REFLEKSI PERUBAHAN DALAM DIMENSI KEMENANGAN
Oleh : Rofiq Abidin
Sifat-sifat (karakter) yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan (kemenangan)yang besar. (QS. Fushilat : 35)
Selama sebulan umat islam telah mengikuti seruan Rabb (Tuhan) semesta alam yakni “shiam” atau puasa pada bulan Ramadhan, menahan segala yang membatalkan dan senantiasa berusaha memanagemen emosi yang terkadang naik – turun tergantung kepiawaian – kesabaran seseorang mengendalikannya. Tempaan dan ujian pada bulan pegendalian jiwa ini akan melahirkan karakter positif baru yang akan menjadi persiapan pada planning perubahan – perubahan yang telah ada dalam benak masing – masing mukmin, yang berharap menjadi hamba Allah yang lebih taat kepada syariat dan meningkatkan kualitas pribadinya sebagai hamba Tuhan yang mulya dan sukses menurut standardNya dan hamba - bambaNya. Tiba saatnya menapaki masa yang dimaknakan sebagai “peningkatan” yakni syawal, masa dimana akan menentukan seseorang (yang berpuasa) seberapa istiqomah mengikuti seruan Allah dan mengikuti bisikan nuraninya (suara hatinya) untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya yang telah meluap – luap dalam benaknya pada masa pengendalian jiwa. Mengingat perjalanan hidup yang penuh dengan ujian, kesempatan dan godaan diperlukan stabilitas dan progresifitas serta disiplin dalam menjalankan prinsip – prinsip hidup yang telah komitmenkan, sehingga senantiasa istiqomah dalam mengimplementasikannya dalam berbagai kondisi apapun, tidak mudah terprovokasi oleh hasutan dan rayuan – rayuan yang terasa indah tapi menghanyutkan.
CHARACTER BUILDING
Karakter mengandung makna, suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga menjadikan kepribadiannya menarik dan atraktif serta eksentrik (berbeda dengan yang lain). Dalam kamus Poerwadarminta karakter diartikan sebagai watak, tabiat, sifat – sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan daripada yang lain. Maka membangun karakter (character building) adalah merupakan proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik menarik berbeda dengan yang lain, ibarat sebuah huruf alphabet yang tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lain. Demikianlah orang – orang yang berkarakter dapat dibedakan antara yang satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau berkarakter tercela). Membangun karakter diperlukan refleksi yang mendalam dan prosesnya tidak seketika (instant) sehingga pahatan jiwanya benar – benar akan terbentuk dengan kokoh dan menjadi pribadi tangguh dalam segala masa dan kondisi.
REFLEKSI PERUBAHAN
Seseorang yang memproses pembangunan karakter dengan merefleksikan dan memanagemen emosi jiwanya akan melewati tiga nafs sebagai berikut :
1. Nafs Amarah, merupakan nafsu sesaat yang bersumber dari amarah negatif, prasangka buruk yang dapat membawa kita kepada tindak kejahatan/keburukan.
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu amarah itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Yusuf : 53)
Pesan Ilahi ini berawal dari kisah nabi Yusuf AS yang berusaha meyakinkan Raja Al Aziz bahwa dirinya tidak menghianatinya namun Yusuf sangat terbuka dan tidak akan lari dan bertanggung jawab, dengan berusaha menahan nafsu amarahnya karena nafs amarah akan membawa kepada kejahatan. Jelas bahwa nafs amarah akan berdampak negatif pada mental pribadi kita, karena seseorang yang jiwanya didominasi nafs amaran yang ada bukanlah akal sehat bukan kejernihan hati, namun sebuah luapan kekecewaan yang mendalam atau egoisentris yang sedang merajainya. Untuk itu kita mesti benar – benar dapat mengendalikan nafs amarah yang ada, tapi tetap memiliki emosional positif yang terwujud dalam semangat hidup, karena seseorang yang tak punya emosional akan sulit untuk mengembangkan dan memotivasi dirinya.
2. Nafs Lawamah
Adalah nafs (jiwa) yang secara intens mengefaluasi dirinya karena telah dimualinya kesadaran akan kesalahan – kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Secara bahasa nafs lawamah adalah ”jiwa yang amat menyesali”, mengingat – ingat kesalahannya/dosanya sehingga muncul keinginan untuk merubah kearah yang lebih baik. Seseorang yang telah terjerumus dalam dosa disebabkan nafs amarahnya, maka suatu saat akan sejenak merenungkan perbuatannya karena hati nurani akan selalu bertolak belakang dengan kejahatan/keburukan. Mari kita renungkan pesan Ilahi dibawah ini :
dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).(QS - AL Qiyamah : 2 )
Sedimikian pentingnya nafs lawamah sampai – sampai bersumpah dengan nafs itu, karena orang yang telah terpicu nafs lawamahnya bermakna ia akan mengingat Rabb yang telah menghadirkan dirinya didunia. Dalam penerapannya tidak boleh keterlaluan karena akan berdampak negatif karena akan larut dengan penyesalan yang dalam tanpa melangkah maju tapi hanya terdiam atau bahkan putus asa.
3. Nafs Mutmainah
Dalam merefleksikan karakter yang istiqomah seseorang yang telah mencapai nafs lawamah perlu melanjutkan estafet perjalan emosinya dengan menyulut nafs Mutma’inah atau jiwa yang tenang. Dengan menggunakan fikiran jernih dan hati yang bersih seseorang akan melanjutkan perubahan jiwanya dengan senantiasa berfikir tenang sebelum bertindak, sehingga senantiasa mengendalikan nafs amarahnya. Dengan nafs mutmainah ini pula kretifitas dan kedisiplinan akan mudah dibangun karena jiwa ini akan senantiasa sesuai dengan suara hatinya dan merasakan kepuasan bathin karena akan menuntun kepada keridhoan Rabb (pengatur) semesta alam. Berikut ini ayat yang menjelaskan tentangnya dalam Al Qur’an surat Al Fajr ayat : 27-28 :
27. Hai jiwa yang tenang.
28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
Demikian adalah refleksi proses memanagemen emosional yang dapat mempengaruhi pembangunan karakter istiqomah dalam melanjutkan perjalanan emosional – spiritual yang terbangun dari sebuah kesadaran. Maka untuk merefleksi kemenangan dalam penegendalian hawa nafsu dan emosianal, perlu kiranya kita tidak berhenti dengan nafs amarah namun terus melanjutkan spiritual emosionalnya kepada nafs lawamah dan nafs mutmainah sehingga senantiasa terus mencapai kemenangan dalam setiap saat.
Kamis, 18 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar