LA TAHZAN,
INDONESIA
Oleh : Rofiq Abidin
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.". Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal : 9-10)
Kesan mendalam dirasakan oleh para korban bencana alam, ribuan nyawa dan kerugian meteri menjadi kenyataan logis yang secara intens mengetuk hati kita untuk mengulurkan tangan kita, mengurangi beban mereka baik secara moril maupun materiil. Sadarlah bahwa bangsa kita Indonesia ditakdirkan hidup di atas 3 (tiga) lempeng besar dunia yaitu lempeng indoaustralia, lempeng eurasia dan lempeng pacific, bangsa kita memiliki kehidupan di atas puncak gunung sumatera, jawa, bali, lombok, sumbawa dan kepulauan maluku. Fakta geografis inilah yang menjadikan potensi rawan bencana alam sangat beragam di negara kita, maka sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan rakyat secara bersama-sama sehingga menemukan solusi yang bersifat prefentif dan efektif. Rintihan do’a para korban bencana alam seolah terdengar dimana-mana menstimulasi senssibility kita untuk berbuat dan berbagi dengan mereka. Subhanallah, Bala bantuan berupa bahan makanan, meteri ataupun secara moril berdatangan dengan deras dari berbagai kalangan baik lokal maupun luar negeri sehingga dapat memberikan ketentraman dalam hati mereka, terasa persudaraan yang begitu dalam antar sesama, dan akan sangat membantu psikologis mereka untuk terus hidup dan melanjutkan kehidupan.
Cobaan dan Hidayah Allah
Jika Allah telah menghendaki sesuatu tak ada yang dapat mengundur dan memajukannya sifat Al Irodah (maha berkehendak) Allah adalah merupakan hak perogratif Allah sebagai sang Khalik (Pencipta) Alam semesta, jika Dia menetapkan sesuatu keputusan maka tidak mungkin salah perhitungan karena segala kejadian di alam ini adalah merupakan taqdirNya, dalam makna Allah telah menentukan rumus kehidupan dan evaluasi pasti terhadap segala kemungkinan sikap makhlukNya, tidak ada taqdir yang salah yang ada adalah mengubah keadaannya (nasibnya) sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian hendaklah kita dapat mengambil hikmah dari sekian kejadian alam, sehingga tidak salah memaknainya dan mengambil sikap yang benar sesuai petnjukNya. Mari kita cermati pelajaran dari kisah nabi Musa AS dalam fimanNya sebagai berikut :
Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al A’raf :155).
Bagaimana kita memaknai cobaan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini ? apakah kita akan memperoleh hidayah atau justru kebingungan memaknakannya dengan adanya bencana alam. Jika kita menela’ah firman Allah di atas maka akan kita ambil dua sikap yakni “bertaubat dan berdo’a” sepertinya mudah kita ungkapkan, namun coba kita maknai secara mendalam bahwa bertaubat merupakan sikap evaluasi diri terhadap apa-apa yang telah kita lakukan kemudian menghentikan sesuatu yang dzolim/salah dan terus mengadakan perbaikan lebih baik. Sedangkan berdo’a merupakan permohonan seorang hamba kepada Rabbnya yang maha berkehendak atas segala upaya/usaha mencapai harapannya sehingga mendapatkan petunjuk yang benar-benar pasti atas kelurusan jiwa nya. Dengan dua sikap (bertaubat dan berdo’a) secara jernih kita akan segera kembali menemukan kebenaran dan petunjuk dari Allah SWT. Sehingga ketika mendapatkan musibah yang begitu dasyat dan bertubi-tubi kita tidak akan kehilangan kendali diri, karena senantiasa evaluasi dan memasrahkan diri kepada Rabbnya.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. (Al Baqoroh : 156)
inilah sikap pasrah seorang mukmin kepada Rabbnya, ikhlas dan bangkit kembali menemukan kembali optimismenya menggapai masa depan, bukan pasrah diam tanpa amal terlena dengan kesedihan. Segalanya datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada pemiliknya yang hakiki yakni Allah SWT.
Istiqomah dalam Musibah
Menghilangkan trauma dari sekian peristiwa kelam memang tidak mudah terhapus begitu saja, perlu escape positif untuk menemukan kembali semangat hidup, prinsip hidup dan keteguhan diri sehingga dapat istiqomah dengan komitmen dan cita-cita yang telah terikrarkan dalam hati. Kualitas keimanan seseorang akan terukur dari keteguhan dirinya ketika mendapati ujian, karena ujian merupakan sarana penilaian keimanan seseorang. Coba kita cermati pesan Ilahi berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
(Fushilat:30)
Komitmen diri dan keimanan seseorang pasti akan mendapatkan ujian untuk dapat diketahui kebenaran dan keteguhannya, apakah kita akan tetap teguh dengan kebenaran hati yang telah diikrarkan atau justru goyah dengan ujian yang terasa dasyat dan datang tanpa kenal kasihan. Ujian menjadi syarat mutlak pencapaian kualitas diri dan keimanan, maka tetap teguhlah dan lewatilah penuh kesabaran, jangan takut dengan bayangan tantangan karena kekuatan kita akan lebih besar dari tantangan itu karena Allah akan memberi cobaan sesuai dengan kesanggupannya (layukalifullah nafsan illla wus’aha) dan janganlah larut dalam kesedihan karena keikhlasan kita akan menjadi kekuatan besar yang dapat menembus tembok tantangan kehidupan. Hingga akhirnya kita akan mengambil hikmah dari musibah bahwa datangnya musibah yang begitu dasyat adalah kehendak Allah untuk dapat memilih siapa hambanya yang lebih mencintaiNya, teguh dengan keimananya, sehingga ia akan dapat memberi cahaya peringatan bagi segenap manusia untuk tetap terbimbing dalam kebenaran yang dapat mengantarkan kepada kesejahteraan duniawi maupun ukhrowi.
Pagi, 07.10
Jum'at, 04 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar