamalkan ajarannya akan sangat inklusif terhadap kemajuan peradaban, disamping itu juga dengan ajaran tasamuh (toleransi) akan mudah bergaul dan bekerjasama dengan semua komponen bangsa yang sehati dan mementingkan kerukunan dan kemajuan bersama. Dengan adanya kemaujuan peradaban yang ditandai dengan derasnya penguasaan sains dan teknologi maka secara garis besar sikap umat islam akan terbagi tiga kelompok :
1. Sikap Distopistik, yakni orang yang lari dari kenyataan, apatis, pesimis menghadapi tantangan zaman, sangat eksklusif terhadap kemajuan bahkan cenderung mengaharamkan iptek.
2. Sikap Utopistik, yakni orang yang memiliki optimisme yang berlebihan, namun memandang persoalan secara parsial, ia berkeyakinan hanya dengan kemoderenan yang bisa menyelesaikan masalah, namun sikapnya cenderung sekuler.
3. Sikap Moderat, yakni orang yang mampu melihat persoalan secara utuh dan komprehensip, sikapnya sangat terbuka terhadap kemajuan iptek (modernitas) tetapi tetap berpegang teguh kepada nilai – nilai Ilahiah (ketauhidan)
Beberapa sikap di atas akan memberikan wacana kepada kita, sejauh mana peranan kita menyikapi sebuah kemajuan peradaban, sudahkan kita memulainya atau bahkan kita akan mengharamkannya dengan adanya kekakuan pemahaman atau kita telah mendewakan teknologi sampai lupa terhadap nilai – nilai ketuhanan. Maka dari itu jika kita masih menonton maka bersegeralah memulai kontra budaya positif yang akan segera mengangkat harkat umat islam dan memang telah menjadi ajaran dan ajakan dari Allah SWT untuk mnguasainya segala disiplin ilmu, sebagaimana diajarkan kepada nabi Adam sebagai kunci kesuksesan khalifah fil ardh. Allah juga telah memberikan pengajaran bahwa setiap urusan kebaikan akan ada pro dan kontra (suka dan benci), orang yang kontradiksi terhadap kita hanyalah orang – orang yang belum nyambung, ada yang terputus dari pemahaman tentang urusan baik yang kita lakukan. Sebagaimana dalam firmanNya :
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al Kautsar : 3)
Dalam mengawali sesuatu bersegeralah memiliki rencana – rencana positif yang berani mengubah diri kita lebih baik, kemudian mengamalkannya dan mensikapi secara progersif dan kreatif sehingga akan lebih nyaman dan menemukan ketenangan serta kepuasan bathin dalam beribadah kepada Allah. Walaupun sikap baik itu terasa kontradiktif terhadap lingkungan sekitar, yang terpenting kita tidak keluar dan diluar dari pada kepentingan agama Allah, agama islam dan ridho Allah SWT. ( Rovich Abidin)
Selasa, 16 Desember 2008
MENCAPAI PUNCAK
KESADARAN BERQURBAN
Oleh : Rofiq Abidin
Secara simbolik qurban adalah merupakan penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi/kerbau, unta) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban juga merupakan ritual estafeta yang pernah diamalkan nabi Ibrahim AS sebagai perwujudan ketaatan total kepada sang khalik Allah Subhanahu Wata’ala. Keputusan Ibrahim AS untuk melaksanakan syariat Qurban dengan melakukan penyembelihan kepada Ismail anaknya yang kemudian diganti domba oleh Allah adalah keputusan berani yang dilandasi oleh keyakinan dan kepatuhan serta kecintaan kepadaNya. Karena pengamalan syariat qurban tersebut menyiratkan refleksi mendalam yang menghasilkan independensi tafkir dan aqidah hingga mencapai puncak kesadaran berqurban.
Mempersembahkan persembahan kepada Tuhan merupakan keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradapan manusia yang beragam mengenal persembahan kepada Tuhan, baik berupa penyembelihan hewan maupun manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu tradisi tersebut. Persembahan suci dengan menyembelih manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Muhammad lahir. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muththalib Bin Hasyim, kakek Rasululluah, pernah bernadzar jika ia dikaruniai karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih salah satu putranya disisi ka’bah sebagai qurban . ketika putranya telah genap sepuluh dan menginjak baligh, maka jatuhlah undian kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish berusaha melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.
Kesadaran Mendasar Untuk Berqurban
Bangkitnya kesadaran berqurban akan dimulakan dari rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Allah yang diberikan selama hidupnya. Karena sesungguhnya nikmat Allah SWT tak akan dapat dihitung, mari kita cermati pesan Ilahi dalam surat Al Kautsar 1-3 :
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus
Setidaknya ada tiga nikmat utama yang mesti kita syukuri, pertama adalah nikmat hidup, kita tidak pernah bercita – cita untuk hidup karena sesungguhnya menghendaki hidup adalah Allah sang maha Pencipta. Kedua nikmat kemerdekaan berfikir, sebagai sesuatu kelebihan dari makhuk apapun yang diciptakan Allah, sehingga dengan akal kita dapat secara merdeka menentukan pilihan jalan hidup yang sekaligus dapat mengetahui resiko logis dari pilihan jalan tersebut. Ketiga, nikmat hidayah iman, menjadi sesuatu yang berharga untuk mengendalikan fikiran dan sikap sehingga dapat menentukan keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Tiga nikmat utama ini telah menjadi alasan utama bagi manusia untuk mensyukuri nikmat Allah disamping nikmat – nikmat Allah yang lain yang tak bisa dihitung. Perasaan syukur yang telah bersemayam dalam dada, semestinya diekspresikan dalam wujud syukur riil yakni sholat dan berqurban, itulah bentuk syukur nyata yang telah dijelaskan sebagai bentuk perintah. Bersyukurlah kita dengan segala kesempurnaan hidup yang telah kita miliki dengan wujud syukur yang riil diantaranya dengan berqurban untuk kemaslakhatan umat manusia.
Refleksi Kesadaran Bersyukur
Kepekaan muslim terhadap lingkungan sekitar akan melantari kesadaran untuk selalu mensyukuri apa – apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pelatihan dan pembelajaran sebenarnya telah disediakan dilingkungan kita, baik ketimpangan – ketimpangan adannya gelandangan, pengangguran, saudara sakit yang berkepanjangan dan apapun keadaan kemanusiaan yang lebih sengsara dari kita. Semua yang terjadi telah ditentukan rumusnya oleh Allah yang maha berkehendak. Maka keadaan kita hari ini adalah kehendak Allah yang harus disyukuri walau mungkin ada yang terasa berat kita rasakan, namun janganlah merasa paling sengsara karena akan dapat menciptakan dinding untuk mensyukuri nimat Allah. mari kita renungkan pesan Ilahi berikut ini :
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al – An’am : 44).
Terkadang seseorang diberi peringatan oleh Allah tidak nyambung, maksudnya tidak ada kepekaan bahwa peringatan yang terjadi itu seolah – olah tidak ada korelasinya dengan perbuatan dosanya. Maka orang yang seperti ini justru akan dibukakan pintu – pintu kesenangan, sehingga ketika ia telah merasa sukses, dan girang dengan kesuksesannya lantaran meninggalkan perintah Allah, maka Allah memberikan siksa dengan sekonyong – konyong (hasil akumulasi dosa yang telah diperbuatnya). Maka ketika itu mereka akan terdiam dan putus asa (terpasung, tidak bisa berbuat apa – apa ). Pesan Ilahi ini memberikan hikmah agar kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sebelum datangnya peringatan Allah yang berwujud tegoran bahkan siksa maka segeralah kita sadar untuk mensyukuri nikmatNya dengan wujud syukur riil, bukan hanya secara verbal semata.
Mencapai Puncak Kesadaran Berqurban
Tingkat kesadaran seseorang untuk berqurban tergantung kepekaan dan empati terhadap lingkungan sekitar. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya qurban. Adapun untuk mencapai puncak kesadaran berqurban sebagaimana yang pernah dipraktekkan Ibrahim AS dan Abdul Muththalib bin Hasyim atau aktion syukur yang lain yang pernah diamalkan untuk kemaslakhatan manusia diperlukan refleksi secara bertahap. Mari kita refleksi jiwa taqwa kita dengan beberapa hal di bawah ini :
1. Melatih Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama dan Lingkungan
Pada setiap ketimpangan sosial yang terjadi memberikan ujian kepekaan nurani bagi kita, sejauh mana jangkauan perasaan kita untuk mengulurkan tangan, melakukan sesuatu kebaikan atau hanya bisa ngersulo tanpa tindaan apa – apa. Maka ujilah empati dan kepedulian kita terhadap ketimpangan – ketimpangan sosial yang terjadi didepan kita dengan amal nyata untuk menggugah kesadaran berqorban.
2. Menggugah Jiwa Itsar
Mendahulukan kepentingan orang lain (Jalan Allah) walaupun dirinya sedang membutuhkan adalah merupakan aksentuasi soaial dan pengertian dari itsar. Sikap itsar ini pernah dipraktekkan oleh kaum anshar kepada kaum muhajirin ketika baru saja melakukan hijrah dari Makkah ke Yasrib, mereka memberikan rumahnya dan membagi harta bendanya serta menawarkan diri untuk menjadi saudara. Fenomena sosial yang terjadi memberikan kita kesempatan untuk melatih jiwa itsar kita sedekat apa perasaan kita terhadap kejadian – kejadian alam dan sekitar. Peduli untuk berbagi adalah merupakan praktek qurban secara kontektual.
3. Membunuh Jiwa Kehewanan
Berqorban secara kontekstual dengan membunuh sifat – sifat kehewanan diantaranya:
Hubud dunya (terlalu cinta terhadap kebendaan) egois, berbuat semaunya (melanggar hukum dan norma – norma), takabur, free sex, membunuh sesama (kejahatan kemanusiaan) , serakah dan lain – lain yang menimbulkan kerusakan. Dengan membunuh sifat – sifat kehewanan maka kita akan mudah tersentuh untuk mensyukuri nikmatNya dalam wujud riil yakni pengabdian/ Ibadah sholat sebagai komunikasi langsung dengan Allah dan Berqurban untuk mendekatkan siri kepadaNya dan kesejahteraan umat.
4. Pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT
Setiap perintah Allah mesti kita yakini sebagai hal positif, tidak ada satupun perintah Allah yang termaktub dalam Al qur’an adalah negatif dan tidak ada keraguan didalamnya. Mari kita renungkan syari’at Qurban berikut ini :
dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj : 34)
Ayat diatas secara tegas telah mensyari’atkan qurban bagi tiap – tiap individu umat sebagai wujud ketaatan total/ kepatuhan kepada Allah yang telah menciptakannya. Seseorang yang telah mencapai kesadaran total untuk mentaati segala keputusan Allah mealui wahyuNya. Allah itu maha baik maka segala perintahnya bernilai dan pasti berdampak baik, sebagai hamba dan ciptaanNya sudah semestinya menta’ati segala RubbubiyahNya (aturan) yang telah ditetapkan untuk kemaslakhatan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin akan mengimani/ meyakini secara penuh bahwa perintah Allah selalu benar, termasuk qurban juga sebagai bentuk pembenaran dan pembuktian keyakinan tentang Allah dan syariatNya.
