LA TAHZAN,
INDONESIA
Oleh : Rofiq Abidin
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.". Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal : 9-10)
Kesan mendalam dirasakan oleh para korban bencana alam, ribuan nyawa dan kerugian meteri menjadi kenyataan logis yang secara intens mengetuk hati kita untuk mengulurkan tangan kita, mengurangi beban mereka baik secara moril maupun materiil. Sadarlah bahwa bangsa kita Indonesia ditakdirkan hidup di atas 3 (tiga) lempeng besar dunia yaitu lempeng indoaustralia, lempeng eurasia dan lempeng pacific, bangsa kita memiliki kehidupan di atas puncak gunung sumatera, jawa, bali, lombok, sumbawa dan kepulauan maluku. Fakta geografis inilah yang menjadikan potensi rawan bencana alam sangat beragam di negara kita, maka sudah seharusnya menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan rakyat secara bersama-sama sehingga menemukan solusi yang bersifat prefentif dan efektif. Rintihan do’a para korban bencana alam seolah terdengar dimana-mana menstimulasi senssibility kita untuk berbuat dan berbagi dengan mereka. Subhanallah, Bala bantuan berupa bahan makanan, meteri ataupun secara moril berdatangan dengan deras dari berbagai kalangan baik lokal maupun luar negeri sehingga dapat memberikan ketentraman dalam hati mereka, terasa persudaraan yang begitu dalam antar sesama, dan akan sangat membantu psikologis mereka untuk terus hidup dan melanjutkan kehidupan.
Cobaan dan Hidayah Allah
Jika Allah telah menghendaki sesuatu tak ada yang dapat mengundur dan memajukannya sifat Al Irodah (maha berkehendak) Allah adalah merupakan hak perogratif Allah sebagai sang Khalik (Pencipta) Alam semesta, jika Dia menetapkan sesuatu keputusan maka tidak mungkin salah perhitungan karena segala kejadian di alam ini adalah merupakan taqdirNya, dalam makna Allah telah menentukan rumus kehidupan dan evaluasi pasti terhadap segala kemungkinan sikap makhlukNya, tidak ada taqdir yang salah yang ada adalah mengubah keadaannya (nasibnya) sesuai dengan kehendakNya. Dengan demikian hendaklah kita dapat mengambil hikmah dari sekian kejadian alam, sehingga tidak salah memaknainya dan mengambil sikap yang benar sesuai petnjukNya. Mari kita cermati pelajaran dari kisah nabi Musa AS dalam fimanNya sebagai berikut :
Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (Al A’raf :155).
Bagaimana kita memaknai cobaan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini ? apakah kita akan memperoleh hidayah atau justru kebingungan memaknakannya dengan adanya bencana alam. Jika kita menela’ah firman Allah di atas maka akan kita ambil dua sikap yakni “bertaubat dan berdo’a” sepertinya mudah kita ungkapkan, namun coba kita maknai secara mendalam bahwa bertaubat merupakan sikap evaluasi diri terhadap apa-apa yang telah kita lakukan kemudian menghentikan sesuatu yang dzolim/salah dan terus mengadakan perbaikan lebih baik. Sedangkan berdo’a merupakan permohonan seorang hamba kepada Rabbnya yang maha berkehendak atas segala upaya/usaha mencapai harapannya sehingga mendapatkan petunjuk yang benar-benar pasti atas kelurusan jiwa nya. Dengan dua sikap (bertaubat dan berdo’a) secara jernih kita akan segera kembali menemukan kebenaran dan petunjuk dari Allah SWT. Sehingga ketika mendapatkan musibah yang begitu dasyat dan bertubi-tubi kita tidak akan kehilangan kendali diri, karena senantiasa evaluasi dan memasrahkan diri kepada Rabbnya.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. (Al Baqoroh : 156)
inilah sikap pasrah seorang mukmin kepada Rabbnya, ikhlas dan bangkit kembali menemukan kembali optimismenya menggapai masa depan, bukan pasrah diam tanpa amal terlena dengan kesedihan. Segalanya datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada pemiliknya yang hakiki yakni Allah SWT.
Istiqomah dalam Musibah
Menghilangkan trauma dari sekian peristiwa kelam memang tidak mudah terhapus begitu saja, perlu escape positif untuk menemukan kembali semangat hidup, prinsip hidup dan keteguhan diri sehingga dapat istiqomah dengan komitmen dan cita-cita yang telah terikrarkan dalam hati. Kualitas keimanan seseorang akan terukur dari keteguhan dirinya ketika mendapati ujian, karena ujian merupakan sarana penilaian keimanan seseorang. Coba kita cermati pesan Ilahi berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."
(Fushilat:30)
Komitmen diri dan keimanan seseorang pasti akan mendapatkan ujian untuk dapat diketahui kebenaran dan keteguhannya, apakah kita akan tetap teguh dengan kebenaran hati yang telah diikrarkan atau justru goyah dengan ujian yang terasa dasyat dan datang tanpa kenal kasihan. Ujian menjadi syarat mutlak pencapaian kualitas diri dan keimanan, maka tetap teguhlah dan lewatilah penuh kesabaran, jangan takut dengan bayangan tantangan karena kekuatan kita akan lebih besar dari tantangan itu karena Allah akan memberi cobaan sesuai dengan kesanggupannya (layukalifullah nafsan illla wus’aha) dan janganlah larut dalam kesedihan karena keikhlasan kita akan menjadi kekuatan besar yang dapat menembus tembok tantangan kehidupan. Hingga akhirnya kita akan mengambil hikmah dari musibah bahwa datangnya musibah yang begitu dasyat adalah kehendak Allah untuk dapat memilih siapa hambanya yang lebih mencintaiNya, teguh dengan keimananya, sehingga ia akan dapat memberi cahaya peringatan bagi segenap manusia untuk tetap terbimbing dalam kebenaran yang dapat mengantarkan kepada kesejahteraan duniawi maupun ukhrowi.
Pagi, 07.10
Jum'at, 04 Desember 2009
Kamis, 03 Desember 2009
Kamis, 16 Juli 2009
KESEHATAN
SEHAT SEPANJANG HAYAT
Oleh : Rofiq Abidin
Kesehatan merupakan anugerah Allah yang tak ternilai, Sejak awal kita sama – sama memahami bahwa islam sangat memperhatikan dan menanamkan kepada manusia untuk hidup sehat baik secara promotif, prefentif maupun protektif, hal ini bisa kita pahami dengan adanya penanaman gaya hidup bersih dan suci sebagai persyaratan kelangsungan peribadatan kita kepada sang Khalik Allah SWT, sebagai contoh kita perintahkan untuk membersihkan hadast kecil dengan ambil air wudlu dan hadats besar dengan mandi janabah dan masih banyak lagi ritual kebersihan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. islampun juga melarang prilaku – prilaku kotor misalnya minum minuman yang memabukkan, narkotika dan sejenisnya, termasuk juga pergaulan bebas (free sex) yang telah nyata menimbulkan penyakit AIDS. Namun dalam islam ibadah bukan berarti penyiksaan diri dan mengabaikan kesehatan, suatu ketika datang kepada Rosulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”. Ada Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup. Dengan demikian manusialah yang sangat mungkin memiliki kesempatan dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, karena setiap tindakan individu manusia akan berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan alam maka untuk mewujudkannya kehidupan yang sehat sepanjang hayat diperlukan tiga hal berikut ini :
1.Keseimbangan
Dalam melakukan sesuatu hendaklah kita tidak berlebihan, agar tidak menimbulkan masalah baru yang bersifat merugikan diri kita sendiri. Termasuk dalam hal menjaga kesehatan tubuh kita, misalnya kita makan hendaklah secukupnya, kekurangan makan menimbulkan penyakit, kelebihanpun mneimbulkan peyakit, maka sebaiknya kita bisa secara teratur dan seimbang baik kadar gizinya dan porsinya. Mari kita perhatikan pesan Ilahi berikut ini :
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al Infithaar : 7)
Begitu indah Allah memberikan pandangan kepada kita tetang fisik tubuh kita, bahwa bentuk tubuh kita sangatlah sempurna atau seriang kita kenal dengan ahsani takwim (sebaik-baik ciptaan). Subhanallah, begitu murahnya Allah yang telah menciptakan dengan sempurna, tinggal bagaimana kita mensyukurinya dengan menjaga keseimbangan tubuh kita yang begitu kompleks. Selanjutnya mari kita cermati pesan Ilahi di bawah ini :
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:31)
Sederhana adalah gambaran yang sangat mudah kita mengerti untuk menggambarkan tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu. Allah SWT sangat menegaskan agar dalam berpenampilan dan mengkonsumsi sesuatu tidak secara berlebih – lebihan atau secukupnya/sepantasnya.
2.Makanan Halal dan Baik (Heginis dan bergizi)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqoroh:168)
Seruan Allah kepada kita yang satu ini sepertinya sudah sangat kita pahami yakni senatiasa makan makanan yang dihalalkan oleh Allah dan bernilai baik. Halal dan baik (toyibah) sepertinya sudah menjadi nilai standart makanan bagi kaum muslim jika kita menginginkan keamanan bagi tubuh kita dan kenyamanan bagi hati kita dalam mengkonsumsi sesuatu. Nilai halal boleh jadi kita telah sama – sama paham kriterainya, namun nilai baik (toyib) perlu kita hayati secara mendalam karena kata “toyibah” disini adalah mengandung nilai yang sangat luas tentunya dalam tataran kesehatan makanan. Makanan yang bergizi adalah makanan yang cukup kualitas dan kuantitasnya serta mengandung unsure yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun makanan yang higenis adalah sesuatu yang sangat baik bagi tubuh atau yang tidak merusak tubuh mungkin itu deskripsi secara gampang. Adapun untuk menjaga agar makanan yang halal dan toyibah (bergizi dan Higenis) dapat kita konsumsi dengan efektif dan berdampak baik marilah kita perhatikan pola makan yang benar, yang pertama, adalah sebaik – baiknya makanan yang kita makan hendaknya kita melakukan dengan benar, adapun pola makan yang benar pertama tentunya seorang muslim hendaklah memulainya dengan basmallah atau berdo’a, selanjutnya kunyahlah sampai halus agar enzim berfungsi dengan baik karena enzim merupakan biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi), kemudian janganlah langsung minum ketika habis makan, agar seluruh makanan langsung tersebar keseluruh tubuh, minumlah 1 jam setelah makan.
3.Olah Raga
Dalam islam berolah raga bukanlah hal yang haram, namun jika dalam prakteknya bercampur dengan judi maka perbuatan itulah yang diharamkan. Sejak awal Rosulullah sudah memberikan isarat agar umat islam menjadi manusia yang “bastotan fil Ilmi wa Jismi” (Luas ilmunya dan Perkasa Tubuhnya). Inilah personifikasi umat yang menurut pandangan Allah memiliki wibawa dan salah satu kelayakan seorang pemimpin. Ada sebuah penemuan terbaru bahwa “ olah raga bekerja lebih baik dibanding kalsium dalam pembentukan tulang yang sehat dan kuat”, hal ini ditemukan oleh Tom Lioyd, Phd, seorang epidemiologist di Penn State university Callege of Medicate. Oleh karena itu oalh raga sangat penting bagi pertumbuhan tulang kelancaran aliran darah kita.
Menjaga kesehatan adalah merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kita tubuh yang sempurna, janganlah kita merusaknya dengan konsumsi yang haram dan membahayakan tubuh kita. Untuk itu dengan memperhatikan tiga hal di atas yakni, melakukan sesuatu dengan seimbang dan selaras, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik yang dapan menjaga kestabilan jiwa dan raga dan berolahraga secara teratur untuk menjaga keseimbangan aliran darah serta pembentukan tulang secara kuat dan sehat. Rosulullah berpesan kepada kita menjaga kesehatan kita sebelum sakit, maksudnya mairilah kita mengamalkan standart kesehatan dan menjaga dari hal yang menjadikan kita sakit.
Oleh : Rofiq Abidin
Kesehatan merupakan anugerah Allah yang tak ternilai, Sejak awal kita sama – sama memahami bahwa islam sangat memperhatikan dan menanamkan kepada manusia untuk hidup sehat baik secara promotif, prefentif maupun protektif, hal ini bisa kita pahami dengan adanya penanaman gaya hidup bersih dan suci sebagai persyaratan kelangsungan peribadatan kita kepada sang Khalik Allah SWT, sebagai contoh kita perintahkan untuk membersihkan hadast kecil dengan ambil air wudlu dan hadats besar dengan mandi janabah dan masih banyak lagi ritual kebersihan yang dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. islampun juga melarang prilaku – prilaku kotor misalnya minum minuman yang memabukkan, narkotika dan sejenisnya, termasuk juga pergaulan bebas (free sex) yang telah nyata menimbulkan penyakit AIDS. Namun dalam islam ibadah bukan berarti penyiksaan diri dan mengabaikan kesehatan, suatu ketika datang kepada Rosulullah SAW beberapa sahabat. Ada yang mengutarakan niatnya untuk berpuasa tanpa berbuka, ada pula yang ingin shalat malam tanpa tidur. Rasulullah SAW menolak keinginan itu seraya mengingatkan bahwa badan kita punya haq (untuk beristirahat). Rasulullah SAW sendiri berpuasa tapi juga berbuka, shalat malam selalu di tegakkan, aku bangun tetapi juga tidur katanya.
Organisasi Kesehatan se-Dunia (WHO, 1984) menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya. Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3 aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental (psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual), yang oleh American Psychiatric Association dikenal dengan rumusan “bio-psiko-sosio-spiritual”. Ada Empat faktor utama yang mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yang paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup. Dengan demikian manusialah yang sangat mungkin memiliki kesempatan dalam mewujudkan kehidupan yang sehat, karena setiap tindakan individu manusia akan berpengaruh bagi kelangsungan kehidupan alam maka untuk mewujudkannya kehidupan yang sehat sepanjang hayat diperlukan tiga hal berikut ini :
1.Keseimbangan
Dalam melakukan sesuatu hendaklah kita tidak berlebihan, agar tidak menimbulkan masalah baru yang bersifat merugikan diri kita sendiri. Termasuk dalam hal menjaga kesehatan tubuh kita, misalnya kita makan hendaklah secukupnya, kekurangan makan menimbulkan penyakit, kelebihanpun mneimbulkan peyakit, maka sebaiknya kita bisa secara teratur dan seimbang baik kadar gizinya dan porsinya. Mari kita perhatikan pesan Ilahi berikut ini :
Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Al Infithaar : 7)
Begitu indah Allah memberikan pandangan kepada kita tetang fisik tubuh kita, bahwa bentuk tubuh kita sangatlah sempurna atau seriang kita kenal dengan ahsani takwim (sebaik-baik ciptaan). Subhanallah, begitu murahnya Allah yang telah menciptakan dengan sempurna, tinggal bagaimana kita mensyukurinya dengan menjaga keseimbangan tubuh kita yang begitu kompleks. Selanjutnya mari kita cermati pesan Ilahi di bawah ini :
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (7:31)
Sederhana adalah gambaran yang sangat mudah kita mengerti untuk menggambarkan tidak berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu. Allah SWT sangat menegaskan agar dalam berpenampilan dan mengkonsumsi sesuatu tidak secara berlebih – lebihan atau secukupnya/sepantasnya.
2.Makanan Halal dan Baik (Heginis dan bergizi)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al Baqoroh:168)
Seruan Allah kepada kita yang satu ini sepertinya sudah sangat kita pahami yakni senatiasa makan makanan yang dihalalkan oleh Allah dan bernilai baik. Halal dan baik (toyibah) sepertinya sudah menjadi nilai standart makanan bagi kaum muslim jika kita menginginkan keamanan bagi tubuh kita dan kenyamanan bagi hati kita dalam mengkonsumsi sesuatu. Nilai halal boleh jadi kita telah sama – sama paham kriterainya, namun nilai baik (toyib) perlu kita hayati secara mendalam karena kata “toyibah” disini adalah mengandung nilai yang sangat luas tentunya dalam tataran kesehatan makanan. Makanan yang bergizi adalah makanan yang cukup kualitas dan kuantitasnya serta mengandung unsure yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun makanan yang higenis adalah sesuatu yang sangat baik bagi tubuh atau yang tidak merusak tubuh mungkin itu deskripsi secara gampang. Adapun untuk menjaga agar makanan yang halal dan toyibah (bergizi dan Higenis) dapat kita konsumsi dengan efektif dan berdampak baik marilah kita perhatikan pola makan yang benar, yang pertama, adalah sebaik – baiknya makanan yang kita makan hendaknya kita melakukan dengan benar, adapun pola makan yang benar pertama tentunya seorang muslim hendaklah memulainya dengan basmallah atau berdo’a, selanjutnya kunyahlah sampai halus agar enzim berfungsi dengan baik karena enzim merupakan biomolekul yang berfungsi sebagai katalis (senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi), kemudian janganlah langsung minum ketika habis makan, agar seluruh makanan langsung tersebar keseluruh tubuh, minumlah 1 jam setelah makan.
3.Olah Raga
Dalam islam berolah raga bukanlah hal yang haram, namun jika dalam prakteknya bercampur dengan judi maka perbuatan itulah yang diharamkan. Sejak awal Rosulullah sudah memberikan isarat agar umat islam menjadi manusia yang “bastotan fil Ilmi wa Jismi” (Luas ilmunya dan Perkasa Tubuhnya). Inilah personifikasi umat yang menurut pandangan Allah memiliki wibawa dan salah satu kelayakan seorang pemimpin. Ada sebuah penemuan terbaru bahwa “ olah raga bekerja lebih baik dibanding kalsium dalam pembentukan tulang yang sehat dan kuat”, hal ini ditemukan oleh Tom Lioyd, Phd, seorang epidemiologist di Penn State university Callege of Medicate. Oleh karena itu oalh raga sangat penting bagi pertumbuhan tulang kelancaran aliran darah kita.
Menjaga kesehatan adalah merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kita tubuh yang sempurna, janganlah kita merusaknya dengan konsumsi yang haram dan membahayakan tubuh kita. Untuk itu dengan memperhatikan tiga hal di atas yakni, melakukan sesuatu dengan seimbang dan selaras, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik yang dapan menjaga kestabilan jiwa dan raga dan berolahraga secara teratur untuk menjaga keseimbangan aliran darah serta pembentukan tulang secara kuat dan sehat. Rosulullah berpesan kepada kita menjaga kesehatan kita sebelum sakit, maksudnya mairilah kita mengamalkan standart kesehatan dan menjaga dari hal yang menjadikan kita sakit.
Rabu, 03 Juni 2009
SUNAN BONANG
SANG MAHAMUNI
Kenalkan anda dengan sunan bonang? pencipta tembang “tamba ati” yang sekarang sering kita dengar dari berbagai pegelaran atau pertunjukan atau bahkan sebelum shalat berjama’ah disurau-surau para yang santri melantunkannya. Beliau juga di sebut sebagai sang mahamuni karena kepiawaian beliau menabuh bonang yang dapat menyejukkan siapa saja yang mendengarkannya juga mampu menyadarkan beberapa perampok karena sesyahaduan dan dalamnya tembang Sunan Bonang. Raden Makdum Ibrahim adalah nama asli Sunan Bonang putra dari pasangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila. Sejak kecil Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin. Bahkan bersama Raden Paku (Sunan Giri) semasa remaja meneruskan pelajaran agamanya ke tanah sebrang, yaitu negri Pasai berguru kepada Syekh Awwalul Islam dan ulama’ besar yang menetap di Pasai, seperti ulama’ ahli tasawuf yang berasal dari bagdad Mesir, Arab dan Persi/Iran. Sesudah belajar di negri pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku kembali kepulau Jawa. Raden paku kebali ke Gresik dan mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal dengan Sunan Giri, sedangkan Raden Makdum Ibrahim diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk menjejakkan risalah di Tuban, dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang, yang merupakan jenis kuningan ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu di pukul maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih Raden Makdum sendiri yang membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali sekaligus musikus yang memiliki cita rasa seni yang tinggi sehingga banyak penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah cara sunan bongang mengambil simpatik masyarakat yakni dengan mengenali budaya dan pendekatan emosional yang unik sehingga dengan melagukan tembang-tembangnya secara langsung telah belajar nilai-nilai ajaran Islam. Diantara tembang-tembang yang terkenal ialah :
“Tomba ati iku lima sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindho shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ing kang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni, Insya Allag Gusti Allah nyembadani”
Artinya :
obat hati itu ada lima perkara :
Pertama membaca Al Qur’an dengan maknanya (artinya)
Kedua mengerkajan shalat malam (tahajud)
Ketiga sering bersahabat dengan orang shaleh (berilmu)
Keempat harus sering berprihatin (berpuasa)
Kelima sering berdzikir mengingat Allah diwaktu malam
Hingga sekarang lagu ini sangat familiar ditengah masyarakat terutama jawa, sering dilantunkan oleh santri-santri ketika hendak shalat berjama’ah. Selain dari pada itu musisi kondang yang sering dikenal dengan nama opick dan Emha Ainun Najib bersama kelompok musik kiyai kanjeng pun ikut memfamiliarkan lagu ini dalam setiap pertunjukan. Tembang sunan Bonang ini begitu mudah dipahami oleh masyarakat sehingga secara bertahap masyarakat mengamalkan nilai-nilai dasar islam ini dengan berpetunjuk Al Qur’an, maka dapat melakukan shalat baik wajib maupun yang sunnah (shalat malam), selanjutnya mendalami ilmu melalui orang-orang shaleh, kemudian memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan dengan melatihnya melalui puasa serta mengevaluasi dirinya terhadap kesalahan-kesalahannya melalu dzikir malam yang sunyi sehabis shalat malam. Dengan mengamalkan lima diantara nilai-nilai tembang ini maka hati yang goncang, hati yang gundah atau depresi akan terasa sejuk dan mendapatkan solusi karena lima nilai tembang ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menyiarkan ajaran Islam, sunan bonang sering mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ulumuddin dari Al Gozali, Al Anthaki dari dawud Al Antakhi juga tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Ajaran Sunan Bonang memuat tiga tiang utama : yakni tasawuf, usuluddin dan fiqih. Ajaran tasawuf misalnya, menurut versi Sunan Bonang bahwa bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan mencapai cinta Allah. Dengan tetap menjalankan shalat, zakat dan puasa, manusia harus menjauhi 3 musuh utama yakni : Hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), hawa nafsu, dan syaitan. Maka untuk menghindari 3 hal itu manusia dianjurkan tidak banyak bicara tapi tidak ada mengamalkan, berikap rendah hati, tidak mudah putus asa, senantiasa besyukur atas nikmat Allah SWT.
Dalam perjalanan dakwahnya beliaupun menyadarkan diantaranya seorang pemimpin perampok berserta anak buahnya bernama kebondanu dengan menggunakan tembang dan gending dharma serta irama macopat, selanjutnya beliaupun juga pernah menyadarkan seorang brahmana berserta anak buahnya yang hendak menantang dan mengadu kedalaman ilmunya, namun belum sempat melaksanakan niatnya mereka telah mendapatkan pelajaran berharga dengan ditemukannya kitab-kitabnya yang hilang oleh Sunan Bonang, yang selanjutnya dikembalikan kepada brahmana tersebut sehingga langsung tersadar bahwa betapa mulya budi pekerti Sunan Bonang. Semua orang yang telah disadarkan oleh Sunan Bonang, mereka berguru dan mendalami islam melalui Sunan Bonang. Dengan banyaknya Sunan Bonang menyebarkan Ajaran Islam dengan menggunakan bebunyian bonang maka masyarakatpun memberinya gelar ”Sang Mahamuni”.
Kenalkan anda dengan sunan bonang? pencipta tembang “tamba ati” yang sekarang sering kita dengar dari berbagai pegelaran atau pertunjukan atau bahkan sebelum shalat berjama’ah disurau-surau para yang santri melantunkannya. Beliau juga di sebut sebagai sang mahamuni karena kepiawaian beliau menabuh bonang yang dapat menyejukkan siapa saja yang mendengarkannya juga mampu menyadarkan beberapa perampok karena sesyahaduan dan dalamnya tembang Sunan Bonang. Raden Makdum Ibrahim adalah nama asli Sunan Bonang putra dari pasangan Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila. Sejak kecil Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin. Bahkan bersama Raden Paku (Sunan Giri) semasa remaja meneruskan pelajaran agamanya ke tanah sebrang, yaitu negri Pasai berguru kepada Syekh Awwalul Islam dan ulama’ besar yang menetap di Pasai, seperti ulama’ ahli tasawuf yang berasal dari bagdad Mesir, Arab dan Persi/Iran. Sesudah belajar di negri pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku kembali kepulau Jawa. Raden paku kebali ke Gresik dan mendirikan pesantren di Giri sehingga terkenal dengan Sunan Giri, sedangkan Raden Makdum Ibrahim diperintahkan oleh Sunan Ampel untuk menjejakkan risalah di Tuban, dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, yaitu berupa seperangkat gamelan yang disebut bonang, yang merupakan jenis kuningan ditonjolkan dibagian tengahnya. Bila benjolan itu di pukul maka timbullah suaranya yang merdu ditelinga penduduk setempat. Lebih-lebih Raden Makdum sendiri yang membunyikan alat musik itu. Beliau adalah seorang wali sekaligus musikus yang memiliki cita rasa seni yang tinggi sehingga banyak penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah cara sunan bongang mengambil simpatik masyarakat yakni dengan mengenali budaya dan pendekatan emosional yang unik sehingga dengan melagukan tembang-tembangnya secara langsung telah belajar nilai-nilai ajaran Islam. Diantara tembang-tembang yang terkenal ialah :
“Tomba ati iku lima sak wernane
Kaping pisan maca Qur’an sak maknane
Kaping pindho shalat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ing kang luwe
Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni, Insya Allag Gusti Allah nyembadani”
Artinya :
obat hati itu ada lima perkara :
Pertama membaca Al Qur’an dengan maknanya (artinya)
Kedua mengerkajan shalat malam (tahajud)
Ketiga sering bersahabat dengan orang shaleh (berilmu)
Keempat harus sering berprihatin (berpuasa)
Kelima sering berdzikir mengingat Allah diwaktu malam
Hingga sekarang lagu ini sangat familiar ditengah masyarakat terutama jawa, sering dilantunkan oleh santri-santri ketika hendak shalat berjama’ah. Selain dari pada itu musisi kondang yang sering dikenal dengan nama opick dan Emha Ainun Najib bersama kelompok musik kiyai kanjeng pun ikut memfamiliarkan lagu ini dalam setiap pertunjukan. Tembang sunan Bonang ini begitu mudah dipahami oleh masyarakat sehingga secara bertahap masyarakat mengamalkan nilai-nilai dasar islam ini dengan berpetunjuk Al Qur’an, maka dapat melakukan shalat baik wajib maupun yang sunnah (shalat malam), selanjutnya mendalami ilmu melalui orang-orang shaleh, kemudian memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kemanusiaan dengan melatihnya melalui puasa serta mengevaluasi dirinya terhadap kesalahan-kesalahannya melalu dzikir malam yang sunyi sehabis shalat malam. Dengan mengamalkan lima diantara nilai-nilai tembang ini maka hati yang goncang, hati yang gundah atau depresi akan terasa sejuk dan mendapatkan solusi karena lima nilai tembang ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam menyiarkan ajaran Islam, sunan bonang sering mengandalkan sejumlah kitab, antara lain Ulumuddin dari Al Gozali, Al Anthaki dari dawud Al Antakhi juga tulisan Abu Yazid Al Busthami dan Syekh Abdul Qodir Jaelani. Ajaran Sunan Bonang memuat tiga tiang utama : yakni tasawuf, usuluddin dan fiqih. Ajaran tasawuf misalnya, menurut versi Sunan Bonang bahwa bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan kesungguhan dan mencapai cinta Allah. Dengan tetap menjalankan shalat, zakat dan puasa, manusia harus menjauhi 3 musuh utama yakni : Hubbud dunya (terlalu cinta kepada dunia), hawa nafsu, dan syaitan. Maka untuk menghindari 3 hal itu manusia dianjurkan tidak banyak bicara tapi tidak ada mengamalkan, berikap rendah hati, tidak mudah putus asa, senantiasa besyukur atas nikmat Allah SWT.
Dalam perjalanan dakwahnya beliaupun menyadarkan diantaranya seorang pemimpin perampok berserta anak buahnya bernama kebondanu dengan menggunakan tembang dan gending dharma serta irama macopat, selanjutnya beliaupun juga pernah menyadarkan seorang brahmana berserta anak buahnya yang hendak menantang dan mengadu kedalaman ilmunya, namun belum sempat melaksanakan niatnya mereka telah mendapatkan pelajaran berharga dengan ditemukannya kitab-kitabnya yang hilang oleh Sunan Bonang, yang selanjutnya dikembalikan kepada brahmana tersebut sehingga langsung tersadar bahwa betapa mulya budi pekerti Sunan Bonang. Semua orang yang telah disadarkan oleh Sunan Bonang, mereka berguru dan mendalami islam melalui Sunan Bonang. Dengan banyaknya Sunan Bonang menyebarkan Ajaran Islam dengan menggunakan bebunyian bonang maka masyarakatpun memberinya gelar ”Sang Mahamuni”.
MINDSET
KOMUNIKASI KUNCI KEHARMONISAN
OLEH : ROFIQ ABIDIN
Di setiap sudut kehidupan pasti akan anda dapati aktivitas komunikasi, di ruang kerja, meja makan, di tempat-tempat umum dan lain sebagainya, bahkan ketika kita dalam keadaan sendiri pun terjadi aktivitas komunikasi. Mengingat komunikasi merupakan sarana penting untuk menunjang pemenuhan kebutuhan manusia maka diperlukan pola yang efisien dan efektif sehingga dapat mencapai goal yang diinginkan. Jika pola kita salah dalam mengkomunikasikan sesuatu maka akan berdampak pada respon dan reaksi audien (lawan bicara) karena sesuatu yang bernilai positif jika dikomunikasikan dengan kurang tepat bisa jadi akan dinilai negatif. Sering kita bermaksud baik-baik kepada teman kita, atau mungkin pasangan kita, tapi karena cara mengkomunikasikan kurang efektif atau waktunya kurang tepat maka dianggaplah itu sesuatu yang negatif/salah. Mintalah maaf jika lawan bicara kita salah menerima, jelaskan kembali secara efektif sehingga dapat menangkap dengan tepat pesan yang anda sampaikan. Oleh karena itu berfikirlah tenang sebelum mengkomunikasikan sesuatu, jangan panik, karena terkadang panik akan membuyarkan pesan yang akan kita sampaikan. Hematnya komunikasi sangat menentukan keharmonisan hubungan dan keberhasilan mencapai tujuan, maka janganlah mengabaikan komunikasi baik dengan pasangan kita, rekan kerja, atasan ataupun bawahan.
