Deretan bencana yang melanda nusantara kerapkali menjadi perbincangan yang selalu aktual untuk didiskusikan dikarenakan sampai saat ini masih belum berhenti bahkan terus melanda nusantara secara bergiliran, namun tidak jarang perbincangan itu ngambang tanpa solusi, langkah dan kesimpulan yang konkrit. Berbagai pernyataan tentang datangnya bencana/musibah yang melanda nusantara mulai dari pernyataan bahwa bencana ini adalah adzab Allah, ada juga yang menilai ini adalah ujian Allah, bahkan tidak sedikit yang mengkalaim ini adalah bagian dari keseimbangan alam atau bahkan juga ada yang berkelekar “mungkin ini sudah takdir”. Berbagai dugaan dan argumentasi hendaknya tidak sampai pada meja diskusi saja, namun kita mesti mengambil langkah – langkah konkrit serta menyiapkan tindakan preventif untuk mewaspadai daerah – daerah yang rawan bencana.
Apa makna sesungguhnya dibalik runtutan bencana ini ? Sebagai ummat islam kita punya pedoman hidup (why of life) ialah Al Qur’an yang lengkap yang kita yakini sebagai solusi setiap teka – teki di alam ini. Dalam pandangan wahyu setiap musibah ada dua kemungkinan yakni musibah/bencana adalah ujian bagi orang – orang yang beriman dan adzab bagi yang kufur (ingkar). Bagaimanakah kategorisasi orang yang beriman dan orang yang ingkar? bisakah manusia merumuskan status keimanan dan keingkaran seseorang, tentunya akan terasa salah faham dan terasa ekstrim jika seseorang mentakfirkan seseorang karena hanya Allah SWT yang berhak menilai seseorang iman atau kufur. Lantas bagaimanakah caranya Allah menilai, sehingga kita tahu benar – benar keberadaan kita? Mari kita cermati firman Allah dala Surat Muhammad ayat 3 sebagai berikut :
”Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang – orang yang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang – orang yang beriman mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demukianlah Allah membuat perbandingan – perbandingan bagi mereka”.
Alqur’an adalah sarana yang berfungsi sebagai furqon (pembeda) antara yang haq dan yang batil, jika kita mengkaji betul kejadian demi kejadian kita akan dapat mendapat jawaban pasti tentang yang haq dan yang batil. Apabila kita cermati surat Muhammad ayat 3 di atas Allah membuat perbandingan – perbandingan dengan standart yang jelas yakni yang “beriman mengikuti yang haq yang datang dari Allah yakni Al Qur’an dan yang kufur adalah mengikuti yang batil”. Yang menjadi pertanyaan sudahkah negri ini menggunakan Al Qur’an sebagai pedoman hidup (why of life) atau justru pedoman yang lain?
Musibah/Bencana Merupakan Ujian Bagi Orang Beriman
Berbagai fenomena dan pengalaman yang pernah menimpa diri kita perlulah kita bermahasabah (mengkoreksi diri) karena kadang kadang musibah itu memeng diluar perhitungan kita, padahal kita sudah merasa tidak keluar dari pada tuntunan (standart wahyu), maka kita mesti menjadikan musibah/bencana itu sebagai ujian dari Allah SWT agar kualitas iman kita lebih meningkat, maka janganlah berprasangka buruk kepada Allah SWT karena Allah itu adalah Al Adlu (maha adil), terkadang merasa bahwa Allah itu tidak adil, padahal sudah berbuat sesuai dengan perintahNya tapi masioh diuji dengan musibah – musibah, namun ada orang yang cuek dengan wahyu Allah justru diberikan karunia yang melimpah. Pemahaman seperti ini adalah penyakit hati, maka bersegeralah istigfar, karena sesungguhnya Allah tidak akan meguji seseorang kecuali dia mampu (sanggup), jadi sebenarnya Allah sudah menakar (mengukur) kemampuan seseorang. Mari kita perhatikan firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat : 285 sebagai berikut :
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…..”
