PEMIMPIN PEMBANGUN PERADABAN
Akal yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia akan senantiasa mengantarkan kebebasannya dalam berfikir menyelesaikan beragam masalah yang terjadi dalam hidupnya baik secara pribadi ataupun kolektif, serta menerima pengaruh – pengaruh diluar dirinya guna mengambil sikap bijak dalam penyelesaian masalahnya tersebut. Untuk mengendalikan kebebasan pola fakir dan perbuatannya manusia membutuhkan perangkat diluar dirinya yakni sebuah peraturan sebagai kontrol dalam setiap kebebasannya karena setiap manusia memiliki naluri kebaikan dan kejahatan. Pelakasanaan aturan itu sendiri juga membutuhkan pengawasan guna merapikan pelaksanaan supremasinya. Dalam hal ini pengawas dalam menerapkan aturan – itu adalah pemerintah, sejauh mana pemerintah mendisiplinkan aturan – aturan untuk meraih keberhasilan yang dicita – citakan bersama adalah tergantung dari kepiawaian dan kebijakan – kebijakan yang diambil. Pimpinan yang diidealkan oleh masing – masing kelompok atau individu – individu umat sudah semestinya memiliki kualifikasi dan kredibilitas yang terbaik sehingga mampu menjalankan roda pemerintahan dengan penuh kenyamanan, kedamaian dan kesejahteraan.
Seorang sahabat Rosulullah SAW yang sangat tidak diragukan lagi loyalitasnya dan kepercayaannya kepada Rosulullah yakni Abu Bakar yang kemudian diberi gelar oleh Rosulullah sebaga As Sidiq memeberikan pelajaran berharga bagi para penerus generasi islam. Ketika beliau dilantik menjadi khalifah selepas wafatnya Rosulullah SAW beliau berkomitmen “taatlah kepadaku selagi aku taat kepada Allah, sekiranya aku menyeleweng atau melanggar perintah Allah maka janganlah taat kepadaku, tentanglah aku sehingga aku kembali kepada hukum Allah”. Demikianlah ekspresi seorang pemimpin yang memiliki kecintaan yang dalam terhadap umat dan amanahnya, beliau benar – benar tidak main – main menjaga amanah Allah dan penerapan hukum Allah, karena mendapat kepercayaan untuk memimpin berarti di dalamnya ada sebuah harapan besar terhadap perubahan – perubahan yang konkrit dan signifikan. Dalam sejarah islam Abu Bakar As Sidiq termasuk Khulafa’ur Rosidin satu – satunya yang dalam masa usianya tidak menjadi korban pembunuhan, ini menandakan betapa besar kepercayaan umat kepadanya. Bagaimanakah gambaran seorang pemimpin yang dikehendaki oleh Allah, Mari kita perhatikan pesan Ilahi kepada para pemimpin :
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (QS. Al Anbiya’ : 73)
Ayat di atas memberi gamabaran konkrit, bahwa pemimpin yang dikehendaki Allah adalah pemimpin yang mempunyai kualifikasi terbaik yang berkarakter membangun peradaban maju diantaranya :
1. Memberikan petunjuk (solusi) dengan berdasarkan wahyu/hukum Allah
Ajaran Ilahi adalah merupakan why of life, berfungsi sebagai pedoman – pedoman dan tatanan hidup dan kehidupan mulai dari pribadi, keluarga dan sampai dalam urusan bernegara. Berbagai bukti telahpun ditorehkan oleh para pelaku – pelaku qur’ani, mulai dari para nabi dan rosul dan diteruskan oleh sahabat – sahabatnya.
2. Mempunyai karya nyata
Sebuah contoh konkrit bahwa para nabi dan rosul telah membangun peradaban pada masanya, adalah nabi Ibrahim yang telah nyata membangun ka’bah yang sampai hari ini menjadi kiblat umat islam dalam sholat. Nabi Muhammadpun membangun sebuah peradaban yang dimulai dari Madinah Al Munawaroh sebuah negri yang menerapkan hukum Allah dan hasilnya banyak sekali peruubahan – perubahan yang dikaryakan. bukan hanya mencontohkan dalam hal spiritual dan akhlak saja namun membuat sebuah karya nyata sebagai pembuktian tanggung jawabnya.
3. Mentegakkan sholat secara ritual dan aktualisasinya dalam kehidupan
Penyembahan kepada yang maha pencipta sudah semestinya menjadi ritme kehidupan seorang pemimpin. Selanjutnya mampu mentuangkan makna sholat dalam aktualisasi kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.
4. Sanggup membersihkan dan mensucikan hartanya (mendermakan hartanya untuk kepentingan jalan Allah dan kepentingan Negara )
Ajaran Ilahi memiliki managemen ekonomi yang sangat bisa mensejahterakan umat, zakat adalah salah satu solusi yang dapat dipraktekkan untuk mengurangi masalah – masalah sosial kemasyarakatan, tidak hanya itu masalah – masalah negara yang belum teratasi akan memungkinkan dapat menjadi solusi riil jika kita bisa menanganinya. Dalam hal ini telahpun dicontohkan oleh Abu Bakar As Shidiq yang sangat serius menangani persoalan zakat dan infaq.