Begitu pentingnya komunikasi, maka Allah SWT pun menganjurkan untuk menjaga yang sering kita kenal dengan hablum minallah dan hablum minannas. Secara garis besar kita bisa mengetahui jenis-jenis komunikasi meliputi : 1). Komunikasi dengan sang Pencipta, 2). Komunikasi dengan manusia, 3). Komunikasi dengan diri sendiri, 4) Komunikasi dengan alam. Perhatikanlah, semua jenis komunikasi tersebut merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dalam mencapai kehendak yang diharapkan bersama. Pertama, dengan Allah sebagai sang pencipta. Untuk menjaga keharmonisan kita dengan Allah biasanya kita akan berkomunikasi melalui sholat, do’a, dzikir dan apapun yang berhubungan dengan spiritual sebagai bakti kita kepadaNya, dan sering kita sebut dengan ibadah. Kedua, meningkatkan hubungan komunikasi dengan manusia, baik dengan pasangan kita, keluarga kita, teman ataupun rekan kerja bahkan kepada orang yang tak dikenal. Hendaklah kita selalu menjaga komunikasi dengan mereka baik secara lisan dan perbuatan karena keharmonisan hubungan akan ditentukan bagaimana dan seberapa sering kita berkomunikasi secara efektif. Ketiga, seseorang perlu berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk menjaga kestabilan jiwa dan emosionalnya melalui mahasabbah (koreksi diri) agar lebih bijak dalam mengambil langkah, merenung, berkomitmen (berazam) untuk menguatkan kemauan dan lain-lain. Sekali lagi perhatikanlah pola komunikasi kita, jangan mengabaikan kualitasnya agar selalu efektif. Keempat, sekeliling kita menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk alam semesta, baik binatang, tetumbuhan, dan apa saja di alam ini yang selalu berinteraksi dengan kita secara langsung ataupun tidak, maka marilah kita berusaha menjaga keseimbangan alam dalam bentuk menjaga, memelihara, merawatnya, karena setiap ketidakseimbangan alam akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia.
Keseimbangan dalam mengkomunikasikan sesuatu pesan akan dapat menjaga keharmonisan dalam berhubungan dengan siapa saja, maka cobalah selalu berusaha efektif dalam menyampaikan sesuatu agar tidak terkesan main-main. Walaupun terkadang intermezo memang sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana dan mengusir ketegangan yang akan membuat hati menjadi lapang dan akal dalam keadaan fresh sehingga mudah menangkap pesan dan informasi.
OLEH : ROFIQ ABIDIN
Di setiap sudut kehidupan pasti akan anda dapati aktivitas komunikasi, di ruang kerja, meja makan, di tempat-tempat umum dan lain sebagainya, bahkan ketika kita dalam keadaan sendiri pun terjadi aktivitas komunikasi. Mengingat komunikasi merupakan sarana penting untuk menunjang pemenuhan kebutuhan manusia maka diperlukan pola yang efisien dan efektif sehingga dapat mencapai goal yang diinginkan. Jika pola kita salah dalam mengkomunikasikan sesuatu maka akan berdampak pada respon dan reaksi audien (lawan bicara) karena sesuatu yang bernilai positif jika dikomunikasikan dengan kurang tepat bisa jadi akan dinilai negatif. Sering kita bermaksud baik-baik kepada teman kita, atau mungkin pasangan kita, tapi karena cara mengkomunikasikan kurang efektif atau waktunya kurang tepat maka dianggaplah itu sesuatu yang negatif/salah. Mintalah maaf jika lawan bicara kita salah menerima, jelaskan kembali secara efektif sehingga dapat menangkap dengan tepat pesan yang anda sampaikan. Oleh karena itu berfikirlah tenang sebelum mengkomunikasikan sesuatu, jangan panik, karena terkadang panik akan membuyarkan pesan yang akan kita sampaikan. Hematnya komunikasi sangat menentukan keharmonisan hubungan dan keberhasilan mencapai tujuan, maka janganlah mengabaikan komunikasi baik dengan pasangan kita, rekan kerja, atasan ataupun bawahan.
Begitu pentingnya komunikasi, maka Allah SWT pun menganjurkan untuk menjaga yang sering kita kenal dengan hablum minallah dan hablum minannas. Secara garis besar kita bisa mengetahui jenis-jenis komunikasi meliputi : 1). Komunikasi dengan sang Pencipta, 2). Komunikasi dengan manusia, 3). Komunikasi dengan diri sendiri, 4) Komunikasi dengan alam. Perhatikanlah, semua jenis komunikasi tersebut merupakan sarana untuk menjaga keharmonisan dalam mencapai kehendak yang diharapkan bersama. Pertama, dengan Allah sebagai sang pencipta. Untuk menjaga keharmonisan kita dengan Allah biasanya kita akan berkomunikasi melalui sholat, do’a, dzikir dan apapun yang berhubungan dengan spiritual sebagai bakti kita kepadaNya, dan sering kita sebut dengan ibadah. Kedua, meningkatkan hubungan komunikasi dengan manusia, baik dengan pasangan kita, keluarga kita, teman ataupun rekan kerja bahkan kepada orang yang tak dikenal. Hendaklah kita selalu menjaga komunikasi dengan mereka baik secara lisan dan perbuatan karena keharmonisan hubungan akan ditentukan bagaimana dan seberapa sering kita berkomunikasi secara efektif. Ketiga, seseorang perlu berkomunikasi dengan dirinya sendiri untuk menjaga kestabilan jiwa dan emosionalnya melalui mahasabbah (koreksi diri) agar lebih bijak dalam mengambil langkah, merenung, berkomitmen (berazam) untuk menguatkan kemauan dan lain-lain. Sekali lagi perhatikanlah pola komunikasi kita, jangan mengabaikan kualitasnya agar selalu efektif. Keempat, sekeliling kita menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita termasuk alam semesta, baik binatang, tetumbuhan, dan apa saja di alam ini yang selalu berinteraksi dengan kita secara langsung ataupun tidak, maka marilah kita berusaha menjaga keseimbangan alam dalam bentuk menjaga, memelihara, merawatnya, karena setiap ketidakseimbangan alam akan berdampak pada kelangsungan hidup manusia.
Keseimbangan dalam mengkomunikasikan sesuatu pesan akan dapat menjaga keharmonisan dalam berhubungan dengan siapa saja, maka cobalah selalu berusaha efektif dalam menyampaikan sesuatu agar tidak terkesan main-main. Walaupun terkadang intermezo memang sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana dan mengusir ketegangan yang akan membuat hati menjadi lapang dan akal dalam keadaan fresh sehingga mudah menangkap pesan dan informasi.
Kamis, 25 Desember 2008
MEMULAI PERADABAN DENGAN KONTRA BUDAYA POSITIF
Oleh : Rofiq Abidin
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Perjalanan sejarah manusia tak akan lepas dari peradaban yang senantiasa bergulir dinamis, sains dan teknologi nyaris terus bergerak maju tanpa mengenal batas – batas teritorial dan bahkan ideialisme sampai kepenjuru belahan dunia. Teknologi informasi menjadi titik tolak progresifitas perubahan peradaban yang kian dinamis dan signifikan terutama tiga bidang yang paling dominan yakni mikrocip, komputer dan satelit. Lantas siapakah yang menguasai teknologi saat ini ? menurut UNESCO (dalam Science, Technology and Developing Countries) bahwa Amerika Serikat menumbuhkan dan hampir menggenggam hampir sepertiga dari seluruh riset dan pengembangannya, sepertiga lagi dikembangkan oleh Eropa barat dan Jepang dan hampir sepertiga lagi oleh Rusia. Bagaimana dengan negara muslim? Belum ada satu negara muslim pun yang dijadikan kiblat bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen dari seluruh riset yang dikembangkan didunia ini. Mungkin baru Iran dan Pakistan yang telah memulai mendalami bidang iptek tingkat tinggi yakni teknologi nuklir namun menemukan jalan yang terjal dengan segala kontraversinya.
Zaman seaakan memberi isyarat kepada kita untuk bersiap dan bersikap sedia mengahadapi seleksi global, siapa yang akan berjaya dengan berbagai kemajuan peradaban dan siapa yang akan menjadi penonton atau bahkan menjadi pecundang karena batasan – batasan kepahaman yang seakan menjadi dinding tebal untuk menguasai bidang teknologi informasi. Ajaran Islam yang begitu komprehensif dan fleksible sangatlah mendorong perihal teknologi Informasi namun tinggal bagaimana pelaku yakni umat islam sendiri, jangan sampai hanya bisa membangga – banggakan sesuatu prestasi peradaban yang pernah diraih pada masa keemasan khilafah dinasti Abasiyah namun mesti memulai bergerak membangun peradaban maju dan menatap terbuka terhadap berbagai peningkatan science dan teknologi sehiinga muncul kontra budaya positif walaupun dengan berbagai kontraproduktif. Karena jika tidak demikian umat islam akan sulit bergaul dan menempatkan Din (agama) dan dirinya dalam tataran internasional. Kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia adalah merupakan anugerah yang sangat berharga karena, masa lalu adalah hikmah yang harus diefaluasi untuk perbaikan dan perubahan yang lebih baik, masa kini adalah relitas fakta yang senantiasa menguji kita untuk menjawab secara bijak persoalan – persoalan yang berdatangan, masa depan merupakan mimpi yang harus diraih dengan etape – etape logis dan tawakal serta kesabaran yang tinggi. Dalam surat Al Ashr : 1-3 Allah bersumpah dengan masa/ waktu yang menjadi instrument pokok pencapaian amaliah dan sebuah peradaban, jika manusia mengerti masa peradaban yang sedang dialami maka ia tidak akan merugi, karena ia telah memiliki pertama, kekuatan iman/ optimis terhadap masa yang akan dihadapi, kedua memanfaatkan masa/ waktu dengan amalan produktif, kerja keras, ketiga selalu berusaha lurus terhadap kebenaran dan keempat memiliki kesabaran tinggi yakni gigih, ulet dan pantang menyerah.
Akomoditif Islam Terhadap Peradaban dan Budaya
Ajaran Islam yang universal, komprehensif dan fleksible menjadi motiv (alasan) utama membengun dan mengembangkan budaya, namun sifat akomoditif islam tidak begitu saja menerima sebuah kebudayaan, mengingat setiap agama memiliki zona teologis (aqidah) yang tidak bisa dipaksakan secara doktrinal. Dalam ajaran islam “kalimat syahadat” menjadi poros semangat untuk beribadah, area ini tidak bisa di rubah bahkan digeser sedikitpun, begitupun dengan agama/ keyakinan lain tidak ada yang berkenen dengan pemaksaan pemahaman. Pluralisme menjadi relitas taqdir dari Tuhan untuk diharapkan mengambil hikmah dan mencari jawaban atas segala keberagaman. Ajaran toleransi merupakan suatu jembatan indah dari dua atau bahkan lebih dari beragam pemahaman, keyakinan, perbedaan pendapat atau idealisme yang dapat berfungsi secara mutual simbiosis (saling bermanfaat) bagi kedua belah pihak. Perbedaan tak semestinya disikapi dengan kekerasan atau kekakuan pemahaman serta doktirn taklid terhadap suatu hal yang dapat memetikan kreatifitas dan potensi umat islam sehingga terpasung dan terkungkung dalam penjara mental pemahaman yang setengah – setengah. Membuka pandangan baru secara wahyuniah yang kemudian dilanjutkan dengan implementasi budaya positif akan terasa kontradiktif dengan lingkungan, namun itu adalah awal baik yang seharusnya dimulai untuk membangun peradaban maju. Karena Allah sangat menganjuran kepada manusia untuk melakukan penguasaan ilmu sebagai kunci kesuksesan menjadi kholifah fil Ardh sebagaimana dalam firmannya surat Al Baqoroh : 31-33 sebagai berikut :
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Pesan Ilahi tersebut di atas memberikan pengajaran kepada kita bahwa kita mestilah mengusai apapun yang diajarkan kepada kita, sekali lagi penguasaan ilmu pengetahuan adalah merupakan kuci jawaban sebagai kholifah filardh. Sehingga dapat meyakinkan kepada siapa saja bahwa umat islam memiliki kepampuan dan potensi untuk turut serta membangun dan mengelola bumi ini. Kemudian terlihat pula dari ayat pertama yang turun kepada Rosulullah SAW yakni surat Al Alaq 1-5, ayat tersebut menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan bathin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya yakni iqra’ (baca, riset, teliti), allama (mengajarkan/tranfer ilmu) dan qalam (alat tulis/ alat penyimpan data/ memori).
Sikap Umat Islam Terhadap Kemaujan Peradaban
Umat islam yang benar – benar mengamalkan ajarannya akan sangat inklusif terhadap kemajuan peradaban, disamping itu juga dengan ajaran tasamuh (toleransi) akan mudah bergaul dan bekerjasama dengan semua komponen bangsa yang sehati dan mementingkan kerukunan dan kemajuan bersama. Dengan adanya kemaujuan peradaban yang ditandai dengan derasnya penguasaan sains dan teknologi maka secara garis besar sikap umat islam akan terbagi tiga kelompok :
1. Sikap Distopistik, yakni orang yang lari dari kenyataan, apatis, pesimis menghadapi tantangan zaman, sangat eksklusif terhadap kemajuan bahkan cenderung mengaharamkan iptek.
2. Sikap Utopistik, yakni orang yang memiliki optimisme yang berlebihan, namun memandang persoalan secara parsial, ia berkeyakinan hanya dengan kemoderenan yang bisa menyelesaikan masalah, namun sikapnya cenderung sekuler.
3. Sikap Moderat, yakni orang yang mampu melihat persoalan secara utuh dan komprehensip, sikapnya sangat terbuka terhadap kemajuan iptek (modernitas) tetapi tetap berpegang teguh kepada nilai – nilai Ilahiah (ketauhidan)
Beberapa sikap di atas akan memberikan wacana kepada kita, sejauh mana peranan kita menyikapi sebuah kemajuan peradaban, sudahkan kita memulainya atau bahkan kita akan mengharamkannya dengan adanya kekakuan pemahaman atau kita telah mendewakan teknologi sampai lupa terhadap nilai – nilai ketuhanan. Maka dari itu jika kita masih menonton maka bersegeralah memulai kontra budaya positif yang akan segera mengangkat harkat umat islam dan memang telah menjadi ajaran dan ajakan dari Allah SWT untuk mnguasainya segala disiplin ilmu, sebagaimana diajarkan kepada nabi Adam sebagai kunci kesuksesan khalifah fil ardh. Allah juga telah memberikan pengajaran bahwa setiap urusan kebaikan akan ada pro dan kontra (suka dan benci), orang yang kontradiksi terhadap kita hanyalah orang – orang yang belum nyambung, ada yang terputus dari pemahaman tentang urusan baik yang kita lakukan. Sebagaimana dalam firmanNya :
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al Kautsar : 3)
Dalam mengawali sesuatu bersegeralah memiliki rencana – rencana positif yang berani mengubah diri kita lebih baik, kemudian mengamalkannya dan mensikapi secara progersif dan kreatif sehingga akan lebih nyaman dan menemukan ketenangan serta kepuasan bathin dalam beribadah kepada Allah. Walaupun sikap baik itu terasa kontradiktif terhadap lingkungan sekitar, yang terpenting kita tidak keluar dan diluar dari pada kepentingan agama Allah, agama islam dan ridho Allah SWT. ( Rovich Abidin)
1. demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Perjalanan sejarah manusia tak akan lepas dari peradaban yang senantiasa bergulir dinamis, sains dan teknologi nyaris terus bergerak maju tanpa mengenal batas – batas teritorial dan bahkan ideialisme sampai kepenjuru belahan dunia. Teknologi informasi menjadi titik tolak progresifitas perubahan peradaban yang kian dinamis dan signifikan terutama tiga bidang yang paling dominan yakni mikrocip, komputer dan satelit. Lantas siapakah yang menguasai teknologi saat ini ? menurut UNESCO (dalam Science, Technology and Developing Countries) bahwa Amerika Serikat menumbuhkan dan hampir menggenggam hampir sepertiga dari seluruh riset dan pengembangannya, sepertiga lagi dikembangkan oleh Eropa barat dan Jepang dan hampir sepertiga lagi oleh Rusia. Bagaimana dengan negara muslim? Belum ada satu negara muslim pun yang dijadikan kiblat bidang iptek karena porsi kepemilikan risetnya hanya sekitar tiga persen dari seluruh riset yang dikembangkan didunia ini. Mungkin baru Iran dan Pakistan yang telah memulai mendalami bidang iptek tingkat tinggi yakni teknologi nuklir namun menemukan jalan yang terjal dengan segala kontraversinya.
Zaman seaakan memberi isyarat kepada kita untuk bersiap dan bersikap sedia mengahadapi seleksi global, siapa yang akan berjaya dengan berbagai kemajuan peradaban dan siapa yang akan menjadi penonton atau bahkan menjadi pecundang karena batasan – batasan kepahaman yang seakan menjadi dinding tebal untuk menguasai bidang teknologi informasi. Ajaran Islam yang begitu komprehensif dan fleksible sangatlah mendorong perihal teknologi Informasi namun tinggal bagaimana pelaku yakni umat islam sendiri, jangan sampai hanya bisa membangga – banggakan sesuatu prestasi peradaban yang pernah diraih pada masa keemasan khilafah dinasti Abasiyah namun mesti memulai bergerak membangun peradaban maju dan menatap terbuka terhadap berbagai peningkatan science dan teknologi sehiinga muncul kontra budaya positif walaupun dengan berbagai kontraproduktif. Karena jika tidak demikian umat islam akan sulit bergaul dan menempatkan Din (agama) dan dirinya dalam tataran internasional. Kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia adalah merupakan anugerah yang sangat berharga karena, masa lalu adalah hikmah yang harus diefaluasi untuk perbaikan dan perubahan yang lebih baik, masa kini adalah relitas fakta yang senantiasa menguji kita untuk menjawab secara bijak persoalan – persoalan yang berdatangan, masa depan merupakan mimpi yang harus diraih dengan etape – etape logis dan tawakal serta kesabaran yang tinggi. Dalam surat Al Ashr : 1-3 Allah bersumpah dengan masa/ waktu yang menjadi instrument pokok pencapaian amaliah dan sebuah peradaban, jika manusia mengerti masa peradaban yang sedang dialami maka ia tidak akan merugi, karena ia telah memiliki pertama, kekuatan iman/ optimis terhadap masa yang akan dihadapi, kedua memanfaatkan masa/ waktu dengan amalan produktif, kerja keras, ketiga selalu berusaha lurus terhadap kebenaran dan keempat memiliki kesabaran tinggi yakni gigih, ulet dan pantang menyerah.
Akomoditif Islam Terhadap Peradaban dan Budaya
Ajaran Islam yang universal, komprehensif dan fleksible menjadi motiv (alasan) utama membengun dan mengembangkan budaya, namun sifat akomoditif islam tidak begitu saja menerima sebuah kebudayaan, mengingat setiap agama memiliki zona teologis (aqidah) yang tidak bisa dipaksakan secara doktrinal. Dalam ajaran islam “kalimat syahadat” menjadi poros semangat untuk beribadah, area ini tidak bisa di rubah bahkan digeser sedikitpun, begitupun dengan agama/ keyakinan lain tidak ada yang berkenen dengan pemaksaan pemahaman. Pluralisme menjadi relitas taqdir dari Tuhan untuk diharapkan mengambil hikmah dan mencari jawaban atas segala keberagaman. Ajaran toleransi merupakan suatu jembatan indah dari dua atau bahkan lebih dari beragam pemahaman, keyakinan, perbedaan pendapat atau idealisme yang dapat berfungsi secara mutual simbiosis (saling bermanfaat) bagi kedua belah pihak. Perbedaan tak semestinya disikapi dengan kekerasan atau kekakuan pemahaman serta doktirn taklid terhadap suatu hal yang dapat memetikan kreatifitas dan potensi umat islam sehingga terpasung dan terkungkung dalam penjara mental pemahaman yang setengah – setengah. Membuka pandangan baru secara wahyuniah yang kemudian dilanjutkan dengan implementasi budaya positif akan terasa kontradiktif dengan lingkungan, namun itu adalah awal baik yang seharusnya dimulai untuk membangun peradaban maju. Karena Allah sangat menganjuran kepada manusia untuk melakukan penguasaan ilmu sebagai kunci kesuksesan menjadi kholifah fil Ardh sebagaimana dalam firmannya surat Al Baqoroh : 31-33 sebagai berikut :
31. dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
32. mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana[35]."
33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Pesan Ilahi tersebut di atas memberikan pengajaran kepada kita bahwa kita mestilah mengusai apapun yang diajarkan kepada kita, sekali lagi penguasaan ilmu pengetahuan adalah merupakan kuci jawaban sebagai kholifah filardh. Sehingga dapat meyakinkan kepada siapa saja bahwa umat islam memiliki kepampuan dan potensi untuk turut serta membangun dan mengelola bumi ini. Kemudian terlihat pula dari ayat pertama yang turun kepada Rosulullah SAW yakni surat Al Alaq 1-5, ayat tersebut menyentuh masalah yang paling essensial dari potensi manusia, yaitu akal dan bathin (fikir dan dzikir), juga disebutkan perangkatnya yakni iqra’ (baca, riset, teliti), allama (mengajarkan/tranfer ilmu) dan qalam (alat tulis/ alat penyimpan data/ memori).
Sikap Umat Islam Terhadap Kemaujan Peradaban
Umat islam yang benar – benar mengamalkan ajarannya akan sangat inklusif terhadap kemajuan peradaban, disamping itu juga dengan ajaran tasamuh (toleransi) akan mudah bergaul dan bekerjasama dengan semua komponen bangsa yang sehati dan mementingkan kerukunan dan kemajuan bersama. Dengan adanya kemaujuan peradaban yang ditandai dengan derasnya penguasaan sains dan teknologi maka secara garis besar sikap umat islam akan terbagi tiga kelompok :
1. Sikap Distopistik, yakni orang yang lari dari kenyataan, apatis, pesimis menghadapi tantangan zaman, sangat eksklusif terhadap kemajuan bahkan cenderung mengaharamkan iptek.
2. Sikap Utopistik, yakni orang yang memiliki optimisme yang berlebihan, namun memandang persoalan secara parsial, ia berkeyakinan hanya dengan kemoderenan yang bisa menyelesaikan masalah, namun sikapnya cenderung sekuler.
3. Sikap Moderat, yakni orang yang mampu melihat persoalan secara utuh dan komprehensip, sikapnya sangat terbuka terhadap kemajuan iptek (modernitas) tetapi tetap berpegang teguh kepada nilai – nilai Ilahiah (ketauhidan)
Beberapa sikap di atas akan memberikan wacana kepada kita, sejauh mana peranan kita menyikapi sebuah kemajuan peradaban, sudahkan kita memulainya atau bahkan kita akan mengharamkannya dengan adanya kekakuan pemahaman atau kita telah mendewakan teknologi sampai lupa terhadap nilai – nilai ketuhanan. Maka dari itu jika kita masih menonton maka bersegeralah memulai kontra budaya positif yang akan segera mengangkat harkat umat islam dan memang telah menjadi ajaran dan ajakan dari Allah SWT untuk mnguasainya segala disiplin ilmu, sebagaimana diajarkan kepada nabi Adam sebagai kunci kesuksesan khalifah fil ardh. Allah juga telah memberikan pengajaran bahwa setiap urusan kebaikan akan ada pro dan kontra (suka dan benci), orang yang kontradiksi terhadap kita hanyalah orang – orang yang belum nyambung, ada yang terputus dari pemahaman tentang urusan baik yang kita lakukan. Sebagaimana dalam firmanNya :
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al Kautsar : 3)
Dalam mengawali sesuatu bersegeralah memiliki rencana – rencana positif yang berani mengubah diri kita lebih baik, kemudian mengamalkannya dan mensikapi secara progersif dan kreatif sehingga akan lebih nyaman dan menemukan ketenangan serta kepuasan bathin dalam beribadah kepada Allah. Walaupun sikap baik itu terasa kontradiktif terhadap lingkungan sekitar, yang terpenting kita tidak keluar dan diluar dari pada kepentingan agama Allah, agama islam dan ridho Allah SWT. ( Rovich Abidin)
Selasa, 16 Desember 2008
MENCAPAI PUNCAK
MENCAPAI PUNCAK
KESADARAN BERQURBAN
Oleh : Rofiq Abidin
Secara simbolik qurban adalah merupakan penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi/kerbau, unta) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban juga merupakan ritual estafeta yang pernah diamalkan nabi Ibrahim AS sebagai perwujudan ketaatan total kepada sang khalik Allah Subhanahu Wata’ala. Keputusan Ibrahim AS untuk melaksanakan syariat Qurban dengan melakukan penyembelihan kepada Ismail anaknya yang kemudian diganti domba oleh Allah adalah keputusan berani yang dilandasi oleh keyakinan dan kepatuhan serta kecintaan kepadaNya. Karena pengamalan syariat qurban tersebut menyiratkan refleksi mendalam yang menghasilkan independensi tafkir dan aqidah hingga mencapai puncak kesadaran berqurban.
Mempersembahkan persembahan kepada Tuhan merupakan keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradapan manusia yang beragam mengenal persembahan kepada Tuhan, baik berupa penyembelihan hewan maupun manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu tradisi tersebut. Persembahan suci dengan menyembelih manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Muhammad lahir. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muththalib Bin Hasyim, kakek Rasululluah, pernah bernadzar jika ia dikaruniai karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih salah satu putranya disisi ka’bah sebagai qurban . ketika putranya telah genap sepuluh dan menginjak baligh, maka jatuhlah undian kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish berusaha melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.
Kesadaran Mendasar Untuk Berqurban
Bangkitnya kesadaran berqurban akan dimulakan dari rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Allah yang diberikan selama hidupnya. Karena sesungguhnya nikmat Allah SWT tak akan dapat dihitung, mari kita cermati pesan Ilahi dalam surat Al Kautsar 1-3 :
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus
Setidaknya ada tiga nikmat utama yang mesti kita syukuri, pertama adalah nikmat hidup, kita tidak pernah bercita – cita untuk hidup karena sesungguhnya menghendaki hidup adalah Allah sang maha Pencipta. Kedua nikmat kemerdekaan berfikir, sebagai sesuatu kelebihan dari makhuk apapun yang diciptakan Allah, sehingga dengan akal kita dapat secara merdeka menentukan pilihan jalan hidup yang sekaligus dapat mengetahui resiko logis dari pilihan jalan tersebut. Ketiga, nikmat hidayah iman, menjadi sesuatu yang berharga untuk mengendalikan fikiran dan sikap sehingga dapat menentukan keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Tiga nikmat utama ini telah menjadi alasan utama bagi manusia untuk mensyukuri nikmat Allah disamping nikmat – nikmat Allah yang lain yang tak bisa dihitung. Perasaan syukur yang telah bersemayam dalam dada, semestinya diekspresikan dalam wujud syukur riil yakni sholat dan berqurban, itulah bentuk syukur nyata yang telah dijelaskan sebagai bentuk perintah. Bersyukurlah kita dengan segala kesempurnaan hidup yang telah kita miliki dengan wujud syukur yang riil diantaranya dengan berqurban untuk kemaslakhatan umat manusia.
Refleksi Kesadaran Bersyukur
Kepekaan muslim terhadap lingkungan sekitar akan melantari kesadaran untuk selalu mensyukuri apa – apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pelatihan dan pembelajaran sebenarnya telah disediakan dilingkungan kita, baik ketimpangan – ketimpangan adannya gelandangan, pengangguran, saudara sakit yang berkepanjangan dan apapun keadaan kemanusiaan yang lebih sengsara dari kita. Semua yang terjadi telah ditentukan rumusnya oleh Allah yang maha berkehendak. Maka keadaan kita hari ini adalah kehendak Allah yang harus disyukuri walau mungkin ada yang terasa berat kita rasakan, namun janganlah merasa paling sengsara karena akan dapat menciptakan dinding untuk mensyukuri nimat Allah. mari kita renungkan pesan Ilahi berikut ini :
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al – An’am : 44).
Terkadang seseorang diberi peringatan oleh Allah tidak nyambung, maksudnya tidak ada kepekaan bahwa peringatan yang terjadi itu seolah – olah tidak ada korelasinya dengan perbuatan dosanya. Maka orang yang seperti ini justru akan dibukakan pintu – pintu kesenangan, sehingga ketika ia telah merasa sukses, dan girang dengan kesuksesannya lantaran meninggalkan perintah Allah, maka Allah memberikan siksa dengan sekonyong – konyong (hasil akumulasi dosa yang telah diperbuatnya). Maka ketika itu mereka akan terdiam dan putus asa (terpasung, tidak bisa berbuat apa – apa ). Pesan Ilahi ini memberikan hikmah agar kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sebelum datangnya peringatan Allah yang berwujud tegoran bahkan siksa maka segeralah kita sadar untuk mensyukuri nikmatNya dengan wujud syukur riil, bukan hanya secara verbal semata.
Mencapai Puncak Kesadaran Berqurban
Tingkat kesadaran seseorang untuk berqurban tergantung kepekaan dan empati terhadap lingkungan sekitar. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya qurban. Adapun untuk mencapai puncak kesadaran berqurban sebagaimana yang pernah dipraktekkan Ibrahim AS dan Abdul Muththalib bin Hasyim atau aktion syukur yang lain yang pernah diamalkan untuk kemaslakhatan manusia diperlukan refleksi secara bertahap. Mari kita refleksi jiwa taqwa kita dengan beberapa hal di bawah ini :
1. Melatih Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama dan Lingkungan
Pada setiap ketimpangan sosial yang terjadi memberikan ujian kepekaan nurani bagi kita, sejauh mana jangkauan perasaan kita untuk mengulurkan tangan, melakukan sesuatu kebaikan atau hanya bisa ngersulo tanpa tindaan apa – apa. Maka ujilah empati dan kepedulian kita terhadap ketimpangan – ketimpangan sosial yang terjadi didepan kita dengan amal nyata untuk menggugah kesadaran berqorban.
2. Menggugah Jiwa Itsar
Mendahulukan kepentingan orang lain (Jalan Allah) walaupun dirinya sedang membutuhkan adalah merupakan aksentuasi soaial dan pengertian dari itsar. Sikap itsar ini pernah dipraktekkan oleh kaum anshar kepada kaum muhajirin ketika baru saja melakukan hijrah dari Makkah ke Yasrib, mereka memberikan rumahnya dan membagi harta bendanya serta menawarkan diri untuk menjadi saudara. Fenomena sosial yang terjadi memberikan kita kesempatan untuk melatih jiwa itsar kita sedekat apa perasaan kita terhadap kejadian – kejadian alam dan sekitar. Peduli untuk berbagi adalah merupakan praktek qurban secara kontektual.
3. Membunuh Jiwa Kehewanan
Berqorban secara kontekstual dengan membunuh sifat – sifat kehewanan diantaranya:
Hubud dunya (terlalu cinta terhadap kebendaan) egois, berbuat semaunya (melanggar hukum dan norma – norma), takabur, free sex, membunuh sesama (kejahatan kemanusiaan) , serakah dan lain – lain yang menimbulkan kerusakan. Dengan membunuh sifat – sifat kehewanan maka kita akan mudah tersentuh untuk mensyukuri nikmatNya dalam wujud riil yakni pengabdian/ Ibadah sholat sebagai komunikasi langsung dengan Allah dan Berqurban untuk mendekatkan siri kepadaNya dan kesejahteraan umat.
4. Pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT
Setiap perintah Allah mesti kita yakini sebagai hal positif, tidak ada satupun perintah Allah yang termaktub dalam Al qur’an adalah negatif dan tidak ada keraguan didalamnya. Mari kita renungkan syari’at Qurban berikut ini :
dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj : 34)
Ayat diatas secara tegas telah mensyari’atkan qurban bagi tiap – tiap individu umat sebagai wujud ketaatan total/ kepatuhan kepada Allah yang telah menciptakannya. Seseorang yang telah mencapai kesadaran total untuk mentaati segala keputusan Allah mealui wahyuNya. Allah itu maha baik maka segala perintahnya bernilai dan pasti berdampak baik, sebagai hamba dan ciptaanNya sudah semestinya menta’ati segala RubbubiyahNya (aturan) yang telah ditetapkan untuk kemaslakhatan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin akan mengimani/ meyakini secara penuh bahwa perintah Allah selalu benar, termasuk qurban juga sebagai bentuk pembenaran dan pembuktian keyakinan tentang Allah dan syariatNya.
Berbagai keindahan dunia akan senantiasa menguji mukmin, baik harta, anak ataupun kemewahan yang menjanjikan kepuasan adalah merupakan sesuatu yang boleh diraih dan memang kebahagiaan adalah obsesi setiap manusia. Namun segala keduniaan tak boleh membutakan kita untuk mengabdi kepadaNya, karena dibalik itu akan menguji kecintaan terhadap Allah SWT. Maksimalitas upaya untuk membuktikan keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT akan mengakselerasi pemahaman dan sikap mukmin untuk mencapai puncak kesadaran berqurban. Karena didalamnya akan menyiratkan semangat yang menggelora untuk merenungi nikmat Allah yang tiada tara yang dibarengi rasa syukur kepada Allah SWT.
Segala sifat dan karakter hewaniah baik yang berbentuk merusak atau pelanggaran terhadap norma – norma yang berlaku akan bisa kita lenyapkan dengan kesadaran untuk mengejawentahkan qurban dalam kehidupan baik secara simbolik maupun secara kontekstual. Sebagai pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang maha baik dan benar.
KESADARAN BERQURBAN
Oleh : Rofiq Abidin
Secara simbolik qurban adalah merupakan penyembelihan hewan ternak (kambing, sapi/kerbau, unta) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Qurban juga merupakan ritual estafeta yang pernah diamalkan nabi Ibrahim AS sebagai perwujudan ketaatan total kepada sang khalik Allah Subhanahu Wata’ala. Keputusan Ibrahim AS untuk melaksanakan syariat Qurban dengan melakukan penyembelihan kepada Ismail anaknya yang kemudian diganti domba oleh Allah adalah keputusan berani yang dilandasi oleh keyakinan dan kepatuhan serta kecintaan kepadaNya. Karena pengamalan syariat qurban tersebut menyiratkan refleksi mendalam yang menghasilkan independensi tafkir dan aqidah hingga mencapai puncak kesadaran berqurban.
Mempersembahkan persembahan kepada Tuhan merupakan keyakinan yang dikenal manusia sejak lama. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradapan manusia yang beragam mengenal persembahan kepada Tuhan, baik berupa penyembelihan hewan maupun manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu tradisi tersebut. Persembahan suci dengan menyembelih manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Muhammad lahir. Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Muththalib Bin Hasyim, kakek Rasululluah, pernah bernadzar jika ia dikaruniai karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih salah satu putranya disisi ka’bah sebagai qurban . ketika putranya telah genap sepuluh dan menginjak baligh, maka jatuhlah undian kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish berusaha melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta.
Kesadaran Mendasar Untuk Berqurban
Bangkitnya kesadaran berqurban akan dimulakan dari rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Allah yang diberikan selama hidupnya. Karena sesungguhnya nikmat Allah SWT tak akan dapat dihitung, mari kita cermati pesan Ilahi dalam surat Al Kautsar 1-3 :
1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
2. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah
3. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus
Setidaknya ada tiga nikmat utama yang mesti kita syukuri, pertama adalah nikmat hidup, kita tidak pernah bercita – cita untuk hidup karena sesungguhnya menghendaki hidup adalah Allah sang maha Pencipta. Kedua nikmat kemerdekaan berfikir, sebagai sesuatu kelebihan dari makhuk apapun yang diciptakan Allah, sehingga dengan akal kita dapat secara merdeka menentukan pilihan jalan hidup yang sekaligus dapat mengetahui resiko logis dari pilihan jalan tersebut. Ketiga, nikmat hidayah iman, menjadi sesuatu yang berharga untuk mengendalikan fikiran dan sikap sehingga dapat menentukan keselamatan hidup baik dunia maupun akhirat. Tiga nikmat utama ini telah menjadi alasan utama bagi manusia untuk mensyukuri nikmat Allah disamping nikmat – nikmat Allah yang lain yang tak bisa dihitung. Perasaan syukur yang telah bersemayam dalam dada, semestinya diekspresikan dalam wujud syukur riil yakni sholat dan berqurban, itulah bentuk syukur nyata yang telah dijelaskan sebagai bentuk perintah. Bersyukurlah kita dengan segala kesempurnaan hidup yang telah kita miliki dengan wujud syukur yang riil diantaranya dengan berqurban untuk kemaslakhatan umat manusia.
Refleksi Kesadaran Bersyukur
Kepekaan muslim terhadap lingkungan sekitar akan melantari kesadaran untuk selalu mensyukuri apa – apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Pelatihan dan pembelajaran sebenarnya telah disediakan dilingkungan kita, baik ketimpangan – ketimpangan adannya gelandangan, pengangguran, saudara sakit yang berkepanjangan dan apapun keadaan kemanusiaan yang lebih sengsara dari kita. Semua yang terjadi telah ditentukan rumusnya oleh Allah yang maha berkehendak. Maka keadaan kita hari ini adalah kehendak Allah yang harus disyukuri walau mungkin ada yang terasa berat kita rasakan, namun janganlah merasa paling sengsara karena akan dapat menciptakan dinding untuk mensyukuri nimat Allah. mari kita renungkan pesan Ilahi berikut ini :
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al – An’am : 44).
Terkadang seseorang diberi peringatan oleh Allah tidak nyambung, maksudnya tidak ada kepekaan bahwa peringatan yang terjadi itu seolah – olah tidak ada korelasinya dengan perbuatan dosanya. Maka orang yang seperti ini justru akan dibukakan pintu – pintu kesenangan, sehingga ketika ia telah merasa sukses, dan girang dengan kesuksesannya lantaran meninggalkan perintah Allah, maka Allah memberikan siksa dengan sekonyong – konyong (hasil akumulasi dosa yang telah diperbuatnya). Maka ketika itu mereka akan terdiam dan putus asa (terpasung, tidak bisa berbuat apa – apa ). Pesan Ilahi ini memberikan hikmah agar kita senantiasa mensyukuri nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kita, sebelum datangnya peringatan Allah yang berwujud tegoran bahkan siksa maka segeralah kita sadar untuk mensyukuri nikmatNya dengan wujud syukur riil, bukan hanya secara verbal semata.
Mencapai Puncak Kesadaran Berqurban
Tingkat kesadaran seseorang untuk berqurban tergantung kepekaan dan empati terhadap lingkungan sekitar. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya qurban. Adapun untuk mencapai puncak kesadaran berqurban sebagaimana yang pernah dipraktekkan Ibrahim AS dan Abdul Muththalib bin Hasyim atau aktion syukur yang lain yang pernah diamalkan untuk kemaslakhatan manusia diperlukan refleksi secara bertahap. Mari kita refleksi jiwa taqwa kita dengan beberapa hal di bawah ini :
1. Melatih Empati dan Kepedulian Terhadap Sesama dan Lingkungan
Pada setiap ketimpangan sosial yang terjadi memberikan ujian kepekaan nurani bagi kita, sejauh mana jangkauan perasaan kita untuk mengulurkan tangan, melakukan sesuatu kebaikan atau hanya bisa ngersulo tanpa tindaan apa – apa. Maka ujilah empati dan kepedulian kita terhadap ketimpangan – ketimpangan sosial yang terjadi didepan kita dengan amal nyata untuk menggugah kesadaran berqorban.
2. Menggugah Jiwa Itsar
Mendahulukan kepentingan orang lain (Jalan Allah) walaupun dirinya sedang membutuhkan adalah merupakan aksentuasi soaial dan pengertian dari itsar. Sikap itsar ini pernah dipraktekkan oleh kaum anshar kepada kaum muhajirin ketika baru saja melakukan hijrah dari Makkah ke Yasrib, mereka memberikan rumahnya dan membagi harta bendanya serta menawarkan diri untuk menjadi saudara. Fenomena sosial yang terjadi memberikan kita kesempatan untuk melatih jiwa itsar kita sedekat apa perasaan kita terhadap kejadian – kejadian alam dan sekitar. Peduli untuk berbagi adalah merupakan praktek qurban secara kontektual.
3. Membunuh Jiwa Kehewanan
Berqorban secara kontekstual dengan membunuh sifat – sifat kehewanan diantaranya:
Hubud dunya (terlalu cinta terhadap kebendaan) egois, berbuat semaunya (melanggar hukum dan norma – norma), takabur, free sex, membunuh sesama (kejahatan kemanusiaan) , serakah dan lain – lain yang menimbulkan kerusakan. Dengan membunuh sifat – sifat kehewanan maka kita akan mudah tersentuh untuk mensyukuri nikmatNya dalam wujud riil yakni pengabdian/ Ibadah sholat sebagai komunikasi langsung dengan Allah dan Berqurban untuk mendekatkan siri kepadaNya dan kesejahteraan umat.
4. Pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT
Setiap perintah Allah mesti kita yakini sebagai hal positif, tidak ada satupun perintah Allah yang termaktub dalam Al qur’an adalah negatif dan tidak ada keraguan didalamnya. Mari kita renungkan syari’at Qurban berikut ini :
dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al Hajj : 34)
Ayat diatas secara tegas telah mensyari’atkan qurban bagi tiap – tiap individu umat sebagai wujud ketaatan total/ kepatuhan kepada Allah yang telah menciptakannya. Seseorang yang telah mencapai kesadaran total untuk mentaati segala keputusan Allah mealui wahyuNya. Allah itu maha baik maka segala perintahnya bernilai dan pasti berdampak baik, sebagai hamba dan ciptaanNya sudah semestinya menta’ati segala RubbubiyahNya (aturan) yang telah ditetapkan untuk kemaslakhatan dan keselamatan baik di dunia dan di akhirat. Seorang mukmin akan mengimani/ meyakini secara penuh bahwa perintah Allah selalu benar, termasuk qurban juga sebagai bentuk pembenaran dan pembuktian keyakinan tentang Allah dan syariatNya.
Berbagai keindahan dunia akan senantiasa menguji mukmin, baik harta, anak ataupun kemewahan yang menjanjikan kepuasan adalah merupakan sesuatu yang boleh diraih dan memang kebahagiaan adalah obsesi setiap manusia. Namun segala keduniaan tak boleh membutakan kita untuk mengabdi kepadaNya, karena dibalik itu akan menguji kecintaan terhadap Allah SWT. Maksimalitas upaya untuk membuktikan keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT akan mengakselerasi pemahaman dan sikap mukmin untuk mencapai puncak kesadaran berqurban. Karena didalamnya akan menyiratkan semangat yang menggelora untuk merenungi nikmat Allah yang tiada tara yang dibarengi rasa syukur kepada Allah SWT.
Segala sifat dan karakter hewaniah baik yang berbentuk merusak atau pelanggaran terhadap norma – norma yang berlaku akan bisa kita lenyapkan dengan kesadaran untuk mengejawentahkan qurban dalam kehidupan baik secara simbolik maupun secara kontekstual. Sebagai pembuktian keyakinan, ketaatan dan kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang maha baik dan benar.
Senin, 24 November 2008
KEIKHLASAN MENJAMIN KEBAHAGIAAN
KEIKHLASAN MENJAMIN KEBAHAGIAAN
Oleh : Rofiq Abidin
Kebahagiaan menjadi titik tuju setiap langkah manusia dalam mengarungi kehidupannya, yang dalam perjalanan tawakalnya tak lepas dari goresan – goresan fakta yang menguji keikhlasannya. Rasa ikhlas dan rasa bahagia sama – sama terletak di dasar hati yang dalam kolerasinya setiap keikhlasan senantiasa membiaskan cahaya kebahagiaan. Manifestasi keikhlasan ialah memurnikan dorongan niat/kehendak untuk mewujudkan suatu tujuan yang akan dicapai, selanjutnya berwujud menjadi nur Ilahiyah yang dapat menscreening jiwa dalam setiap langkah kerja sehingga dapat menjaga kebahagiaan dalam segala suasana bathin.
Banyak yang menilai bahwa sebuah kesuksesan seseorang diukur dari materi/kekayaan yang ia punyai ataupun ketenaran yang diperoleh atau bahkan keturunan. Namun setiap materi, ketenaran dan keturunan terkadang tak selamanya menjamin kebahagiaan, karena letak kebahagiaan sesungguhnya ada di dasar hati yang terekspresi dengan beragam refleksitas bahasa tubuh yang bermacam – macam. Untuk senantiasa menjaga dan mengabadikan kebahagiaan adalah dengan rasa ikhlas menerima keadaan apapun yang terjadi pada diri kita, bukan dalam makna pasrah tanpa langkah atau diam berputus asa, namun ikhlas itu tidak ada resistant (penghambat) dalam hati baik dalam yang berwujud tafkir ataupun sikap, bersih hati benar – benar akan menjamin kebahagiaan karena yang ikhlas tak akan ada godaan – godaan iblis yang telah berkomitmen dengan lantang kepada Allah bahwa seluruh manusia akan digoda, namun satu yang tak akan pernah digoda oleh iblis ialah “orang – orang yang ikhlas” sebagaimana dalam QS Al Hijr ayat 39-40 :
Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan semuanya (39), kecuali hamba – hamba Engkau yang muklis diantara mereka(40)
Keikhlasan yang berwujud dalam rasa syukur, berarti seseorang telah menikmati perasaan ikhlasnya dengan menerima secara lapang dada anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, tidak ada protes kepada Allah tapi terus mensyukuri dan mensyukuri nikmatnya. Keikhlasan dalam menerima ujian, berarti seseorang telah rela apapun yang telah diputuskan Rabb kepadanya, namun senantiasa berdzikir mengefaluasi diri untuk menuju perubahan.
Oleh karena itu sucikanlah jiwa kita selapang – lapangnya dalam keadaan apapun atau dalam ujian apapun maka akan merasakan kebahagiaan dan pasti setiap keikhlasan akan membiaskan cahaya inovasi – inovasi dan kreatifitas – kretifitas brilian yang dapat mengakselerasi tawakal dalam mencari solusi hidup dan kehidupan, sehingga tetap istiqomah dengan prinsip – prinsip hidup Ilahiah yang telah disyahadatkan dan diamalkan.
Oleh : Rofiq Abidin
Kebahagiaan menjadi titik tuju setiap langkah manusia dalam mengarungi kehidupannya, yang dalam perjalanan tawakalnya tak lepas dari goresan – goresan fakta yang menguji keikhlasannya. Rasa ikhlas dan rasa bahagia sama – sama terletak di dasar hati yang dalam kolerasinya setiap keikhlasan senantiasa membiaskan cahaya kebahagiaan. Manifestasi keikhlasan ialah memurnikan dorongan niat/kehendak untuk mewujudkan suatu tujuan yang akan dicapai, selanjutnya berwujud menjadi nur Ilahiyah yang dapat menscreening jiwa dalam setiap langkah kerja sehingga dapat menjaga kebahagiaan dalam segala suasana bathin.
Banyak yang menilai bahwa sebuah kesuksesan seseorang diukur dari materi/kekayaan yang ia punyai ataupun ketenaran yang diperoleh atau bahkan keturunan. Namun setiap materi, ketenaran dan keturunan terkadang tak selamanya menjamin kebahagiaan, karena letak kebahagiaan sesungguhnya ada di dasar hati yang terekspresi dengan beragam refleksitas bahasa tubuh yang bermacam – macam. Untuk senantiasa menjaga dan mengabadikan kebahagiaan adalah dengan rasa ikhlas menerima keadaan apapun yang terjadi pada diri kita, bukan dalam makna pasrah tanpa langkah atau diam berputus asa, namun ikhlas itu tidak ada resistant (penghambat) dalam hati baik dalam yang berwujud tafkir ataupun sikap, bersih hati benar – benar akan menjamin kebahagiaan karena yang ikhlas tak akan ada godaan – godaan iblis yang telah berkomitmen dengan lantang kepada Allah bahwa seluruh manusia akan digoda, namun satu yang tak akan pernah digoda oleh iblis ialah “orang – orang yang ikhlas” sebagaimana dalam QS Al Hijr ayat 39-40 :
Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) dimuka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan semuanya (39), kecuali hamba – hamba Engkau yang muklis diantara mereka(40)
Keikhlasan yang berwujud dalam rasa syukur, berarti seseorang telah menikmati perasaan ikhlasnya dengan menerima secara lapang dada anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, tidak ada protes kepada Allah tapi terus mensyukuri dan mensyukuri nikmatnya. Keikhlasan dalam menerima ujian, berarti seseorang telah rela apapun yang telah diputuskan Rabb kepadanya, namun senantiasa berdzikir mengefaluasi diri untuk menuju perubahan.
Oleh karena itu sucikanlah jiwa kita selapang – lapangnya dalam keadaan apapun atau dalam ujian apapun maka akan merasakan kebahagiaan dan pasti setiap keikhlasan akan membiaskan cahaya inovasi – inovasi dan kreatifitas – kretifitas brilian yang dapat mengakselerasi tawakal dalam mencari solusi hidup dan kehidupan, sehingga tetap istiqomah dengan prinsip – prinsip hidup Ilahiah yang telah disyahadatkan dan diamalkan.
Langganan:
Komentar (Atom)