Dari informasi Allah tersebut kita bisa memahami bahwa seseorang akan di beri beban (musibah, bencana, ujian, masalah) melainkan sesuai dengan kesanggupannya jasi pasti semua sudah diukur dengan cermat dan tepat oleh Allah yang maha adil dan maha pandai dan tidak mungkin Allah salah
T A B A Y U N
8
hitung. Namun yang menjadikan orang itu tidak mencapai dan menyelesaikan masalahnya adalah dia telah menyerah sebelum mengeluarkan segala potensinya. Perasan menyerah dikarenakan dihantui oleh ketakutan yang berlebihan sehingga seolah – olah terbayangkan bahwa ia tak kuasa mencapainya / menyelesaikannya, padahal ia punya senjata potensi yang dapat memecahkan persoalan itu, namun karena senjata potensinya masih tersimpan maka seperti sudah tak kuat menahan beban yang telah ada. Maka orang yang beriman harus memiliki ketahannan mental dan tawakal serta keuletan yang pada akhirnya dapat menemukan inovasi dan menstimulan potensi – potensi pribadinya. Karena mukmin yang senantiasa mengikuti kebenaran wahyu akan memahami bahwa Allah mempunyai maksud hasanah (baik) dibalik ujian yang menimpanya.
Musibah/Bencana Merupakan adzab Bagi Orang kufur ( mengingkari Qur’an)
Perbuatan dan prilaku manusia akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya dimasa yang akan datang, karena barang siapa yang berbuat kejahatan otomatis akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa musibah yang menimpa itu adalah adzab Allah ? Dengan terus meneruh mengefaluasi diri seseorang akan mengingat kesalahan / dosa yang pernah diperbuat, sehingga jika seseorang sudah mengingat bahwa musibah itu ada keterkaitannnya dengan perbuatan dosa sebelumnya, maka dia akan faham benar bahwa musibah itu adalah sebagai Adzab / balasan setimpal atas perbuatannya selama ini. musibah yang menimpa sekelompok manusia ada kontemplasinya dengan perbuatan individu – individu manusia. Jika individu – individu manusia dalam kehidupannya banyak mengingkari ayat Allah atau bahkan tidak mau mengambil Al Qur’an sebagai landasan hidupnya maka secara otomatis akan ada balasan – balasan dari Allah sebagai konsekwensi logis karena perbuatannya sendiri. Allah menghendaki kehidupan ini sesuai dengan aturanNya yakni aturan yang dibuatnya adalah Al Qur’an, maka jika dalam kenyataannya manusia tidak sesuai dengan aturanNya maka terjadilah resiko – resiko yang dihadapi. Laksana
perusahaan yang telah membuat aturan – turan dalam bekerja namun bagi karyawan yang tidak mengikutinya secara otomatis dia akan terkena hukuman atau peringatan bahkan sampai kepada PHK (pemecatan). Dalam kehidupannya manusia diberikan kebebasan berfikir mengambil jalan kebenaran yang sesuai dengan wahyu atau mengikuti kebatilan yang mengingkari wahyu semua ada resiko – resiko logis dan balasan yang setimpal atas jalan yang ditempuhnya. Mari kita cermati surat Al Ma’dah : 49 :
Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati – hatilah kamu terhdap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagaian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling dari (hukum – hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa – dosa mereka. Dan seseungguhnya kebanyakan manusia adalah orang – orang yang fasik.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia?
Dengan petunjuk wahyu Al-qur’an semestinya kita dapat bertabayun dengan apa – apa yang menimpa bangsa Indonesia ini. Karena fungsi Al Qu’an sebagai Furqon atau pembeda yang memilah antara haq dan batil. Jika kita tela’ah secara mendalam bangsa Indonesia adalah ummat islam terbesar didunia secara kuantitas, namun kebanyakan sikap – sikap kejahiliahan juga diperbuat umat islam dan perpecahan umat islam yang terus bergejolak menjadikan umat islam tidak mau merajut ukhwah islamiah yang pada akhirnya bersama – sama menjadikan Al Qur’an ini sebagai landasan hidup dalam keseharian sampai pada urusan berbangsa dan bernegara, tidak memilah – milah urusan dalam menerapkan Al Qur’an. Sudahkah bangsa indonsia ini landasan hidup dan hukumnya bersumber dari apa – apa yng diturunkan Allah (Al Qur’an) ? sebagaimana dalam surat Al –Ma’idah : 49 jika belum berlandaskan dengan apa – apa yang diturunkan Allah atau mengikuti hawa nafsunya maka musibah yang dating adalah Adzab Allah atas pengingkaran terhadap Al Qur’an.