Berbagai keindahan dunia akan senantiasa menguji mukmin, baik harta, anak ataupun kemewahan yang menjanjikan kepuasan adalah merupakan sesuatu yang boleh diraih dan memang kebahagiaan adalah obsesi setiap manusia. Namun segala keduniaan tak boleh membutakan kita untuk mengabdi kepadaNya, karena dibalik itu akan menguji kecintaan terhadap Allah SWT. Maksimalitas upaya untuk membuktikan keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT akan mengakselerasi pemahaman dan sikap mukmin untuk mencapai puncak kesadaran berqurban. Karena didalamnya akan menyiratkan semangat yang menggelora untuk merenungi nikmat Allah yang tiada tara yang dibarengi rasa syukur kepada Allah SWT.
Segala sifat dan karakter hewaniah baik yang berbentuk merusak atau pelanggaran terhadap norma – norma yang berlaku akan bisa kita lenyapkan dengan kesadaran untuk mengejawentahkan qurban dalam kehidupan baik secara simbolik maupun secara kontekstual. Sebagai pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang maha baik dan benar.
Senin, 24 November 2008
KEIKHLASAN MENJAMIN KEBAHAGIAAN
Oleh : Rofiq Abidin
Kebahagiaan menjadi titik tuju setiap langkah manusia dalam mengarungi kehidupannya, yang dalam perjalanan tawakalnya tak lepas dari goresan – goresan fakta yang menguji keikhlasannya. Rasa ikhlas dan rasa bahagia sama – sama terletak di dasar hati yang dalam kolerasinya setiap keikhlasan senantiasa membiaskan cahaya kebahagiaan. Manifestasi keikhlasan ialah memurnikan dorongan niat/kehendak untuk mewujudkan suatu tujuan yang akan dicapai, selanjutnya berwujud menjadi nur Ilahiyah yang dapat menscreening jiwa dalam setiap langkah kerja sehingga dapat menjaga kebahagiaan dalam segala suasana bathin.
Banyak yang menilai bahwa sebuah kesuksesan seseorang diukur dari materi/kekayaan yang ia punyai ataupun ketenaran yang diperoleh atau bahkan keturunan. Namun setiap materi, ketenaran dan keturunan terkadang tak selamanya menjamin kebahagiaan, karena letak kebahagiaan sesungguhnya ada di dasar hati yang terekspresi dengan beragam refleksitas bahasa tubuh yang bermacam – macam. Untuk senantiasa menjaga dan mengabadikan kebahagiaan adalah dengan rasa ikhlas menerima keadaan apapun yang terjadi pada diri kita, bukan dalam makna pasrah tanpa langkah atau diam berputus asa, namun ikhlas itu tidak ada resistant (penghambat) dalam hati baik dalam yang berwujud tafkir ataupun sikap, bersih hati benar – benar akan menjamin kebahagiaan karena yang ikhlas tak akan ada godaan – godaan iblis yang telah berkomitmen dengan lantang kepada Allah bahwa seluruh manusia akan digoda, namun satu yang tak akan pernah digoda oleh iblis ialah “orang – orang yang ikhlas” sebagaimana dalam QS Al Hijr ayat 39-40 :
Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan semuanya (39), kecuali hamba – hamba Engkau yang muklis diantara mereka(40)
Keikhlasan yang berwujud dalam rasa syukur, berarti seseorang telah menikmati perasaan ikhlasnya dengan menerima secara lapang dada anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, tidak ada protes kepada Allah tapi terus mensyukuri dan mensyukuri nikmatnya. Keikhlasan dalam menerima ujian, berarti seseorang telah rela apapun yang telah diputuskan Rabb kepadanya, namun senantiasa berdzikir mengefaluasi diri untuk menuju perubahan.
Oleh karena itu sucikanlah jiwa kita selapang – lapangnya dalam keadaan apapun atau dalam ujian apapun maka akan merasakan kebahagiaan dan pasti setiap keikhlasan akan membiaskan cahaya inovasi – inovasi dan kreatifitas – kretifitas brilian yang dapat mengakselerasi tawakal dalam mencari solusi hidup dan kehidupan, sehingga tetap istiqomah dengan prinsip – prinsip hidup Ilahiah yang telah disyahadatkan dan diamalkan.
Kamis, 18 September 2008
REFLEKSI PERUBAHAN DALAM DIMENSI KEMENANGAN
Oleh : Rofiq Abidin
Sifat-sifat (karakter) yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan (kemenangan)yang besar. (QS. Fushilat : 35)
Selama sebulan umat islam telah mengikuti seruan Rabb (Tuhan) semesta alam yakni “shiam” atau puasa pada bulan Ramadhan, menahan segala yang membatalkan dan senantiasa berusaha memanagemen emosi yang terkadang naik – turun tergantung kepiawaian – kesabaran seseorang mengendalikannya. Tempaan dan ujian pada bulan pegendalian jiwa ini akan melahirkan karakter positif baru yang akan menjadi persiapan pada planning perubahan – perubahan yang telah ada dalam benak masing – masing mukmin, yang berharap menjadi hamba Allah yang lebih taat kepada syariat dan meningkatkan kualitas pribadinya sebagai hamba Tuhan yang mulya dan sukses menurut standardNya dan hamba - bambaNya. Tiba saatnya menapaki masa yang dimaknakan sebagai “peningkatan” yakni syawal, masa dimana akan menentukan seseorang (yang berpuasa) seberapa istiqomah mengikuti seruan Allah dan mengikuti bisikan nuraninya (suara hatinya) untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya yang telah meluap – luap dalam benaknya pada masa pengendalian jiwa. Mengingat perjalanan hidup yang penuh dengan ujian, kesempatan dan godaan diperlukan stabilitas dan progresifitas serta disiplin dalam menjalankan prinsip – prinsip hidup yang telah komitmenkan, sehingga senantiasa istiqomah dalam mengimplementasikannya dalam berbagai kondisi apapun, tidak mudah terprovokasi oleh hasutan dan rayuan – rayuan yang terasa indah tapi menghanyutkan.
