Oleh : Rofiq Abidin
Rasulullah SAW menjuluki ia sebagai “pedang Allah” , sang panglima perang yang tak pernah mengalami kekalahan dalam setiap pertempuran yang dipimpinnya ialah Khalid bin Walid. Beliau adalah panglima perang di masa kepemimpinan Rasulullah SAW, Abu Baker dan Umar bin Khatab. Pada suatu saat di masa kepemimpinan Umar bin Khatab dengan izin Allah ia selalu menjadi pemenang dalam setiap pertempuran, sehingga para prajuritnya selalu memujanya, bahkan tidak sedikit orang yang mengarang syair dan melagukan kepahlawanan seorang Khalid bin Walid yang mashur itu.
Bagaimana sikap seorang khalifah Umar bin Khatab disaat – saat seperti itu ?. Pada saat Khalid bin Walid sedang menyusun strategi perang untuk menggempur Byzantium (Romawi Timur), datanglah perintah khalifah kepadanya, untuk meletakkan jabatan dan menyerahkannya kepada Abdullah bin Ubait. Khalid bin Walid yang sedang menyusun rapat pada saat itu tidak langsung membacakan surat khalifah itu, dengan perhitungan bahwa kalau tugas ini ditunaikan seketika, dikhawatirkan akan terjadi kekacauan dalam mengatur strategi penyerangan ke Byzantium.
Setelah usul – usulnya diterima dan rapat telah menetapkan satu keputusan bulat, selanjutnya beliau maju kemedan tempur untuk memberikan contoh bagaimana caranya menyerang kedepan, seraya menyabit kekanan dan kekiri, serta bagaiman mengacaukan mental musuh agar porak – poranda. Setelah semuanya selesai beliau mundur ke belakang untuk selanjutnya
pada setiap keluarga dapat dinikmatinya sampai akhir hayat.
menyerahkan jabatannya kepada Abdullah bin Uabit. Kemudian beliau memberikan laporan kepada khalifah bahwa perintah sudah ditunaikan. Setelah itu beliau meminta penjelasanperihal pemecatannya sebagai penglima perang. Apakah karena administrasinya yang lemah atau perihal yang lainnnya. Maka khalifah menegaskan bahwa masalahnya bukan itu, hal itu masih bisa dimaafkan jawab khalifah Umar, tetapi sebagai khalifah saya bertanggung jawab atas aqidah umat. Engkau adalah pahlawan perkasa yang tidak dapat dikalahkan setiap medan pertempuran, tetapi rakyat mulai menyanyikan lagu – lagu pujian untukmu dan tidak lagi memuji Allah semata, aku khawatir mereka menjadi syirik . setelah mendengar penjelasan khalifah beliau tersadar dan menerima keputusan khalifah dengan keikhlasan yang tinggi, beliaupun mundur dari hadapan khalifah, kemudian menuju medan pertempuran menyerang musuh – musuh Allah, tidak sebagai panglima namun sebagai prajurit biasa, di tengah pertempuran beliau berkata : “Aku bertempur dan berjuang bukan karena Umar, akan tetapi aku berjuang semata – mata karena Allah.
Demikianlah ekspresi tauhid sejati yang selalu mentaati perintah ulil amri dengan tulus dan setia hati, walaupun terkadang pada awalnya terasa tidak sehati, namun dibalik amanah dan perintah pasti ada hikmah dan pelajaran bagi mukmin yang tulus menunaikannnya.
Jumat, 08 Agustus 2008
KETAATAN KHALID BIN WALID
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar