LA TAHZAN,
INDONESIA
Oleh : Rofiq Abidin
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.". Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal : 9-10)
Kesan mendalam dirasakan oleh para korban bencana alam, ribuan nyawa dan kerugian meteri menjadi kenyataan logis yang secara intens mengetuk hati kita untuk mengulurkan tangan kita, mengurangi beban mereka baik secara moril maupun materiil. Sadarlah bahwa bangsa kita Indonesia ditakdirkan hidup di atas 3 (tiga) lempeng besar dunia yaitu lempeng indoaustralia, lempeng eurasia dan lempeng pacific, bangsa kita memiliki kehidupan di atas puncak gunung sumatera, jawa, bali, lombok, sumbawa dan kepulauan maluku. Fakta geografis inilah yang menjadikan potensi rawan bencana alam sangat beragam di negara kita, maka sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan rakyat secara bersama-sama sehingga menemukan solusi yang bersifat prefentif dan efektif. Rintihan do’a para korban bencana alam seolah terdengar dimana-mana menstimulasi senssibility kita untuk berbuat dan berbagi dengan mereka. Subhanallah, Bala bantuan berupa bahan makanan, meteri ataupun secara moril berdatangan dengan deras dari berbagai kalangan baik lokal maupun luar negeri sehingga dapat memberikan ketentraman dalam hati mereka, terasa persudaraan yang begitu dalam antar sesama, dan akan sangat membantu psikologis mereka untuk terus hidup dan melanjutkan kehidupan.
Cobaan dan Hidayah Allah
Jika Allah telah menghendaki sesuatu tak ada yang dapat mengundur dan memajukannya sifat Al Irodah (maha berkehendak) Allah adalah merupakan hak perogratif Allah sebagai sang Khalik (Pencipta) Alam semesta, jika Dia menetapkan sesuatu keputusan maka tidak mungkin salah perhitungan karena segala kejadian di alam ini adalah merupakan taqdirNya, dalam makna Allah telah menentukan rumus kehidupan dan evaluasi pasti terhadap segala kemungkinan sikap makhlukNya, tidak ada taqdir yang salah yang ada adalah mengubah keadaannya (nasibnya) sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian hendaklah kita dapat mengambil hikmah dari sekian kejadian alam, sehingga tidak salah memaknainya dan mengambil sikap yang benar sesuai petnjukNya. Mari kita cermati pelajaran dari kisah nabi Musa AS dalam fimanNya sebagai berikut :
Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al A’raf :155).
Bagaimana kita memaknai cobaan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini ? apakah kita akan memperoleh hidayah atau justru kebingungan memaknakannya dengan adanya bencana alam. Jika kita menela’ah firman Allah di atas maka akan kita ambil dua sikap yakni “bertaubat dan berdo’a” sepertinya mudah kita ungkapkan, namun coba kita maknai secara mendalam bahwa bertaubat merupakan sikap evaluasi diri terhadap apa-apa yang telah kita lakukan kemudian menghentikan sesuatu yang dzolim/salah dan terus mengadakan perbaikan lebih baik. Sedangkan berdo’a merupakan permohonan seorang hamba kepada Rabbnya yang maha berkehendak atas segala upaya/usaha mencapai harapannya sehingga mendapatkan petunjuk yang benar-benar pasti atas kelurusan jiwa nya. Dengan dua sikap (bertaubat dan berdo’a) secara jernih kita akan segera kembali menemukan kebenaran dan petunjuk dari Allah SWT. Sehingga ketika mendapatkan musibah yang begitu dasyat dan bertubi-tubi kita tidak akan kehilangan kendali diri, karena senantiasa evaluasi dan memasrahkan diri kepada Rabbnya.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. (Al Baqoroh : 156)
inilah sikap pasrah seorang mukmin kepada Rabbnya, ikhlas dan bangkit kembali menemukan kembali optimismenya menggapai masa depan, bukan pasrah diam tanpa amal terlena dengan kesedihan. Segalanya datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada pemiliknya yang hakiki yakni Allah SWT.
Istiqomah dalam Musibah
Menghilangkan trauma dari sekian peristiwa kelam memang tidak mudah terhapus begitu saja, perlu escape positif untuk menemukan kembali semangat hidup, prinsip hidup dan keteguhan diri sehingga dapat istiqomah dengan komitmen dan cita-cita yang telah terikrarkan dalam hati. Kualitas keimanan seseorang akan terukur dari keteguhan dirinya ketika mendapati ujian, karena ujian merupakan sarana penilaian keimanan seseorang. Coba kita cermati pesan Ilahi berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
(Fushilat:30)
Komitmen diri dan keimanan seseorang pasti akan mendapatkan ujian untuk dapat diketahui kebenaran dan keteguhannya, apakah kita akan tetap teguh dengan kebenaran hati yang telah diikrarkan atau justru goyah dengan ujian yang terasa dasyat dan datang tanpa kenal kasihan. Ujian menjadi syarat mutlak pencapaian kualitas diri dan keimanan, maka tetap teguhlah dan lewatilah penuh kesabaran, jangan takut dengan bayangan tantangan karena kekuatan kita akan lebih besar dari tantangan itu karena Allah akan memberi cobaan sesuai dengan kesanggupannya (layukalifullah nafsan illla wus’aha) dan janganlah larut dalam kesedihan karena keikhlasan kita akan menjadi kekuatan besar yang dapat menembus tembok tantangan kehidupan. Hingga akhirnya kita akan mengambil hikmah dari musibah bahwa datangnya musibah yang begitu dasyat adalah kehendak Allah untuk dapat memilih siapa hambanya yang lebih mencintaiNya, teguh dengan keimananya, sehingga ia akan dapat memberi cahaya peringatan bagi segenap manusia untuk tetap terbimbing dalam kebenaran yang dapat mengantarkan kepada kesejahteraan duniawi maupun ukhrowi.
Pagi, 07.10
Jum'at, 04 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
Kamis, 16 Juli 2009
KESEHATAN
SEHAT SEPANJANG HAYAT
Oleh : Rofiq Abidin
Kesehatan merupakan anugerah Allah yang tak ternilai, Sejak awal kita sama – sama memahami bahwa islam sangat memperhatikan dan menanamkan kepada manusia untuk hidup sehat baik secara promotif, prefentif maupun protektif, hal ini bisa kita pahami dengan adanya penanaman gaya hidup bersih dan suci sebagai persyaratan kelangsungan peribadatan kita kepada sang Khalik Allah SWT, sebagai contoh kita perintahkan untuk membersihkan hadast kecil dengan ambil air wudlu dan hadats besar dengan mandi janabah dan masih banyak lagi ritual kebersihan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. islampun juga melarang prilaku – prilaku kotor misalnya minum minuman yang memabukkan, narkotika dan sejenisnya, termasuk juga pergaulan bebas (free sex) yang telah nyata menimbulkan penyakit AIDS. Namun dalam islam ibadah bukan berarti penyiksaan diri dan mengabaikan kesehatan, suatu ketika datang kepada Rosulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”. Ada Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup. Dengan demikian manusialah yang sangat mungkin memiliki kesempatan dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, karena setiap tindakan individu manusia akan berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan alam maka untuk mewujudkannya kehidupan yang sehat sepanjang hayat diperlukan tiga hal berikut ini :
1.Keseimbangan
Dalam melakukan sesuatu hendaklah kita tidak berlebihan, agar tidak menimbulkan masalah baru yang bersifat merugikan diri kita sendiri. Termasuk dalam hal menjaga kesehatan tubuh kita, misalnya kita makan hendaklah secukupnya, kekurangan makan menimbulkan penyakit, kelebihanpun mneimbulkan peyakit, maka sebaiknya kita bisa secara teratur dan seimbang baik kadar gizinya dan porsinya. Mari kita perhatikan pesan Ilahi berikut ini :
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al Infithaar : 7)
Begitu indah Allah memberikan pandangan kepada kita tetang fisik tubuh kita, bahwa bentuk tubuh kita sangatlah sempurna atau seriang kita kenal dengan ahsani takwim (sebaik-baik ciptaan). Subhanallah, begitu murahnya Allah yang telah menciptakan dengan sempurna, tinggal bagaimana kita mensyukurinya dengan menjaga keseimbangan tubuh kita yang begitu kompleks. Selanjutnya mari kita cermati pesan Ilahi di bawah ini :
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:31)
Sederhana adalah gambaran yang sangat mudah kita mengerti untuk menggambarkan tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu. Allah SWT sangat menegaskan agar dalam berpenampilan dan mengkonsumsi sesuatu tidak secara berlebih – lebihan atau secukupnya/sepantasnya.
2.Makanan Halal dan Baik (Heginis dan bergizi)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqoroh:168)
Seruan Allah kepada kita yang satu ini sepertinya sudah sangat kita pahami yakni senatiasa makan makanan yang dihalalkan oleh Allah dan bernilai baik. Halal dan baik (toyibah) sepertinya sudah menjadi nilai standart makanan bagi kaum muslim jika kita menginginkan keamanan bagi tubuh kita dan kenyamanan bagi hati kita dalam mengkonsumsi sesuatu. Nilai halal boleh jadi kita telah sama – sama paham kriterainya, namun nilai baik (toyib) perlu kita hayati secara mendalam karena kata “toyibah” disini adalah mengandung nilai yang sangat luas tentunya dalam tataran kesehatan makanan. Makanan yang bergizi adalah makanan yang cukup kualitas dan kuantitasnya serta mengandung unsure yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun makanan yang higenis adalah sesuatu yang sangat baik bagi tubuh atau yang tidak merusak tubuh mungkin itu deskripsi secara gampang. Adapun untuk menjaga agar makanan yang halal dan toyibah (bergizi dan Higenis) dapat kita konsumsi dengan efektif dan berdampak baik marilah kita perhatikan pola makan yang benar, yang pertama, adalah sebaik – baiknya makanan yang kita makan hendaknya kita melakukan dengan benar, adapun pola makan yang benar pertama tentunya seorang muslim hendaklah memulainya dengan basmallah atau berdo’a, selanjutnya kunyahlah sampai halus agar enzim berfungsi dengan baik karena enzim merupakan biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi), kemudian janganlah langsung minum ketika habis makan, agar seluruh makanan langsung tersebar keseluruh tubuh, minumlah 1 jam setelah makan.
3.Olah Raga
Dalam islam berolah raga bukanlah hal yang haram, namun jika dalam prakteknya bercampur dengan judi maka perbuatan itulah yang diharamkan. Sejak awal Rosulullah sudah memberikan isarat agar umat islam menjadi manusia yang “bastotan fil Ilmi wa Jismi” (Luas ilmunya dan Perkasa Tubuhnya). Inilah personifikasi umat yang menurut pandangan Allah memiliki wibawa dan salah satu kelayakan seorang pemimpin. Ada sebuah penemuan terbaru bahwa “ olah raga bekerja lebih baik dibanding kalsium dalam pembentukan tulang yang sehat dan kuat”, hal ini ditemukan oleh Tom Lioyd, Phd, seorang epidemiologist di Penn State university Callege of Medicate. Oleh karena itu oalh raga sangat penting bagi pertumbuhan tulang kelancaran aliran darah kita.
Menjaga kesehatan adalah merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kita tubuh yang sempurna, janganlah kita merusaknya dengan konsumsi yang haram dan membahayakan tubuh kita. Untuk itu dengan memperhatikan tiga hal di atas yakni, melakukan sesuatu dengan seimbang dan selaras, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik yang dapan menjaga kestabilan jiwa dan raga dan berolahraga secara teratur untuk menjaga keseimbangan aliran darah serta pembentukan tulang secara kuat dan sehat. Rosulullah berpesan kepada kita menjaga kesehatan kita sebelum sakit, maksudnya mairilah kita mengamalkan standart kesehatan dan menjaga dari hal yang menjadikan kita sakit.
Oleh : Rofiq Abidin
Kesehatan merupakan anugerah Allah yang tak ternilai, Sejak awal kita sama – sama memahami bahwa islam sangat memperhatikan dan menanamkan kepada manusia untuk hidup sehat baik secara promotif, prefentif maupun protektif, hal ini bisa kita pahami dengan adanya penanaman gaya hidup bersih dan suci sebagai persyaratan kelangsungan peribadatan kita kepada sang Khalik Allah SWT, sebagai contoh kita perintahkan untuk membersihkan hadast kecil dengan ambil air wudlu dan hadats besar dengan mandi janabah dan masih banyak lagi ritual kebersihan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. islampun juga melarang prilaku – prilaku kotor misalnya minum minuman yang memabukkan, narkotika dan sejenisnya, termasuk juga pergaulan bebas (free sex) yang telah nyata menimbulkan penyakit AIDS. Namun dalam islam ibadah bukan berarti penyiksaan diri dan mengabaikan kesehatan, suatu ketika datang kepada Rosulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”. Ada Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup. Dengan demikian manusialah yang sangat mungkin memiliki kesempatan dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, karena setiap tindakan individu manusia akan berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan alam maka untuk mewujudkannya kehidupan yang sehat sepanjang hayat diperlukan tiga hal berikut ini :
1.Keseimbangan
Dalam melakukan sesuatu hendaklah kita tidak berlebihan, agar tidak menimbulkan masalah baru yang bersifat merugikan diri kita sendiri. Termasuk dalam hal menjaga kesehatan tubuh kita, misalnya kita makan hendaklah secukupnya, kekurangan makan menimbulkan penyakit, kelebihanpun mneimbulkan peyakit, maka sebaiknya kita bisa secara teratur dan seimbang baik kadar gizinya dan porsinya. Mari kita perhatikan pesan Ilahi berikut ini :
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al Infithaar : 7)
Begitu indah Allah memberikan pandangan kepada kita tetang fisik tubuh kita, bahwa bentuk tubuh kita sangatlah sempurna atau seriang kita kenal dengan ahsani takwim (sebaik-baik ciptaan). Subhanallah, begitu murahnya Allah yang telah menciptakan dengan sempurna, tinggal bagaimana kita mensyukurinya dengan menjaga keseimbangan tubuh kita yang begitu kompleks. Selanjutnya mari kita cermati pesan Ilahi di bawah ini :
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:31)
Sederhana adalah gambaran yang sangat mudah kita mengerti untuk menggambarkan tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu. Allah SWT sangat menegaskan agar dalam berpenampilan dan mengkonsumsi sesuatu tidak secara berlebih – lebihan atau secukupnya/sepantasnya.
2.Makanan Halal dan Baik (Heginis dan bergizi)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqoroh:168)
Seruan Allah kepada kita yang satu ini sepertinya sudah sangat kita pahami yakni senatiasa makan makanan yang dihalalkan oleh Allah dan bernilai baik. Halal dan baik (toyibah) sepertinya sudah menjadi nilai standart makanan bagi kaum muslim jika kita menginginkan keamanan bagi tubuh kita dan kenyamanan bagi hati kita dalam mengkonsumsi sesuatu. Nilai halal boleh jadi kita telah sama – sama paham kriterainya, namun nilai baik (toyib) perlu kita hayati secara mendalam karena kata “toyibah” disini adalah mengandung nilai yang sangat luas tentunya dalam tataran kesehatan makanan. Makanan yang bergizi adalah makanan yang cukup kualitas dan kuantitasnya serta mengandung unsure yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun makanan yang higenis adalah sesuatu yang sangat baik bagi tubuh atau yang tidak merusak tubuh mungkin itu deskripsi secara gampang. Adapun untuk menjaga agar makanan yang halal dan toyibah (bergizi dan Higenis) dapat kita konsumsi dengan efektif dan berdampak baik marilah kita perhatikan pola makan yang benar, yang pertama, adalah sebaik – baiknya makanan yang kita makan hendaknya kita melakukan dengan benar, adapun pola makan yang benar pertama tentunya seorang muslim hendaklah memulainya dengan basmallah atau berdo’a, selanjutnya kunyahlah sampai halus agar enzim berfungsi dengan baik karena enzim merupakan biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi), kemudian janganlah langsung minum ketika habis makan, agar seluruh makanan langsung tersebar keseluruh tubuh, minumlah 1 jam setelah makan.
3.Olah Raga
Dalam islam berolah raga bukanlah hal yang haram, namun jika dalam prakteknya bercampur dengan judi maka perbuatan itulah yang diharamkan. Sejak awal Rosulullah sudah memberikan isarat agar umat islam menjadi manusia yang “bastotan fil Ilmi wa Jismi” (Luas ilmunya dan Perkasa Tubuhnya). Inilah personifikasi umat yang menurut pandangan Allah memiliki wibawa dan salah satu kelayakan seorang pemimpin. Ada sebuah penemuan terbaru bahwa “ olah raga bekerja lebih baik dibanding kalsium dalam pembentukan tulang yang sehat dan kuat”, hal ini ditemukan oleh Tom Lioyd, Phd, seorang epidemiologist di Penn State university Callege of Medicate. Oleh karena itu oalh raga sangat penting bagi pertumbuhan tulang kelancaran aliran darah kita.
Menjaga kesehatan adalah merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kita tubuh yang sempurna, janganlah kita merusaknya dengan konsumsi yang haram dan membahayakan tubuh kita. Untuk itu dengan memperhatikan tiga hal di atas yakni, melakukan sesuatu dengan seimbang dan selaras, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik yang dapan menjaga kestabilan jiwa dan raga dan berolahraga secara teratur untuk menjaga keseimbangan aliran darah serta pembentukan tulang secara kuat dan sehat. Rosulullah berpesan kepada kita menjaga kesehatan kita sebelum sakit, maksudnya mairilah kita mengamalkan standart kesehatan dan menjaga dari hal yang menjadikan kita sakit.
Rabu, 03 Juni 2009
SUNAN BONANG
SANG MAHAMUNI
Kenalkan anda dengan sunan bonang? pencipta tembang “tamba ati” yang sekarang sering kita dengar dari berbagai pegelaran atau pertunjukan atau bahkan sebelum shalat berjama’ah disurau-surau para yang santri melantunkannya. Beliau juga di sebut sebagai sang mahamuni karena kepiawaian beliau menabuh bonang yang dapat menyejukkan siapa saja yang mendengarkannya juga mampu menyadarkan beberapa perampok karena sesyahaduan dan dalamnya tembang Sunan Bonang. Raden Makdum Ibrahim adalah nama asli Sunan Bonang putra dari pasangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila. Sejak kecil Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin. Bahkan bersama Raden Paku (Sunan Giri) semasa remaja meneruskan pelajaran agamanya ke tanah sebrang, yaitu negri Pasai berguru kepada Syekh Awwalul Islam dan ulama’ besar yang menetap di Pasai, seperti ulama’ ahli tasawuf yang berasal dari bagdad Mesir, Arab dan Persi/Iran. Sesudah belajar di negri pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku kembali kepulau Jawa. Raden paku kebali ke Gresik dan mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal dengan Sunan Giri, sedangkan Raden Makdum Ibrahim diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk menjejakkan risalah di Tuban, dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang, yang merupakan jenis kuningan ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu di pukul maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih Raden Makdum sendiri yang membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali sekaligus musikus yang memiliki cita rasa seni yang tinggi sehingga banyak penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah cara sunan bongang mengambil simpatik masyarakat yakni dengan mengenali budaya dan pendekatan emosional yang unik sehingga dengan melagukan tembang-tembangnya secara langsung telah belajar nilai-nilai ajaran Islam. Diantara tembang-tembang yang terkenal ialah :
“Tomba ati iku lima sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindho shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ing kang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni, Insya Allag Gusti Allah nyembadani”
Artinya :
obat hati itu ada lima perkara :
Pertama membaca Al Qur’an dengan maknanya (artinya)
Kedua mengerkajan shalat malam (tahajud)
Ketiga sering bersahabat dengan orang shaleh (berilmu)
Keempat harus sering berprihatin (berpuasa)
Kelima sering berdzikir mengingat Allah diwaktu malam
Hingga sekarang lagu ini sangat familiar ditengah masyarakat terutama jawa, sering dilantunkan oleh santri-santri ketika hendak shalat berjama’ah. Selain dari pada itu musisi kondang yang sering dikenal dengan nama opick dan Emha Ainun Najib bersama kelompok musik kiyai kanjeng pun ikut memfamiliarkan lagu ini dalam setiap pertunjukan. Tembang sunan Bonang ini begitu mudah dipahami oleh masyarakat sehingga secara bertahap masyarakat mengamalkan nilai-nilai dasar islam ini dengan berpetunjuk Al Qur’an, maka dapat melakukan shalat baik wajib maupun yang sunnah (shalat malam), selanjutnya mendalami ilmu melalui orang-orang shaleh, kemudian memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan dengan melatihnya melalui puasa serta mengevaluasi dirinya terhadap kesalahan-kesalahannya melalu dzikir malam yang sunyi sehabis shalat malam. Dengan mengamalkan lima diantara nilai-nilai tembang ini maka hati yang goncang, hati yang gundah atau depresi akan terasa sejuk dan mendapatkan solusi karena lima nilai tembang ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menyiarkan ajaran Islam, sunan bonang sering mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ulumuddin dari Al Gozali, Al Anthaki dari dawud Al Antakhi juga tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Ajaran Sunan Bonang memuat tiga tiang utama : yakni tasawuf, usuluddin dan fiqih. Ajaran tasawuf misalnya, menurut versi Sunan Bonang bahwa bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan mencapai cinta Allah. Dengan tetap menjalankan shalat, zakat dan puasa, manusia harus menjauhi 3 musuh utama yakni : Hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), hawa nafsu, dan syaitan. Maka untuk menghindari 3 hal itu manusia dianjurkan tidak banyak bicara tapi tidak ada mengamalkan, berikap rendah hati, tidak mudah putus asa, senantiasa besyukur atas nikmat Allah SWT.
Dalam perjalanan dakwahnya beliaupun menyadarkan diantaranya seorang pemimpin perampok berserta anak buahnya bernama kebondanu dengan menggunakan tembang dan gending dharma serta irama macopat, selanjutnya beliaupun juga pernah menyadarkan seorang brahmana berserta anak buahnya yang hendak menantang dan mengadu kedalaman ilmunya, namun belum sempat melaksanakan niatnya mereka telah mendapatkan pelajaran berharga dengan ditemukannya kitab-kitabnya yang hilang oleh Sunan Bonang, yang selanjutnya dikembalikan kepada brahmana tersebut sehingga langsung tersadar bahwa betapa mulya budi pekerti Sunan Bonang. Semua orang yang telah disadarkan oleh Sunan Bonang, mereka berguru dan mendalami islam melalui Sunan Bonang. Dengan banyaknya Sunan Bonang menyebarkan Ajaran Islam dengan menggunakan bebunyian bonang maka masyarakatpun memberinya gelar ”Sang Mahamuni”.
Kenalkan anda dengan sunan bonang? pencipta tembang “tamba ati” yang sekarang sering kita dengar dari berbagai pegelaran atau pertunjukan atau bahkan sebelum shalat berjama’ah disurau-surau para yang santri melantunkannya. Beliau juga di sebut sebagai sang mahamuni karena kepiawaian beliau menabuh bonang yang dapat menyejukkan siapa saja yang mendengarkannya juga mampu menyadarkan beberapa perampok karena sesyahaduan dan dalamnya tembang Sunan Bonang. Raden Makdum Ibrahim adalah nama asli Sunan Bonang putra dari pasangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila. Sejak kecil Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin. Bahkan bersama Raden Paku (Sunan Giri) semasa remaja meneruskan pelajaran agamanya ke tanah sebrang, yaitu negri Pasai berguru kepada Syekh Awwalul Islam dan ulama’ besar yang menetap di Pasai, seperti ulama’ ahli tasawuf yang berasal dari bagdad Mesir, Arab dan Persi/Iran. Sesudah belajar di negri pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku kembali kepulau Jawa. Raden paku kebali ke Gresik dan mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal dengan Sunan Giri, sedangkan Raden Makdum Ibrahim diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk menjejakkan risalah di Tuban, dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang, yang merupakan jenis kuningan ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu di pukul maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih Raden Makdum sendiri yang membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali sekaligus musikus yang memiliki cita rasa seni yang tinggi sehingga banyak penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah cara sunan bongang mengambil simpatik masyarakat yakni dengan mengenali budaya dan pendekatan emosional yang unik sehingga dengan melagukan tembang-tembangnya secara langsung telah belajar nilai-nilai ajaran Islam. Diantara tembang-tembang yang terkenal ialah :
“Tomba ati iku lima sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindho shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ing kang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni, Insya Allag Gusti Allah nyembadani”
Artinya :
obat hati itu ada lima perkara :
Pertama membaca Al Qur’an dengan maknanya (artinya)
Kedua mengerkajan shalat malam (tahajud)
Ketiga sering bersahabat dengan orang shaleh (berilmu)
Keempat harus sering berprihatin (berpuasa)
Kelima sering berdzikir mengingat Allah diwaktu malam
Hingga sekarang lagu ini sangat familiar ditengah masyarakat terutama jawa, sering dilantunkan oleh santri-santri ketika hendak shalat berjama’ah. Selain dari pada itu musisi kondang yang sering dikenal dengan nama opick dan Emha Ainun Najib bersama kelompok musik kiyai kanjeng pun ikut memfamiliarkan lagu ini dalam setiap pertunjukan. Tembang sunan Bonang ini begitu mudah dipahami oleh masyarakat sehingga secara bertahap masyarakat mengamalkan nilai-nilai dasar islam ini dengan berpetunjuk Al Qur’an, maka dapat melakukan shalat baik wajib maupun yang sunnah (shalat malam), selanjutnya mendalami ilmu melalui orang-orang shaleh, kemudian memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan dengan melatihnya melalui puasa serta mengevaluasi dirinya terhadap kesalahan-kesalahannya melalu dzikir malam yang sunyi sehabis shalat malam. Dengan mengamalkan lima diantara nilai-nilai tembang ini maka hati yang goncang, hati yang gundah atau depresi akan terasa sejuk dan mendapatkan solusi karena lima nilai tembang ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menyiarkan ajaran Islam, sunan bonang sering mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ulumuddin dari Al Gozali, Al Anthaki dari dawud Al Antakhi juga tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Ajaran Sunan Bonang memuat tiga tiang utama : yakni tasawuf, usuluddin dan fiqih. Ajaran tasawuf misalnya, menurut versi Sunan Bonang bahwa bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan mencapai cinta Allah. Dengan tetap menjalankan shalat, zakat dan puasa, manusia harus menjauhi 3 musuh utama yakni : Hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), hawa nafsu, dan syaitan. Maka untuk menghindari 3 hal itu manusia dianjurkan tidak banyak bicara tapi tidak ada mengamalkan, berikap rendah hati, tidak mudah putus asa, senantiasa besyukur atas nikmat Allah SWT.
Dalam perjalanan dakwahnya beliaupun menyadarkan diantaranya seorang pemimpin perampok berserta anak buahnya bernama kebondanu dengan menggunakan tembang dan gending dharma serta irama macopat, selanjutnya beliaupun juga pernah menyadarkan seorang brahmana berserta anak buahnya yang hendak menantang dan mengadu kedalaman ilmunya, namun belum sempat melaksanakan niatnya mereka telah mendapatkan pelajaran berharga dengan ditemukannya kitab-kitabnya yang hilang oleh Sunan Bonang, yang selanjutnya dikembalikan kepada brahmana tersebut sehingga langsung tersadar bahwa betapa mulya budi pekerti Sunan Bonang. Semua orang yang telah disadarkan oleh Sunan Bonang, mereka berguru dan mendalami islam melalui Sunan Bonang. Dengan banyaknya Sunan Bonang menyebarkan Ajaran Islam dengan menggunakan bebunyian bonang maka masyarakatpun memberinya gelar ”Sang Mahamuni”.
MINDSET
KOMUNIKASI KUNCI KEHARMONISAN
OLEH : ROFIQ ABIDIN
Di setiap sudut kehidupan pasti akan anda dapati aktivitas komunikasi, di ruang kerja, meja makan, di tempat-tempat umum dan lain sebagainya, bahkan ketika kita dalam keadaan sendiri pun terjadi aktivitas komunikasi. Mengingat komunikasi merupakan sarana penting untuk menunjang pemenuhan kebutuhan manusia maka diperlukan pola yang efisien dan efektif sehingga dapat mencapai goal yang diinginkan. Jika pola kita salah dalam mengkomunikasikan sesuatu maka akan berdampak pada respon dan reaksi audien (lawan bicara) karena sesuatu yang bernilai positif jika dikomunikasikan dengan kurang tepat bisa jadi akan dinilai negatif. Sering kita bermaksud baik-baik kepada teman kita, atau mungkin pasangan kita, tapi karena cara mengkomunikasikan kurang efektif atau waktunya kurang tepat maka dianggaplah itu sesuatu yang negatif/salah. Mintalah maaf jika lawan bicara kita salah menerima, jelaskan kembali secara efektif sehingga dapat menangkap dengan tepat pesan yang anda sampaikan. Oleh karena itu berfikirlah tenang sebelum mengkomunikasikan sesuatu, jangan panik, karena terkadang panik akan membuyarkan pesan yang akan kita sampaikan. Hematnya komunikasi sangat menentukan keharmonisan hubungan dan keberhasilan mencapai tujuan, maka janganlah mengabaikan komunikasi baik dengan pasangan kita, rekan kerja, atasan ataupun bawahan.
Begitu pentingnya komunikasi, maka Allah SWT pun menganjurkan untuk menjaga yang sering kita kenal dengan hablum minallah dan hablum minannas. Secara garis besar kita bisa mengetahui jenis-jenis komunikasi meliputi : 1). Komunikasi dengan sang Pencipta, 2). Komunikasi dengan manusia, 3). Komunikasi dengan diri sendiri, 4) Komunikasi dengan alam. Perhatikanlah, semua jenis komunikasi tersebut merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dalam mencapai kehendak yang diharapkan bersama. Pertama, dengan Allah sebagai sang pencipta. Untuk menjaga keharmonisan kita dengan Allah biasanya kita akan berkomunikasi melalui sholat, do’a, dzikir dan apapun yang berhubungan dengan spiritual sebagai bakti kita kepadaNya, dan sering kita sebut dengan ibadah. Kedua, meningkatkan hubungan komunikasi dengan manusia, baik dengan pasangan kita, keluarga kita, teman ataupun rekan kerja bahkan kepada orang yang tak dikenal. Hendaklah kita selalu menjaga komunikasi dengan mereka baik secara lisan dan perbuatan karena keharmonisan hubungan akan ditentukan bagaimana dan seberapa sering kita berkomunikasi secara efektif. Ketiga, seseorang perlu berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk menjaga kestabilan jiwa dan emosionalnya melalui mahasabbah (koreksi diri) agar lebih bijak dalam mengambil langkah, merenung, berkomitmen (berazam) untuk menguatkan kemauan dan lain-lain. Sekali lagi perhatikanlah pola komunikasi kita, jangan mengabaikan kualitasnya agar selalu efektif. Keempat, sekeliling kita menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk alam semesta, baik binatang, tetumbuhan, dan apa saja di alam ini yang selalu berinteraksi dengan kita secara langsung ataupun tidak, maka marilah kita berusaha menjaga keseimbangan alam dalam bentuk menjaga, memelihara, merawatnya, karena setiap ketidakseimbangan alam akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia.
Keseimbangan dalam mengkomunikasikan sesuatu pesan akan dapat menjaga keharmonisan dalam berhubungan dengan siapa saja, maka cobalah selalu berusaha efektif dalam menyampaikan sesuatu agar tidak terkesan main-main. Walaupun terkadang intermezo memang sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana dan mengusir ketegangan yang akan membuat hati menjadi lapang dan akal dalam keadaan fresh sehingga mudah menangkap pesan dan informasi.
OLEH : ROFIQ ABIDIN
Di setiap sudut kehidupan pasti akan anda dapati aktivitas komunikasi, di ruang kerja, meja makan, di tempat-tempat umum dan lain sebagainya, bahkan ketika kita dalam keadaan sendiri pun terjadi aktivitas komunikasi. Mengingat komunikasi merupakan sarana penting untuk menunjang pemenuhan kebutuhan manusia maka diperlukan pola yang efisien dan efektif sehingga dapat mencapai goal yang diinginkan. Jika pola kita salah dalam mengkomunikasikan sesuatu maka akan berdampak pada respon dan reaksi audien (lawan bicara) karena sesuatu yang bernilai positif jika dikomunikasikan dengan kurang tepat bisa jadi akan dinilai negatif. Sering kita bermaksud baik-baik kepada teman kita, atau mungkin pasangan kita, tapi karena cara mengkomunikasikan kurang efektif atau waktunya kurang tepat maka dianggaplah itu sesuatu yang negatif/salah. Mintalah maaf jika lawan bicara kita salah menerima, jelaskan kembali secara efektif sehingga dapat menangkap dengan tepat pesan yang anda sampaikan. Oleh karena itu berfikirlah tenang sebelum mengkomunikasikan sesuatu, jangan panik, karena terkadang panik akan membuyarkan pesan yang akan kita sampaikan. Hematnya komunikasi sangat menentukan keharmonisan hubungan dan keberhasilan mencapai tujuan, maka janganlah mengabaikan komunikasi baik dengan pasangan kita, rekan kerja, atasan ataupun bawahan.
Begitu pentingnya komunikasi, maka Allah SWT pun menganjurkan untuk menjaga yang sering kita kenal dengan hablum minallah dan hablum minannas. Secara garis besar kita bisa mengetahui jenis-jenis komunikasi meliputi : 1). Komunikasi dengan sang Pencipta, 2). Komunikasi dengan manusia, 3). Komunikasi dengan diri sendiri, 4) Komunikasi dengan alam. Perhatikanlah, semua jenis komunikasi tersebut merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dalam mencapai kehendak yang diharapkan bersama. Pertama, dengan Allah sebagai sang pencipta. Untuk menjaga keharmonisan kita dengan Allah biasanya kita akan berkomunikasi melalui sholat, do’a, dzikir dan apapun yang berhubungan dengan spiritual sebagai bakti kita kepadaNya, dan sering kita sebut dengan ibadah. Kedua, meningkatkan hubungan komunikasi dengan manusia, baik dengan pasangan kita, keluarga kita, teman ataupun rekan kerja bahkan kepada orang yang tak dikenal. Hendaklah kita selalu menjaga komunikasi dengan mereka baik secara lisan dan perbuatan karena keharmonisan hubungan akan ditentukan bagaimana dan seberapa sering kita berkomunikasi secara efektif. Ketiga, seseorang perlu berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk menjaga kestabilan jiwa dan emosionalnya melalui mahasabbah (koreksi diri) agar lebih bijak dalam mengambil langkah, merenung, berkomitmen (berazam) untuk menguatkan kemauan dan lain-lain. Sekali lagi perhatikanlah pola komunikasi kita, jangan mengabaikan kualitasnya agar selalu efektif. Keempat, sekeliling kita menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk alam semesta, baik binatang, tetumbuhan, dan apa saja di alam ini yang selalu berinteraksi dengan kita secara langsung ataupun tidak, maka marilah kita berusaha menjaga keseimbangan alam dalam bentuk menjaga, memelihara, merawatnya, karena setiap ketidakseimbangan alam akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia.
Keseimbangan dalam mengkomunikasikan sesuatu pesan akan dapat menjaga keharmonisan dalam berhubungan dengan siapa saja, maka cobalah selalu berusaha efektif dalam menyampaikan sesuatu agar tidak terkesan main-main. Walaupun terkadang intermezo memang sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana dan mengusir ketegangan yang akan membuat hati menjadi lapang dan akal dalam keadaan fresh sehingga mudah menangkap pesan dan informasi.
Langganan:
Komentar (Atom)