CHARACTER BUILDING
Karakter mengandung makna, suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga menjadikan kepribadiannya menarik dan atraktif serta eksentrik (berbeda dengan yang lain). Dalam kamus Poerwadarminta karakter diartikan sebagai watak, tabiat, sifat – sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan daripada yang lain. Maka membangun karakter (character building) adalah merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik menarik berbeda dengan yang lain, ibarat sebuah huruf alphabet yang tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lain. Demikianlah orang – orang yang berkarakter dapat dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau berkarakter tercela). Membangun karakter diperlukan refleksi yang mendalam dan prosesnya tidak seketika (instant) sehingga pahatan jiwanya benar – benar akan terbentuk dengan kokoh dan menjadi pribadi tangguh dalam segala masa dan kondisi.
REFLEKSI PERUBAHAN
Seseorang yang memproses pembangunan karakter dengan merefleksikan dan memanagemen emosi jiwanya akan melewati tiga nafs sebagai berikut :
1. Nafs Amarah, merupakan nafsu sesaat yang bersumber dari amarah negatif, prasangka buruk yang dapat membawa kita kepada tindak kejahatan/keburukan.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu amarah itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yusuf : 53)
Pesan Ilahi ini berawal dari kisah nabi Yusuf AS yang berusaha meyakinkan Raja Al Aziz bahwa dirinya tidak menghianatinya namun Yusuf sangat terbuka dan tidak akan lari dan bertanggung jawab, dengan berusaha menahan nafsu amarahnya karena nafs amarah akan membawa kepada kejahatan. Jelas bahwa nafs amarah akan berdampak negatif pada mental pribadi kita, karena seseorang yang jiwanya didominasi nafs amaran yang ada bukanlah akal sehat bukan kejernihan hati, namun sebuah luapan kekecewaan yang mendalam atau egoisentris yang sedang merajainya. Untuk itu kita mesti benar – benar dapat mengendalikan nafs amarah yang ada, tapi tetap memiliki emosional positif yang terwujud dalam semangat hidup, karena seseorang yang tak punya emosional akan sulit untuk mengembangkan dan memotivasi dirinya.
2. Nafs Lawamah
Adalah nafs (jiwa) yang secara intens mengefaluasi dirinya karena telah dimualinya kesadaran akan kesalahan – kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Secara bahasa nafs lawamah adalah ”jiwa yang amat menyesali”, mengingat – ingat kesalahannya/dosanya sehingga muncul keinginan untuk merubah kearah yang lebih baik. Seseorang yang telah terjerumus dalam dosa disebabkan nafs amarahnya, maka suatu saat akan sejenak merenungkan perbuatannya karena hati nurani akan selalu bertolak belakang dengan kejahatan/keburukan. Mari kita renungkan pesan Ilahi dibawah ini :
dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).(QS - AL Qiyamah : 2 )
Sedimikian pentingnya nafs lawamah sampai – sampai bersumpah dengan nafs itu, karena orang yang telah terpicu nafs lawamahnya bermakna ia akan mengingat Rabb yang telah menghadirkan dirinya didunia. Dalam penerapannya tidak boleh keterlaluan karena akan berdampak negatif karena akan larut dengan penyesalan yang dalam tanpa melangkah maju tapi hanya terdiam atau bahkan putus asa.
3. Nafs Mutmainah
Dalam merefleksikan karakter yang istiqomah seseorang yang telah mencapai nafs lawamah perlu melanjutkan estafet perjalan emosinya dengan menyulut nafs Mutma’inah atau jiwa yang tenang. Dengan menggunakan fikiran jernih dan hati yang bersih seseorang akan melanjutkan perubahan jiwanya dengan senantiasa berfikir tenang sebelum bertindak, sehingga senantiasa mengendalikan nafs amarahnya. Dengan nafs mutmainah ini pula kretifitas dan kedisiplinan akan mudah dibangun karena jiwa ini akan senantiasa sesuai dengan suara hatinya dan merasakan kepuasan bathin karena akan menuntun kepada keridhoan Rabb (pengatur) semesta alam. Berikut ini ayat yang menjelaskan tentangnya dalam Al Qur’an surat Al Fajr ayat : 27-28 :
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
Demikian adalah refleksi proses memanagemen emosional yang dapat mempengaruhi pembangunan karakter istiqomah dalam melanjutkan perjalanan emosional – spiritual yang terbangun dari sebuah kesadaran. Maka untuk merefleksi kemenangan dalam penegendalian hawa nafsu dan emosianal, perlu kiranya kita tidak berhenti dengan nafs amarah namun terus melanjutkan spiritual emosionalnya kepada nafs lawamah dan nafs mutmainah sehingga senantiasa terus mencapai kemenangan dalam setiap saat.