5. Memiliki keimanan yang tinggi kepada Allah dan tawakal kepadanya
Keimanan merupakan keyakinan mendalam terhadap sang khalik yakni Allah SWT sehingga berdampak kepada rasa suka (rughbah), takut (ruhbah), rasa hormat (ta’dzim) kepada sang Pencipta Allah SWT sehingga tidak terbesit bibit syirik sedikitpun walaupun seorang pemimpin itu mencapai klimaks keberhasilannya.
Perihal di atas adalah merupakan kriteria pemimpin yang berkarakter sholeh, yang sanggup bekerja keras untuk membawa perubahan, membangun peradaban maju dan terus menggulirkan bola salju kemajuan. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin benar – benar memiliki komitmen yang kuat terhadap bangsanya dan mempunyai karya nyata bukan hanya pandai berbicara. Sehingga mampu membawa Indonesia kepada perubahan – perubahan secara suistainable (berkesinambungan) dan membawa umatnya (rakyat) menuju Negara yang dicita – citakan yakni “baldatun toyibatun wa Rabbun gofur”, entah dari mana asal – uslnya bangsa Indonesia sering menggembor – gemborkan slogan tersebut namun sepertinya masih jauh dalam implementasinya, atau barangkali bercita – cita menjadikan Negara Indonesia sebagaimana Negara Madinah Munawaroh yang dibangun Rosulullah SAW empat belas abad yang silam.
Pemimpin Yang Menepati Janji
Baik buruknya seorang pemimpin menurut pandangan masyarakat adalah dinilai dari nyata tidaknya janji – janji yang disampaikan pada saat kampanye. Tidak bisa dihindari jika seorang pemimpin yang ingkar janji maka secara drastis kredibilitas pribadi dan kepemimpinannya akan merosot tajam dan mengahapus semua kebaikan dan jasanya kepada Negara. Oleh karena itu seorang pemimpin harus berusaha menjaga janjinya dengan sebaik baiknya, karena pembuktian kemampuan seorang pemimpin adalah merealisasikan janji – janjinya dan perubahan – perubahan yang berkepanjangan bukan karbitan. Sikap memenuhi janji akan bisa terwujud jika seorang memiliki jiwa tanggung jawab tinggi terhadap apapun ucapan yang diikrarkan. mari kita renungkan firman Allah dalam surat Maryam ayat 54 yang menjadika Nabi Ismail sebagai seorang pemimpin yang memegang janjinya, demikianlah pernyataan Allah sebagai berikut :
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. Dan dia adalah seorang rosul dan seorang nabi. (QS. Maryam : 54)
Seorang nabi yang benar – benar bisa memegang janjinya adalah nabi Ismail, terbukti ketika Ibrahim mendiskusikan tentang perihal perintah Allah untuk menyembelih dirinya (Ismail), dengan sabar beliau menjawab “hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu ; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang – orang yang sabar” (QS. Ash Saffat : 102). Dari kisah ini kita bisa mengambil ibrah bahwa mereka telah menerapkan sikap demokrasi dalam mencari solusi terbaik, nabi Ibrahim tidak serta merta melaksanakan perintah walaupun itu perintah Rabbnya Allah SWT, tapi justru beliau mengajarkan tentang sikap toleransi kepada anak dan umat islam selanjutnya. Dalam hal ini yang tak kalah pentingnya adalah bahwa beliau – beliau telah menepati janjinya dengan Rabbnya.
Setiap kita berbuat pasti ada akibat balasannya, berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, berbuat jahat akan dibalas pula dengan keburukan. Jika seseorang yang telah berjanji namun merusak janjinya atau tidak menepatinya, maka akan berdampak buruk juga bagi dirinya disamping kepercayaan umat yang menurun juga ada balasan setimpal dari Allah. Mari kita renungkan peringatan Allah kepada orang – orang yang merusak janjinya :
Orang – orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa – apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang – orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk.( QS. Ar Ra’du : 25 )
Dalam pelantikan pejabat sudah menjadi lazimnya ada sebuah ceremonial – sacral yang di dalamnya ada Kitab Al-qur’an sebagai perantara agar pelantikan itu terasa diikrarkan dihadapan Rabb semesta alam. Dengan demikian jika kita menjadi seorang pemimpin, baik dalam skala kecil keluarga ataupun sampai pemimpin Negara kita mesti memegang teguh dan merealisasikan apa – apa janji dan kebijakan yang kita ikrarkan. Selanjutnya mendasarkan segala persoalan hidup kita baik prifacy maupun kolektif kepada Ajaran Ilahi yang telah secara lengkap menjawab berbagai masalah hidup kita baik kini dan mendatang, Dalam abad 21 ini berbagai problem mewarnai perubahan – perubahan zaman seiring dengan maraknya teknologi informasi yang mempercepat akses informasi dan kemudahan – kemudahan lainnya. Peranan umat islam dalam hal ini masih minim, maka umat islam dan para pemimpinnya hendaknya memulai dengan belajar dan mengambil hikmah dari para pemimpin – pemimpin islam yang terdahulu yang telah berhasil mewarnai bermacam kemajuan dalam segala disipiln ilmu dan para pemimpin dunia yang memang nyata – nyata memberikan perubahan yang signifikan kepada kemajuan zaman. Selanjutnya meniadakan perpecahan umat yang mengakibatkan lemah dan teradu domba. Kemudian secara nahniyah (kebersamaan) melangkah dan bekerja keras membangun peradaban dengan dimulai pendidikan yang bersasaran kemajuan.
Jumat, 08 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar