Jumat, 08 Agustus 2008

MAKNA DIBALIK BENCANA

Oleh : Rofiq Abidin
Deretan bencana yang melanda nusantara kerapkali menjadi perbincangan yang selalu aktual untuk didiskusikan dikarenakan sampai saat ini masih belum berhenti bahkan terus melanda nusantara secara bergiliran, namun tidak jarang perbincangan itu ngambang tanpa solusi, langkah dan kesimpulan yang konkrit. Berbagai pernyataan tentang datangnya bencana/musibah yang melanda nusantara mulai dari pernyataan bahwa bencana ini adalah adzab Allah, ada juga yang menilai ini adalah ujian Allah, bahkan tidak sedikit yang mengkalaim ini adalah bagian dari keseimbangan alam atau bahkan juga ada yang berkelekar “mungkin ini sudah takdir”. Berbagai dugaan dan argumentasi hendaknya tidak sampai pada meja diskusi saja, namun kita mesti mengambil langkah – langkah konkrit serta menyiapkan tindakan preventif untuk mewaspadai daerah – daerah yang rawan bencana.
Apa makna sesungguhnya dibalik runtutan bencana ini ? Sebagai ummat islam kita punya pedoman hidup (why of life) ialah Al Qur’an yang lengkap yang kita yakini sebagai solusi setiap teka – teki di alam ini. Dalam pandangan wahyu setiap musibah ada dua kemungkinan yakni musibah/bencana adalah ujian bagi orang – orang yang beriman dan adzab bagi yang kufur (ingkar). Bagaimanakah kategorisasi orang yang beriman dan orang yang ingkar? bisakah manusia merumuskan status keimanan dan keingkaran seseorang, tentunya akan terasa salah faham dan terasa ekstrim jika seseorang mentakfirkan seseorang karena hanya Allah SWT yang berhak menilai seseorang iman atau kufur. Lantas bagaimanakah caranya Allah menilai, sehingga kita tahu benar – benar keberadaan kita? Mari kita cermati firman Allah dala Surat Muhammad ayat 3 sebagai berikut :
”Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang – orang yang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang – orang yang beriman mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demukianlah Allah membuat perbandingan – perbandingan bagi mereka”.
Alqur’an adalah sarana yang berfungsi sebagai furqon (pembeda) antara yang haq dan yang batil, jika kita mengkaji betul kejadian demi kejadian kita akan dapat mendapat jawaban pasti tentang yang haq dan yang batil. Apabila kita cermati surat Muhammad ayat 3 di atas Allah membuat perbandingan – perbandingan dengan standart yang jelas yakni yang “beriman mengikuti yang haq yang datang dari Allah yakni Al Qur’an dan yang kufur adalah mengikuti yang batil”. Yang menjadi pertanyaan sudahkah negri ini menggunakan Al Qur’an sebagai pedoman hidup (why of life) atau justru pedoman yang lain?

Musibah/Bencana Merupakan Ujian Bagi Orang Beriman
Berbagai fenomena dan pengalaman yang pernah menimpa diri kita perlulah kita bermahasabah (mengkoreksi diri) karena kadang kadang musibah itu memeng diluar perhitungan kita, padahal kita sudah merasa tidak keluar dari pada tuntunan (standart wahyu), maka kita mesti menjadikan musibah/bencana itu sebagai ujian dari Allah SWT agar kualitas iman kita lebih meningkat, maka janganlah berprasangka buruk kepada Allah SWT karena Allah itu adalah Al Adlu (maha adil), terkadang merasa bahwa Allah itu tidak adil, padahal sudah berbuat sesuai dengan perintahNya tapi masioh diuji dengan musibah – musibah, namun ada orang yang cuek dengan wahyu Allah justru diberikan karunia yang melimpah. Pemahaman seperti ini adalah penyakit hati, maka bersegeralah istigfar, karena sesungguhnya Allah tidak akan meguji seseorang kecuali dia mampu (sanggup), jadi sebenarnya Allah sudah menakar (mengukur) kemampuan seseorang. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat : 285 sebagai berikut :
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..”
Dari informasi Allah tersebut kita bisa memahami bahwa seseorang akan di beri beban (musibah, bencana, ujian, masalah) melainkan sesuai dengan kesanggupannya jasi pasti semua sudah diukur dengan cermat dan tepat oleh Allah yang maha adil dan maha pandai dan tidak mungkin Allah salah
T A B A Y U N
8
hitung. Namun yang menjadikan orang itu tidak mencapai dan menyelesaikan masalahnya adalah dia telah menyerah sebelum mengeluarkan segala potensinya. Perasan menyerah dikarenakan dihantui oleh ketakutan yang berlebihan sehingga seolah – olah terbayangkan bahwa ia tak kuasa mencapainya / menyelesaikannya, padahal ia punya senjata potensi yang dapat memecahkan persoalan itu, namun karena senjata potensinya masih tersimpan maka seperti sudah tak kuat menahan beban yang telah ada. Maka orang yang beriman harus memiliki ketahannan mental dan tawakal serta keuletan yang pada akhirnya dapat menemukan inovasi dan menstimulan potensi – potensi pribadinya. Karena mukmin yang senantiasa mengikuti kebenaran wahyu akan memahami bahwa Allah mempunyai maksud hasanah (baik) dibalik ujian yang menimpanya.

Musibah/Bencana Merupakan adzab Bagi Orang kufur ( mengingkari Qur’an)
Perbuatan dan prilaku manusia akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya dimasa yang akan datang, karena barang siapa yang berbuat kejahatan otomatis akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa musibah yang menimpa itu adalah adzab Allah ? Dengan terus meneruh mengefaluasi diri seseorang akan mengingat kesalahan / dosa yang pernah diperbuat, sehingga jika seseorang sudah mengingat bahwa musibah itu ada keterkaitannnya dengan perbuatan dosa sebelumnya, maka dia akan faham benar bahwa musibah itu adalah sebagai Adzab / balasan setimpal atas perbuatannya selama ini. musibah yang menimpa sekelompok manusia ada kontemplasinya dengan perbuatan individu – individu manusia. Jika individu – individu manusia dalam kehidupannya banyak mengingkari ayat Allah atau bahkan tidak mau mengambil Al Qur’an sebagai landasan hidupnya maka secara otomatis akan ada balasan – balasan dari Allah sebagai konsekwensi logis karena perbuatannya sendiri. Allah menghendaki kehidupan ini sesuai dengan aturanNya yakni aturan yang dibuatnya adalah Al Qur’an, maka jika dalam kenyataannya manusia tidak sesuai dengan aturanNya maka terjadilah resiko – resiko yang dihadapi. Laksana
perusahaan yang telah membuat aturan – turan dalam bekerja namun bagi karyawan yang tidak mengikutinya secara otomatis dia akan terkena hukuman atau peringatan bahkan sampai kepada PHK (pemecatan). Dalam kehidupannya manusia diberikan kebebasan berfikir mengambil jalan kebenaran yang sesuai dengan wahyu atau mengikuti kebatilan yang mengingkari wahyu semua ada resiko – resiko logis dan balasan yang setimpal atas jalan yang ditempuhnya. Mari kita cermati surat Al Ma’dah : 49 :
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati – hatilah kamu terhdap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagaian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling dari (hukum – hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa – dosa mereka. Dan seseungguhnya kebanyakan manusia adalah orang – orang yang fasik.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia?
Dengan petunjuk wahyu Al-qur’an semestinya kita dapat bertabayun dengan apa – apa yang menimpa bangsa Indonesia ini. Karena fungsi Al Qu’an sebagai Furqon atau pembeda yang memilah antara haq dan batil. Jika kita tela’ah secara mendalam bangsa Indonesia adalah ummat islam terbesar didunia secara kuantitas, namun kebanyakan sikap – sikap kejahiliahan juga diperbuat umat islam dan perpecahan umat islam yang terus bergejolak menjadikan umat islam tidak mau merajut ukhwah islamiah yang pada akhirnya bersama – sama menjadikan Al Qur’an ini sebagai landasan hidup dalam keseharian sampai pada urusan berbangsa dan bernegara, tidak memilah – milah urusan dalam menerapkan Al Qur’an. Sudahkah bangsa indonsia ini landasan hidup dan hukumnya bersumber dari apa – apa yng diturunkan Allah (Al Qur’an) ? sebagaimana dalam surat Al –Ma’idah : 49 jika belum berlandaskan dengan apa – apa yang diturunkan Allah atau mengikuti hawa nafsunya maka musibah yang dating adalah Adzab Allah atas pengingkaran terhadap Al Qur’an.

KETAATAN KHALID BIN WALID

Oleh : Rofiq Abidin

Rasulullah SAW menjuluki ia sebagai “pedang Allah” , sang panglima perang yang tak pernah mengalami kekalahan dalam setiap pertempuran yang dipimpinnya ialah Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima perang di masa kepemimpinan Rasulullah SAW, Abu Baker dan Umar bin Khatab. Pada suatu saat di masa kepemimpinan Umar bin Khatab dengan izin Allah ia selalu menjadi pemenang dalam setiap pertempuran, sehingga para prajuritnya selalu memujanya, bahkan tidak sedikit orang yang mengarang syair dan melagukan kepahlawanan seorang Khalid bin Walid yang mashur itu.
Bagaimana sikap seorang khalifah Umar bin Khatab disaat – saat seperti itu ?. Pada saat Khalid bin Walid sedang menyusun strategi perang untuk menggempur Byzantium (Romawi Timur), datanglah perintah khalifah kepadanya, untuk meletakkan jabatan dan menyerahkannya kepada Abdullah bin Ubait. Khalid bin Walid yang sedang menyusun rapat pada saat itu tidak langsung membacakan surat khalifah itu, dengan perhitungan bahwa kalau tugas ini ditunaikan seketika, dikhawatirkan akan terjadi kekacauan dalam mengatur strategi penyerangan ke Byzantium.
Setelah usul – usulnya diterima dan rapat telah menetapkan satu keputusan bulat, selanjutnya beliau maju kemedan tempur untuk memberikan contoh bagaimana caranya menyerang kedepan, seraya menyabit kekanan dan kekiri, serta bagaiman mengacaukan mental musuh agar porak – poranda. Setelah semuanya selesai beliau mundur ke belakang untuk selanjutnya
pada setiap keluarga dapat dinikmatinya sampai akhir hayat.
menyerahkan jabatannya kepada Abdullah bin Uabit. Kemudian beliau memberikan laporan kepada khalifah bahwa perintah sudah ditunaikan. Setelah itu beliau meminta penjelasanperihal pemecatannya sebagai penglima perang. Apakah karena administrasinya yang lemah atau perihal yang lainnnya. Maka khalifah menegaskan bahwa masalahnya bukan itu, hal itu masih bisa dimaafkan jawab khalifah Umar, tetapi sebagai khalifah saya bertanggung jawab atas aqidah umat. Engkau adalah pahlawan perkasa yang tidak dapat dikalahkan setiap medan pertempuran, tetapi rakyat mulai menyanyikan lagu – lagu pujian untukmu dan tidak lagi memuji Allah semata, aku khawatir mereka menjadi syirik . setelah mendengar penjelasan khalifah beliau tersadar dan menerima keputusan khalifah dengan keikhlasan yang tinggi, beliaupun mundur dari hadapan khalifah, kemudian menuju medan pertempuran menyerang musuh – musuh Allah, tidak sebagai panglima namun sebagai prajurit biasa, di tengah pertempuran beliau berkata : “Aku bertempur dan berjuang bukan karena Umar, akan tetapi aku berjuang semata – mata karena Allah.
Demikianlah ekspresi tauhid sejati yang selalu mentaati perintah ulil amri dengan tulus dan setia hati, walaupun terkadang pada awalnya terasa tidak sehati, namun dibalik amanah dan perintah pasti ada hikmah dan pelajaran bagi mukmin yang tulus menunaikannnya.

PEMIMPIN PEMBANGUN PERADABAN

PEMIMPIN PEMBANGUN PERADABAN
Akal yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia akan senantiasa mengantarkan kebebasannya dalam berfikir menyelesaikan beragam masalah yang terjadi dalam hidupnya baik secara pribadi ataupun kolektif, serta menerima pengaruh – pengaruh diluar dirinya guna mengambil sikap bijak dalam penyelesaian masalahnya tersebut. Untuk mengendalikan kebebasan pola fakir dan perbuatannya manusia membutuhkan perangkat diluar dirinya yakni sebuah peraturan sebagai kontrol dalam setiap kebebasannya karena setiap manusia memiliki naluri kebaikan dan kejahatan. Pelakasanaan aturan itu sendiri juga membutuhkan pengawasan guna merapikan pelaksanaan supremasinya. Dalam hal ini pengawas dalam menerapkan aturan – itu adalah pemerintah, sejauh mana pemerintah mendisiplinkan aturan – aturan untuk meraih keberhasilan yang dicita – citakan bersama adalah tergantung dari kepiawaian dan kebijakan – kebijakan yang diambil. Pimpinan yang diidealkan oleh masing – masing kelompok atau individu – individu umat sudah semestinya memiliki kualifikasi dan kredibilitas yang terbaik sehingga mampu menjalankan roda pemerintahan dengan penuh kenyamanan, kedamaian dan kesejahteraan.

Seorang sahabat Rosulullah SAW yang sangat tidak diragukan lagi loyalitasnya dan kepercayaannya kepada Rosulullah yakni Abu Bakar yang kemudian diberi gelar oleh Rosulullah sebaga As Sidiq memeberikan pelajaran berharga bagi para penerus generasi islam. Ketika beliau dilantik menjadi khalifah selepas wafatnya Rosulullah SAW beliau berkomitmen “taatlah kepadaku selagi aku taat kepada Allah, sekiranya aku menyeleweng atau melanggar perintah Allah maka janganlah taat kepadaku, tentanglah aku sehingga aku kembali kepada hukum Allah”. Demikianlah ekspresi seorang pemimpin yang memiliki kecintaan yang dalam terhadap umat dan amanahnya, beliau benar – benar tidak main – main menjaga amanah Allah dan penerapan hukum Allah, karena mendapat kepercayaan untuk memimpin berarti di dalamnya ada sebuah harapan besar terhadap perubahan – perubahan yang konkrit dan signifikan. Dalam sejarah islam Abu Bakar As Sidiq termasuk Khulafa’ur Rosidin satu – satunya yang dalam masa usianya tidak menjadi korban pembunuhan, ini menandakan betapa besar kepercayaan umat kepadanya. Bagaimanakah gambaran seorang pemimpin yang dikehendaki oleh Allah, Mari kita perhatikan pesan Ilahi kepada para pemimpin :
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al Anbiya’ : 73)
Ayat di atas memberi gamabaran konkrit, bahwa pemimpin yang dikehendaki Allah adalah pemimpin yang mempunyai kualifikasi terbaik yang berkarakter membangun peradaban maju diantaranya :
1. Memberikan petunjuk (solusi) dengan berdasarkan wahyu/hukum Allah
Ajaran Ilahi adalah merupakan why of life, berfungsi sebagai pedoman – pedoman dan tatanan hidup dan kehidupan mulai dari pribadi, keluarga dan sampai dalam urusan bernegara. Berbagai bukti telahpun ditorehkan oleh para pelaku – pelaku qur’ani, mulai dari para nabi dan rosul dan diteruskan oleh sahabat – sahabatnya.
2. Mempunyai karya nyata
Sebuah contoh konkrit bahwa para nabi dan rosul telah membangun peradaban pada masanya, adalah nabi Ibrahim yang telah nyata membangun ka’bah yang sampai hari ini menjadi kiblat umat islam dalam sholat. Nabi Muhammadpun membangun sebuah peradaban yang dimulai dari Madinah Al Munawaroh sebuah negri yang menerapkan hukum Allah dan hasilnya banyak sekali peruubahan – perubahan yang dikaryakan. bukan hanya mencontohkan dalam hal spiritual dan akhlak saja namun membuat sebuah karya nyata sebagai pembuktian tanggung jawabnya.
3. Mentegakkan sholat secara ritual dan aktualisasinya dalam kehidupan
Penyembahan kepada yang maha pencipta sudah semestinya menjadi ritme kehidupan seorang pemimpin. Selanjutnya mampu mentuangkan makna sholat dalam aktualisasi kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.
4. Sanggup membersihkan dan mensucikan hartanya (mendermakan hartanya untuk kepentingan jalan Allah dan kepentingan Negara )
Ajaran Ilahi memiliki managemen ekonomi yang sangat bisa mensejahterakan umat, zakat adalah salah satu solusi yang dapat dipraktekkan untuk mengurangi masalah – masalah sosial kemasyarakatan, tidak hanya itu masalah – masalah negara yang belum teratasi akan memungkinkan dapat menjadi solusi riil jika kita bisa menanganinya. Dalam hal ini telahpun dicontohkan oleh Abu Bakar As Shidiq yang sangat serius menangani persoalan zakat dan infaq.
5. Memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah dan tawakal kepadanya
Keimanan merupakan keyakinan mendalam terhadap sang khalik yakni Allah SWT sehingga berdampak kepada rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), rasa hormat (ta’dzim) kepada sang Pencipta Allah SWT sehingga tidak terbesit bibit syirik sedikitpun walaupun seorang pemimpin itu mencapai klimaks keberhasilannya.

Perihal di atas adalah merupakan kriteria pemimpin yang berkarakter sholeh, yang sanggup bekerja keras untuk membawa perubahan, membangun peradaban maju dan terus menggulirkan bola salju kemajuan. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin benar – benar memiliki komitmen yang kuat terhadap bangsanya dan mempunyai karya nyata bukan hanya pandai berbicara. Sehingga mampu membawa Indonesia kepada perubahan – perubahan secara suistainable (berkesinambungan) dan membawa umatnya (rakyat) menuju Negara yang dicita – citakan yakni “baldatun toyibatun wa Rabbun gofur”, entah dari mana asal – uslnya bangsa Indonesia sering menggembor – gemborkan slogan tersebut namun sepertinya masih jauh dalam implementasinya, atau barangkali bercita – cita menjadikan Negara Indonesia sebagaimana Negara Madinah Munawaroh yang dibangun Rosulullah SAW empat belas abad yang silam.

Pemimpin Yang Menepati Janji
Baik buruknya seorang pemimpin menurut pandangan masyarakat adalah dinilai dari nyata tidaknya janji – janji yang disampaikan pada saat kampanye. Tidak bisa dihindari jika seorang pemimpin yang ingkar janji maka secara drastis kredibilitas pribadi dan kepemimpinannya akan merosot tajam dan mengahapus semua kebaikan dan jasanya kepada Negara. Oleh karena itu seorang pemimpin harus berusaha menjaga janjinya dengan sebaik baiknya, karena pembuktian kemampuan seorang pemimpin adalah merealisasikan janji – janjinya dan perubahan – perubahan yang berkepanjangan bukan karbitan. Sikap memenuhi janji akan bisa terwujud jika seorang memiliki jiwa tanggung jawab tinggi terhadap apapun ucapan yang diikrarkan. mari kita renungkan firman Allah dalam surat Maryam ayat 54 yang menjadika Nabi Ismail sebagai seorang pemimpin yang memegang janjinya, demikianlah pernyataan Allah sebagai berikut :

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. Dan dia adalah seorang rosul dan seorang nabi. (QS. Maryam : 54)

Seorang nabi yang benar – benar bisa memegang janjinya adalah nabi Ismail, terbukti ketika Ibrahim mendiskusikan tentang perihal perintah Allah untuk menyembelih dirinya (Ismail), dengan sabar beliau menjawab “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang – orang yang sabar” (QS. Ash Saffat : 102). Dari kisah ini kita bisa mengambil ibrah bahwa mereka telah menerapkan sikap demokrasi dalam mencari solusi terbaik, nabi Ibrahim tidak serta merta melaksanakan perintah walaupun itu perintah Rabbnya Allah SWT, tapi justru beliau mengajarkan tentang sikap toleransi kepada anak dan umat islam selanjutnya. Dalam hal ini yang tak kalah pentingnya adalah bahwa beliau – beliau telah menepati janjinya dengan Rabbnya.

Setiap kita berbuat pasti ada akibat balasannya, berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, berbuat jahat akan dibalas pula dengan keburukan. Jika seseorang yang telah berjanji namun merusak janjinya atau tidak menepatinya, maka akan berdampak buruk juga bagi dirinya disamping kepercayaan umat yang menurun juga ada balasan setimpal dari Allah. Mari kita renungkan peringatan Allah kepada orang – orang yang merusak janjinya :
Orang – orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa – apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang – orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.( QS. Ar Ra’du : 25 )
Dalam pelantikan pejabat sudah menjadi lazimnya ada sebuah ceremonial – sacral yang di dalamnya ada Kitab Al-qur’an sebagai perantara agar pelantikan itu terasa diikrarkan dihadapan Rabb semesta alam. Dengan demikian jika kita menjadi seorang pemimpin, baik dalam skala kecil keluarga ataupun sampai pemimpin Negara kita mesti memegang teguh dan merealisasikan apa – apa janji dan kebijakan yang kita ikrarkan. Selanjutnya mendasarkan segala persoalan hidup kita baik prifacy maupun kolektif kepada Ajaran Ilahi yang telah secara lengkap menjawab berbagai masalah hidup kita baik kini dan mendatang, Dalam abad 21 ini berbagai problem mewarnai perubahan – perubahan zaman seiring dengan maraknya teknologi informasi yang mempercepat akses informasi dan kemudahan – kemudahan lainnya. Peranan umat islam dalam hal ini masih minim, maka umat islam dan para pemimpinnya hendaknya memulai dengan belajar dan mengambil hikmah dari para pemimpin – pemimpin islam yang terdahulu yang telah berhasil mewarnai bermacam kemajuan dalam segala disipiln ilmu dan para pemimpin dunia yang memang nyata – nyata memberikan perubahan yang signifikan kepada kemajuan zaman. Selanjutnya meniadakan perpecahan umat yang mengakibatkan lemah dan teradu domba. Kemudian secara nahniyah (kebersamaan) melangkah dan bekerja keras membangun peradaban dengan dimulai pendidikan yang bersasaran kemajuan.