Jumat, 08 Agustus 2008
MAKNA DIBALIK BENCANA
Deretan bencana yang melanda nusantara kerapkali menjadi perbincangan yang selalu aktual untuk didiskusikan dikarenakan sampai saat ini masih belum berhenti bahkan terus melanda nusantara secara bergiliran, namun tidak jarang perbincangan itu ngambang tanpa solusi, langkah dan kesimpulan yang konkrit. Berbagai pernyataan tentang datangnya bencana/musibah yang melanda nusantara mulai dari pernyataan bahwa bencana ini adalah adzab Allah, ada juga yang menilai ini adalah ujian Allah, bahkan tidak sedikit yang mengkalaim ini adalah bagian dari keseimbangan alam atau bahkan juga ada yang berkelekar “mungkin ini sudah takdir”. Berbagai dugaan dan argumentasi hendaknya tidak sampai pada meja diskusi saja, namun kita mesti mengambil langkah – langkah konkrit serta menyiapkan tindakan preventif untuk mewaspadai daerah – daerah yang rawan bencana.
Apa makna sesungguhnya dibalik runtutan bencana ini ? Sebagai ummat islam kita punya pedoman hidup (why of life) ialah Al Qur’an yang lengkap yang kita yakini sebagai solusi setiap teka – teki di alam ini. Dalam pandangan wahyu setiap musibah ada dua kemungkinan yakni musibah/bencana adalah ujian bagi orang – orang yang beriman dan adzab bagi yang kufur (ingkar). Bagaimanakah kategorisasi orang yang beriman dan orang yang ingkar? bisakah manusia merumuskan status keimanan dan keingkaran seseorang, tentunya akan terasa salah faham dan terasa ekstrim jika seseorang mentakfirkan seseorang karena hanya Allah SWT yang berhak menilai seseorang iman atau kufur. Lantas bagaimanakah caranya Allah menilai, sehingga kita tahu benar – benar keberadaan kita? Mari kita cermati firman Allah dala Surat Muhammad ayat 3 sebagai berikut :
”Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang – orang yang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang – orang yang beriman mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demukianlah Allah membuat perbandingan – perbandingan bagi mereka”.
Alqur’an adalah sarana yang berfungsi sebagai furqon (pembeda) antara yang haq dan yang batil, jika kita mengkaji betul kejadian demi kejadian kita akan dapat mendapat jawaban pasti tentang yang haq dan yang batil. Apabila kita cermati surat Muhammad ayat 3 di atas Allah membuat perbandingan – perbandingan dengan standart yang jelas yakni yang “beriman mengikuti yang haq yang datang dari Allah yakni Al Qur’an dan yang kufur adalah mengikuti yang batil”. Yang menjadi pertanyaan sudahkah negri ini menggunakan Al Qur’an sebagai pedoman hidup (why of life) atau justru pedoman yang lain?
Musibah/Bencana Merupakan Ujian Bagi Orang Beriman
Berbagai fenomena dan pengalaman yang pernah menimpa diri kita perlulah kita bermahasabah (mengkoreksi diri) karena kadang kadang musibah itu memeng diluar perhitungan kita, padahal kita sudah merasa tidak keluar dari pada tuntunan (standart wahyu), maka kita mesti menjadikan musibah/bencana itu sebagai ujian dari Allah SWT agar kualitas iman kita lebih meningkat, maka janganlah berprasangka buruk kepada Allah SWT karena Allah itu adalah Al Adlu (maha adil), terkadang merasa bahwa Allah itu tidak adil, padahal sudah berbuat sesuai dengan perintahNya tapi masioh diuji dengan musibah – musibah, namun ada orang yang cuek dengan wahyu Allah justru diberikan karunia yang melimpah. Pemahaman seperti ini adalah penyakit hati, maka bersegeralah istigfar, karena sesungguhnya Allah tidak akan meguji seseorang kecuali dia mampu (sanggup), jadi sebenarnya Allah sudah menakar (mengukur) kemampuan seseorang. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat : 285 sebagai berikut :
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..”
Dari informasi Allah tersebut kita bisa memahami bahwa seseorang akan di beri beban (musibah, bencana, ujian, masalah) melainkan sesuai dengan kesanggupannya jasi pasti semua sudah diukur dengan cermat dan tepat oleh Allah yang maha adil dan maha pandai dan tidak mungkin Allah salah
T A B A Y U N
8
hitung. Namun yang menjadikan orang itu tidak mencapai dan menyelesaikan masalahnya adalah dia telah menyerah sebelum mengeluarkan segala potensinya. Perasan menyerah dikarenakan dihantui oleh ketakutan yang berlebihan sehingga seolah – olah terbayangkan bahwa ia tak kuasa mencapainya / menyelesaikannya, padahal ia punya senjata potensi yang dapat memecahkan persoalan itu, namun karena senjata potensinya masih tersimpan maka seperti sudah tak kuat menahan beban yang telah ada. Maka orang yang beriman harus memiliki ketahannan mental dan tawakal serta keuletan yang pada akhirnya dapat menemukan inovasi dan menstimulan potensi – potensi pribadinya. Karena mukmin yang senantiasa mengikuti kebenaran wahyu akan memahami bahwa Allah mempunyai maksud hasanah (baik) dibalik ujian yang menimpanya.
Musibah/Bencana Merupakan adzab Bagi Orang kufur ( mengingkari Qur’an)
Perbuatan dan prilaku manusia akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya dimasa yang akan datang, karena barang siapa yang berbuat kejahatan otomatis akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa musibah yang menimpa itu adalah adzab Allah ? Dengan terus meneruh mengefaluasi diri seseorang akan mengingat kesalahan / dosa yang pernah diperbuat, sehingga jika seseorang sudah mengingat bahwa musibah itu ada keterkaitannnya dengan perbuatan dosa sebelumnya, maka dia akan faham benar bahwa musibah itu adalah sebagai Adzab / balasan setimpal atas perbuatannya selama ini. musibah yang menimpa sekelompok manusia ada kontemplasinya dengan perbuatan individu – individu manusia. Jika individu – individu manusia dalam kehidupannya banyak mengingkari ayat Allah atau bahkan tidak mau mengambil Al Qur’an sebagai landasan hidupnya maka secara otomatis akan ada balasan – balasan dari Allah sebagai konsekwensi logis karena perbuatannya sendiri. Allah menghendaki kehidupan ini sesuai dengan aturanNya yakni aturan yang dibuatnya adalah Al Qur’an, maka jika dalam kenyataannya manusia tidak sesuai dengan aturanNya maka terjadilah resiko – resiko yang dihadapi. Laksana
perusahaan yang telah membuat aturan – turan dalam bekerja namun bagi karyawan yang tidak mengikutinya secara otomatis dia akan terkena hukuman atau peringatan bahkan sampai kepada PHK (pemecatan). Dalam kehidupannya manusia diberikan kebebasan berfikir mengambil jalan kebenaran yang sesuai dengan wahyu atau mengikuti kebatilan yang mengingkari wahyu semua ada resiko – resiko logis dan balasan yang setimpal atas jalan yang ditempuhnya. Mari kita cermati surat Al Ma’dah : 49 :
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati – hatilah kamu terhdap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagaian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling dari (hukum – hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa – dosa mereka. Dan seseungguhnya kebanyakan manusia adalah orang – orang yang fasik.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia?
Dengan petunjuk wahyu Al-qur’an semestinya kita dapat bertabayun dengan apa – apa yang menimpa bangsa Indonesia ini. Karena fungsi Al Qu’an sebagai Furqon atau pembeda yang memilah antara haq dan batil. Jika kita tela’ah secara mendalam bangsa Indonesia adalah ummat islam terbesar didunia secara kuantitas, namun kebanyakan sikap – sikap kejahiliahan juga diperbuat umat islam dan perpecahan umat islam yang terus bergejolak menjadikan umat islam tidak mau merajut ukhwah islamiah yang pada akhirnya bersama – sama menjadikan Al Qur’an ini sebagai landasan hidup dalam keseharian sampai pada urusan berbangsa dan bernegara, tidak memilah – milah urusan dalam menerapkan Al Qur’an. Sudahkah bangsa indonsia ini landasan hidup dan hukumnya bersumber dari apa – apa yng diturunkan Allah (Al Qur’an) ? sebagaimana dalam surat Al –Ma’idah : 49 jika belum berlandaskan dengan apa – apa yang diturunkan Allah atau mengikuti hawa nafsunya maka musibah yang dating adalah Adzab Allah atas pengingkaran terhadap Al Qur’an.
KETAATAN KHALID BIN WALID
Oleh : Rofiq Abidin
Rasulullah SAW menjuluki ia sebagai “pedang Allah” , sang panglima perang yang tak pernah mengalami kekalahan dalam setiap pertempuran yang dipimpinnya ialah Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima perang di masa kepemimpinan Rasulullah SAW, Abu Baker dan Umar bin Khatab. Pada suatu saat di masa kepemimpinan Umar bin Khatab dengan izin Allah ia selalu menjadi pemenang dalam setiap pertempuran, sehingga para prajuritnya selalu memujanya, bahkan tidak sedikit orang yang mengarang syair dan melagukan kepahlawanan seorang Khalid bin Walid yang mashur itu.
Bagaimana sikap seorang khalifah Umar bin Khatab disaat – saat seperti itu ?. Pada saat Khalid bin Walid sedang menyusun strategi perang untuk menggempur Byzantium (Romawi Timur), datanglah perintah khalifah kepadanya, untuk meletakkan jabatan dan menyerahkannya kepada Abdullah bin Ubait. Khalid bin Walid yang sedang menyusun rapat pada saat itu tidak langsung membacakan surat khalifah itu, dengan perhitungan bahwa kalau tugas ini ditunaikan seketika, dikhawatirkan akan terjadi kekacauan dalam mengatur strategi penyerangan ke Byzantium.
Setelah usul – usulnya diterima dan rapat telah menetapkan satu keputusan bulat, selanjutnya beliau maju kemedan tempur untuk memberikan contoh bagaimana caranya menyerang kedepan, seraya menyabit kekanan dan kekiri, serta bagaiman mengacaukan mental musuh agar porak – poranda. Setelah semuanya selesai beliau mundur ke belakang untuk selanjutnya
pada setiap keluarga dapat dinikmatinya sampai akhir hayat.
menyerahkan jabatannya kepada Abdullah bin Uabit. Kemudian beliau memberikan laporan kepada khalifah bahwa perintah sudah ditunaikan. Setelah itu beliau meminta penjelasanperihal pemecatannya sebagai penglima perang. Apakah karena administrasinya yang lemah atau perihal yang lainnnya. Maka khalifah menegaskan bahwa masalahnya bukan itu, hal itu masih bisa dimaafkan jawab khalifah Umar, tetapi sebagai khalifah saya bertanggung jawab atas aqidah umat. Engkau adalah pahlawan perkasa yang tidak dapat dikalahkan setiap medan pertempuran, tetapi rakyat mulai menyanyikan lagu – lagu pujian untukmu dan tidak lagi memuji Allah semata, aku khawatir mereka menjadi syirik . setelah mendengar penjelasan khalifah beliau tersadar dan menerima keputusan khalifah dengan keikhlasan yang tinggi, beliaupun mundur dari hadapan khalifah, kemudian menuju medan pertempuran menyerang musuh – musuh Allah, tidak sebagai panglima namun sebagai prajurit biasa, di tengah pertempuran beliau berkata : “Aku bertempur dan berjuang bukan karena Umar, akan tetapi aku berjuang semata – mata karena Allah.
Demikianlah ekspresi tauhid sejati yang selalu mentaati perintah ulil amri dengan tulus dan setia hati, walaupun terkadang pada awalnya terasa tidak sehati, namun dibalik amanah dan perintah pasti ada hikmah dan pelajaran bagi mukmin yang tulus menunaikannnya.
PEMIMPIN PEMBANGUN PERADABAN
Akal yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia akan senantiasa mengantarkan kebebasannya dalam berfikir menyelesaikan beragam masalah yang terjadi dalam hidupnya baik secara pribadi ataupun kolektif, serta menerima pengaruh – pengaruh diluar dirinya guna mengambil sikap bijak dalam penyelesaian masalahnya tersebut. Untuk mengendalikan kebebasan pola fakir dan perbuatannya manusia membutuhkan perangkat diluar dirinya yakni sebuah peraturan sebagai kontrol dalam setiap kebebasannya karena setiap manusia memiliki naluri kebaikan dan kejahatan. Pelakasanaan aturan itu sendiri juga membutuhkan pengawasan guna merapikan pelaksanaan supremasinya. Dalam hal ini pengawas dalam menerapkan aturan – itu adalah pemerintah, sejauh mana pemerintah mendisiplinkan aturan – aturan untuk meraih keberhasilan yang dicita – citakan bersama adalah tergantung dari kepiawaian dan kebijakan – kebijakan yang diambil. Pimpinan yang diidealkan oleh masing – masing kelompok atau individu – individu umat sudah semestinya memiliki kualifikasi dan kredibilitas yang terbaik sehingga mampu menjalankan roda pemerintahan dengan penuh kenyamanan, kedamaian dan kesejahteraan.
Seorang sahabat Rosulullah SAW yang sangat tidak diragukan lagi loyalitasnya dan kepercayaannya kepada Rosulullah yakni Abu Bakar yang kemudian diberi gelar oleh Rosulullah sebaga As Sidiq memeberikan pelajaran berharga bagi para penerus generasi islam. Ketika beliau dilantik menjadi khalifah selepas wafatnya Rosulullah SAW beliau berkomitmen “taatlah kepadaku selagi aku taat kepada Allah, sekiranya aku menyeleweng atau melanggar perintah Allah maka janganlah taat kepadaku, tentanglah aku sehingga aku kembali kepada hukum Allah”. Demikianlah ekspresi seorang pemimpin yang memiliki kecintaan yang dalam terhadap umat dan amanahnya, beliau benar – benar tidak main – main menjaga amanah Allah dan penerapan hukum Allah, karena mendapat kepercayaan untuk memimpin berarti di dalamnya ada sebuah harapan besar terhadap perubahan – perubahan yang konkrit dan signifikan. Dalam sejarah islam Abu Bakar As Sidiq termasuk Khulafa’ur Rosidin satu – satunya yang dalam masa usianya tidak menjadi korban pembunuhan, ini menandakan betapa besar kepercayaan umat kepadanya. Bagaimanakah gambaran seorang pemimpin yang dikehendaki oleh Allah, Mari kita perhatikan pesan Ilahi kepada para pemimpin :
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al Anbiya’ : 73)
Ayat di atas memberi gamabaran konkrit, bahwa pemimpin yang dikehendaki Allah adalah pemimpin yang mempunyai kualifikasi terbaik yang berkarakter membangun peradaban maju diantaranya :
1. Memberikan petunjuk (solusi) dengan berdasarkan wahyu/hukum Allah
Ajaran Ilahi adalah merupakan why of life, berfungsi sebagai pedoman – pedoman dan tatanan hidup dan kehidupan mulai dari pribadi, keluarga dan sampai dalam urusan bernegara. Berbagai bukti telahpun ditorehkan oleh para pelaku – pelaku qur’ani, mulai dari para nabi dan rosul dan diteruskan oleh sahabat – sahabatnya.
2. Mempunyai karya nyata
Sebuah contoh konkrit bahwa para nabi dan rosul telah membangun peradaban pada masanya, adalah nabi Ibrahim yang telah nyata membangun ka’bah yang sampai hari ini menjadi kiblat umat islam dalam sholat. Nabi Muhammadpun membangun sebuah peradaban yang dimulai dari Madinah Al Munawaroh sebuah negri yang menerapkan hukum Allah dan hasilnya banyak sekali peruubahan – perubahan yang dikaryakan. bukan hanya mencontohkan dalam hal spiritual dan akhlak saja namun membuat sebuah karya nyata sebagai pembuktian tanggung jawabnya.
3. Mentegakkan sholat secara ritual dan aktualisasinya dalam kehidupan
Penyembahan kepada yang maha pencipta sudah semestinya menjadi ritme kehidupan seorang pemimpin. Selanjutnya mampu mentuangkan makna sholat dalam aktualisasi kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.
4. Sanggup membersihkan dan mensucikan hartanya (mendermakan hartanya untuk kepentingan jalan Allah dan kepentingan Negara )
Ajaran Ilahi memiliki managemen ekonomi yang sangat bisa mensejahterakan umat, zakat adalah salah satu solusi yang dapat dipraktekkan untuk mengurangi masalah – masalah sosial kemasyarakatan, tidak hanya itu masalah – masalah negara yang belum teratasi akan memungkinkan dapat menjadi solusi riil jika kita bisa menanganinya. Dalam hal ini telahpun dicontohkan oleh Abu Bakar As Shidiq yang sangat serius menangani persoalan zakat dan infaq.
5. Memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah dan tawakal kepadanya
Keimanan merupakan keyakinan mendalam terhadap sang khalik yakni Allah SWT sehingga berdampak kepada rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), rasa hormat (ta’dzim) kepada sang Pencipta Allah SWT sehingga tidak terbesit bibit syirik sedikitpun walaupun seorang pemimpin itu mencapai klimaks keberhasilannya.
Perihal di atas adalah merupakan kriteria pemimpin yang berkarakter sholeh, yang sanggup bekerja keras untuk membawa perubahan, membangun peradaban maju dan terus menggulirkan bola salju kemajuan. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin benar – benar memiliki komitmen yang kuat terhadap bangsanya dan mempunyai karya nyata bukan hanya pandai berbicara. Sehingga mampu membawa Indonesia kepada perubahan – perubahan secara suistainable (berkesinambungan) dan membawa umatnya (rakyat) menuju Negara yang dicita – citakan yakni “baldatun toyibatun wa Rabbun gofur”, entah dari mana asal – uslnya bangsa Indonesia sering menggembor – gemborkan slogan tersebut namun sepertinya masih jauh dalam implementasinya, atau barangkali bercita – cita menjadikan Negara Indonesia sebagaimana Negara Madinah Munawaroh yang dibangun Rosulullah SAW empat belas abad yang silam.
Pemimpin Yang Menepati Janji
Baik buruknya seorang pemimpin menurut pandangan masyarakat adalah dinilai dari nyata tidaknya janji – janji yang disampaikan pada saat kampanye. Tidak bisa dihindari jika seorang pemimpin yang ingkar janji maka secara drastis kredibilitas pribadi dan kepemimpinannya akan merosot tajam dan mengahapus semua kebaikan dan jasanya kepada Negara. Oleh karena itu seorang pemimpin harus berusaha menjaga janjinya dengan sebaik baiknya, karena pembuktian kemampuan seorang pemimpin adalah merealisasikan janji – janjinya dan perubahan – perubahan yang berkepanjangan bukan karbitan. Sikap memenuhi janji akan bisa terwujud jika seorang memiliki jiwa tanggung jawab tinggi terhadap apapun ucapan yang diikrarkan. mari kita renungkan firman Allah dalam surat Maryam ayat 54 yang menjadika Nabi Ismail sebagai seorang pemimpin yang memegang janjinya, demikianlah pernyataan Allah sebagai berikut :
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. Dan dia adalah seorang rosul dan seorang nabi. (QS. Maryam : 54)
Seorang nabi yang benar – benar bisa memegang janjinya adalah nabi Ismail, terbukti ketika Ibrahim mendiskusikan tentang perihal perintah Allah untuk menyembelih dirinya (Ismail), dengan sabar beliau menjawab “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang – orang yang sabar” (QS. Ash Saffat : 102). Dari kisah ini kita bisa mengambil ibrah bahwa mereka telah menerapkan sikap demokrasi dalam mencari solusi terbaik, nabi Ibrahim tidak serta merta melaksanakan perintah walaupun itu perintah Rabbnya Allah SWT, tapi justru beliau mengajarkan tentang sikap toleransi kepada anak dan umat islam selanjutnya. Dalam hal ini yang tak kalah pentingnya adalah bahwa beliau – beliau telah menepati janjinya dengan Rabbnya.
Setiap kita berbuat pasti ada akibat balasannya, berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, berbuat jahat akan dibalas pula dengan keburukan. Jika seseorang yang telah berjanji namun merusak janjinya atau tidak menepatinya, maka akan berdampak buruk juga bagi dirinya disamping kepercayaan umat yang menurun juga ada balasan setimpal dari Allah. Mari kita renungkan peringatan Allah kepada orang – orang yang merusak janjinya :
Orang – orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa – apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang – orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.( QS. Ar Ra’du : 25 )
Dalam pelantikan pejabat sudah menjadi lazimnya ada sebuah ceremonial – sacral yang di dalamnya ada Kitab Al-qur’an sebagai perantara agar pelantikan itu terasa diikrarkan dihadapan Rabb semesta alam. Dengan demikian jika kita menjadi seorang pemimpin, baik dalam skala kecil keluarga ataupun sampai pemimpin Negara kita mesti memegang teguh dan merealisasikan apa – apa janji dan kebijakan yang kita ikrarkan. Selanjutnya mendasarkan segala persoalan hidup kita baik prifacy maupun kolektif kepada Ajaran Ilahi yang telah secara lengkap menjawab berbagai masalah hidup kita baik kini dan mendatang, Dalam abad 21 ini berbagai problem mewarnai perubahan – perubahan zaman seiring dengan maraknya teknologi informasi yang mempercepat akses informasi dan kemudahan – kemudahan lainnya. Peranan umat islam dalam hal ini masih minim, maka umat islam dan para pemimpinnya hendaknya memulai dengan belajar dan mengambil hikmah dari para pemimpin – pemimpin islam yang terdahulu yang telah berhasil mewarnai bermacam kemajuan dalam segala disipiln ilmu dan para pemimpin dunia yang memang nyata – nyata memberikan perubahan yang signifikan kepada kemajuan zaman. Selanjutnya meniadakan perpecahan umat yang mengakibatkan lemah dan teradu domba. Kemudian secara nahniyah (kebersamaan) melangkah dan bekerja keras membangun peradaban dengan dimulai pendidikan yang bersasaran kemajuan.
